Ilustrasi – Alasan mengapa udara terasa lebih dingin saat musim kemarau. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Banyak masyarakat mengira musim kemarau identik dengan cuaca panas sepanjang hari. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah daerah di Indonesia justru merasakan udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa suhu terasa lebih rendah saat hujan jarang turun?
Fenomena tersebut sebenarnya merupakan kondisi alamiah yang lazim terjadi setiap musim kemarau. Meskipun terik matahari terasa menyengat pada siang hari, suhu udara dapat turun cukup drastis ketika malam dan menjelang pagi. Perbedaan suhu yang kontras ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang khas selama periode kemarau.
Melansir laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dijelaskan bahwa udaradingin yang muncul pada musim kemarau dikenal dengan istilah "bediding", khususnya di wilayah Pulau Jawa. Fenomena ini bukanlah kejadian luar biasa, melainkan bagian dari proses fisik atmosfer yang berlangsung secara alami ketika curah hujan menurun dan langit lebih sering cerah tanpa tutupan awan.
Saat musim kemarau berlangsung, jumlah awan di atmosfer cenderung berkurang karena hujan jarang terjadi. Akibatnya, panas yang diterima permukaan bumi dari sinar matahari pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang ketika malam tiba.
Di sisi lain, rendahnya curah hujan membuat kadar uap air di udara ikut menurun. Padahal, uap air dan awan berperan sebagai "selimut alami" yang membantu menahan panas di dekat permukaan bumi.
Ketika langit cerah dan kandungan uap air minim, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat lolos ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi bahkan ke luar angkasa. Dampaknya, suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat sehingga malam dan pagi hari terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.
Fenomena ini banyak terjadi di wilayah Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa hingga kawasan utara Nusantara. Di daerah-daerah tersebut, udara pagi dapat terasa dingin, tetapi suhu kembali meningkat tajam saat siang hari.
Kondisi tersebut disebabkan oleh minimnya awan yang menghalangi sinar matahari. Ketika langit cerah, radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan sehingga suhu udara meningkat lebih cepat pada siang hari.
Akibatnya, masyarakat merasakan perubahan suhu yang cukup ekstrem dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, yakni dingin saat pagi dan malam, tetapi panas ketika siang.
Sementara itu, wilayah Indonesia bagian selatan seperti Sumatera Selatan, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kondisi yang sedikit berbeda.
Pada periode Juli hingga Agustus, kawasan tersebut dipengaruhi oleh angin timuran atau Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan lebih dingin. Saat ini Australia sedang memasuki puncak musim dingin sehingga sebagian udaradingin dari benua tersebut bergerak menuju Indonesia.
Aliran udara tersebut membuat suhu di sejumlah wilayah selatan Indonesia terasa lebih rendah, bahkan pada siang hari sekalipun. Dalam kondisi tertentu, pengaruh udaradingin dari Australia lebih dominan dibandingkan efek pemanasan akibat sinar matahari yang bersinar terang sepanjang hari.
Sebagian orang mengaitkan suhu dingin saat ini dengan posisi Bumi yang sedang berada pada titik terjauh dari Matahari atau dikenal sebagai aphelion. Namun, para ahli menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap suhu udara yang dirasakan manusia di permukaan bumi.
Perubahan suhu harian yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, kelembapan udara, tutupan awan, serta pola angin musiman dibandingkan jarak Bumi terhadap Matahari.