Produk kosmetik dan skincare yang mengandung bahan berbahaya masih marak beredar di tengah masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu memahami dampak kosmetik dan skincare berbahan berbahaya. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Produk kosmetik dan skincare yang mengandung bahan berbahaya masih marak beredar di tengah masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu memahami dampak kosmetik dan skincare berbahaya bagi kesehatan dan menghindarinya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) setiap tahunnya mengamankan puluhan produk kosmetik dan skincare yang terbukti mengandung bahan berbahaya dan dilarang. BPOM pada tahun ini berhasil mengungkap 23 produk yang mengandung merkuri, asam retinoat, hidrokuinon, pewarna merah K3 dan K10, serta pewarna Acid Orange 7.
Bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik dan skincare tentunya akan menimbulkan dampak buruk bagi para pengguna.
Melihat permasalahan ini, Guru Besar dan Pakar Kesehatan Kulit FKKMK UGM Prof Hardyanto Soebono mengatakan, peredaran kosmetik harus melalui perizinan, dan jika telah memiliki basis bukti perizinan barulah diperbolehkan untuk diedarkan.
“Salah satu tugas BPOM adalah mengawasi obat dan kosmetik yang beredar. Di lapangan jika menemukan kosmetik mengandung bahan-bahan yang berbahaya, mereka harus melarang,” ujar Prof Hardyanto dalam keterangannya, dikutip Sabtu (22/11/2025).
Hardyanto menjelaskan, jika pemakaian kosmetik berbahaya diteruskan maka dapat merusak kesehatan tubuh. Misalnya, pemakaian merkuri yang kerap digunakan dalam produk pemutih kulit, memiliki efek merusak ginjal.
Begitu juga penggunaan hidrokuinon sebagai produk pemutih yang juga berdampak buruk bagi pengguna. Bahkan, jika penggunaan dilakukan secara berlebihan akan mengakibatkan kulit rusak dan terbakar.
“Dengan pemakaian dosis terlalu tinggi tentu bisa membuat kulit terbakar, dan jika pemakaian terlalu lama menjadikan kulit menjadi hitam. Timbul flek-flek hitam dari timbunan hidrokuinon yang ada di bawah kulit,” jelasnya.
Hardyanto mengungkapkan terdapat gejala awal atau tanda-tanda yang bisa ditemui pada orang yang memakai produk-produk kecantikan berbahan berbahaya.
Produk kecantikan yang mengandung hidrokuinon misalnya, akan memberi efek putih secara instan namun kemudian akan timbul efek hitam pada kulit.
“Penggunaan hidrokuinon mungkin pertama bagus untuk pemutih kulit. Tapi pemakaian lebih dari dua bulan maka justru kulit akan bertambah hitam. Ini dikarenakan timbunan dari hidrokuinon di bawah kulit,” terangnya.
Hardyanto tak habis pikir, meski jelas-jelas berdampak buruk bagi kulit namun masih saja banyak perusahaan kecantikan menggunakan bahan-bahan berbahaya untuk mengeruk keuntungan.
Oleh karena itu, ia pun memberikan sejumlah tips guna menghindari produk-produk kosmetika yang mengandung bahan berbahaya. Pertama, konsumen melakukan pengamatan atau melihat tanda izin dari BPOM pada kemasan produk.
Kedua, berkonsultasi dengan dokter kulit terkait permasalahan kondisi kulit. Ketiga, membuka wawasan atau memperluas edukasi terkait penggunaan kosmetik.
“Edukasi ini penting untuk menghindari efek samping jangka panjang dari pemakaian kosmetik. Karena jumlah produk kosmetik sekarang ribuan,” jelasnya.
Hardyanto berharap masyarakat paham betul terkait penggunaan kosmetik. Tidak sedikit dari anak muda saat ini mudah terpengaruh iklan produk kecantikan di media sosial tanpa mendalami isi kandungan produk.
Produk kecantikan yang tepat, kata dia, adalah produk yang sesuai dengan jenis kulitnya, dan yang terpenting orang mau memperhatikan atau mengetahui jenis kulitnya sendiri. Masyarakat harus paham soal ini, apakah kulitnya tergolong kering, berminyak, atau kombinasi.
“Jika berminyak tentunya menghindari kosmetik yang mengandung minyak. Kulit kering menggunakan pelembap, dan perlu juga memakai sunscreen secukupnya di siang hari. Tidak perlu berlebih-lebihan, secukupnya tergantung dari jenis kulit kita apa,” imbuhnya.