Komisaris PLN Ali Masykur Musa (Foto: tangkapan layar TVNU)
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Ali Masykur Musa kembali menjadi perhatian setelah ditetapkan sebagai Komisaris Perusahaan Listrik Negara (PLN). Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Kamis, 13 November 2024.
Ali Masykur Musa bukanlah sosok baru di panggung politik, organisasi kepemudaan, maupun keagamaan di Indonesia. Pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 12 September 1962 ini dikenal luas sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) dan pernah menempati berbagai posisi strategis di organisasi, politik, hingga lembaga negara.
Karier organisasi Ali Masykur dimulai sejak masa mahasiswa. Ia pernah menjabat Ketua Umum Rayon PMII FISIP Universitas Jember (1983-1984), Ketua Cabang PMII Jember (1985-1986), hingga Ketua Umum PB PMII periode 1991-1994.
Selepas itu, ia juga dipercaya memimpin berbagai organisasi, di antaranya Ketua Umum DPP KNPI (1999-2000), pengurus PBNU (2000-2005), dan Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) periode 2012-2024.
Kini, Ali Masykur juga menjabat sebagai Mudir Ali JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah), organisasi tarekat di bawah naungan NU, untuk masa khidmat 2024-2029.
Karier Politik dan Lembaga Negara
Dalam dunia politik, Ali Masykur tercatat sebagai politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dia sempat terpilih menjadi anggota DPR RI selama dua periode, 1999-2004 dan 2004-2009.
Selama di Senayan, ia pernah menjadi Ketua Fraksi PKB DPR RI, Wakil Ketua Komisi IX dan XI, serta anggota Badan Legislasi. Pada 2008, ia bahkan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PKB versi Gus Dur dalam Muktamar Luar Biasa di Parung, Bogor. Namanya juga sempat digadang sebagai calon wakil presiden mendampingi Sutiyoso.
Selepas dari parlemen, ia dipercaya sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI periode 2009-2014. Dalam kapasitas itu, ia ikut mengawasi jalannya pengelolaan keuangan negara.
Di panggung politik nasional, Ali Masykur juga tercatat sebagai Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024.
Latar Belakang dan Pendidikan
Ali Masykur Musa tumbuh di keluarga religius sebagai anak keempat dari lima bersaudara pasangan KH Musa Asy’ari dan Hj Muthmainnah. Sejak muda, ia menekuni dunia akademik dan mengawali karier sebagai dosen di FISIP Universitas Jember pada 1987-1999.
Ia menempuh pendidikan tinggi di berbagai kampus. Gelar sarjana Ilmu Hubungan Internasional ia peroleh dari Universitas Jember (1986), lalu melanjutkan magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia (1998) dengan kajian pemikiran politik NU.
Gelar doktor ia raih dari Universitas Negeri Jakarta (2007) dalam bidang Manajemen Pendidikan. Selain itu, ia juga menempuh studi hukum di Universitas Sahid (2010) serta magister Hukum Bisnis di Universitas Gadjah Mada (2009).
Selain berkiprah di politik dan organisasi, Ali Masykur dikenal produktif menulis. Beberapa karya tulisnya antara lain Menjadi Kaum Muda (1996), Sistem Pemilu: Proporsional Terbuka Setengah Hati (2004), Politik Anggaran Pendidikan Pasca Perubahan UUD 1945 (2009), serta NU dan Moralitas Politik Bangsa (2010).
Atas dedikasi dan kiprahnya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Nararya pada 13 Oktober 2014.