Minuman Yakult mangga didalamnya mengandung bakteri baik untuk kesehatan pencernaan dan Vitamin D bagi tubuh. Foto ; dok istimewa
JAKARTA (ERAKINI) - Pencernaan yang sehat memungkinkan tubuh menyerap nutrisi secara optimal. Nutrisi yang masuk akan dicerna dan dialirkan ke usus kecil untuk diubah menjadi energi. Proses ini turut berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh.
Di dalam sistem pencernaan, terutama di usus kecil dan besar, hidup berbagai bakteri ada yang baik, ada pula yang merugikan. Bakteri baik sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh dan mendukung fungsi organ secara menyeluruh.
Hal ini membuat Yakult meluncurkan varian baru: Yakult Rasa Mangga. Inovasi ini memadukan rasa mangga tropis yang disukai masyarakat Indonesia dengan manfaat bakteri baik Lactobacillus casei Shirota strain (LcS), yang jumlahnya lebih dari 6,5 miliar dalam setiap botol.
Yakult Mangga dibuat dari susu bubuk skim sebagai media hidup bagi bakteri baik, ditambah rasa manis alami dan kandungan vitamin D. Tambahan vitamin D ini sangat penting, terutama bagi mereka yang jarang terpapar sinar matahari langsung, seperti masyarakat urban.
"Sejak berdiri tahun 1991, PT Yakult Indonesia Persada terus berupaya mendorong lebih banyak masyarakat untuk mengonsumsi produk Yakult. Yakult Rasa Mangga dihadirkan untuk meredakan gangguan pencernaan sekaligus sebagai tambahan vitamin D bagi tubuh," ujar Hiroshi Kawaguchi, Presiden Direktur PT Yakult Indonesia Persada, pada Jumat (23/5/2025) di Gedung Antam, Jakarta.
Menurut Dr. dr. Indra Wijaya, M.Kes, SpPD-KEMD, FINASIM, FACP dalam acara yang sama menjelaskan, jumlah mikrobiota dalam tubuh manusia sangat besar, bahkan melebihi jumlah sel tubuh. Mikrobiota paling banyak ditemukan di usus besar. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh pola makan, gaya hidup, serta usia.
"Usus merupakan pusat dari banyak aktivitas mikrobiota, dan jika usus kita sehat, maka tubuh secara keseluruhan pun cenderung sehat. Sebaliknya, usus yang tidak sehat dapat menjadi sumber berbagai penyakit," katanya.
"Mikrobiota mulai tumbuh sejak kita masih dalam kandungan, meningkat seiring pertumbuhan, dan menurun saat memasuki usia lanjut. Perlu diketahui, setiap bagian dari saluran pencernaan memiliki tingkat keasaman (pH) yang berbeda, yang memengaruhi jenis dan keberagaman mikrobiota di dalamnya, terbanyak tetap di usus besar," tambahnya lagi.
dr. Indra Wijaya menambahkan, ciri usus yang sehat bisa dilihat dari pola makan. Mengonsumsi sayur dan buah yang kaya serat membantu menjaga kesehatan usus. Asupan probiotik dari makanan atau minuman juga penting karena memiliki efek anti-inflamasi dan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota.
Sebaliknya, pola makan tinggi protein hewani, gula, lemak, serta konsumsi obat-obatan jangka panjang dapat merusak usus dan memicu masalah seperti diare berkepanjangan, resistensi insulin, hingga gangguan fungsi kognitif.
"Peran probiotik tidak hanya membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam tubuh, tetapi juga meningkatkan sistem imun. Sumber probiotik dapat berasal dari yogurt, buttermilk, susu, dan susu pasteurisasi, selama mengandung bakteri seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium,’’ jelasnya.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ni Putu Desy Aryantini, PhD, selaku PR Science - PT Yakult Indonesia Persada menjelaskan, Yakult selalu menghasilkan produk yang aman dengan mutu terbaik.
Tak hanya itu, Desy juga menyampaikan manfaat bakteri baik Lactobacillus casei Shirota strain (LcS). Di dalam sistem pencernaan, terdapat triliunan mikroorganisme, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan.
Jumlahnya sangat besar, bahkan lebih dari 100 triliun, melebihi jumlah sel tubuh kita sendiri. Ketidakseimbangan antara mikroorganisme baik dan jahat ini bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.