Jajaran Komisaris dan Direksi PT Prodia Widyahusada Tbk saat perayaan HUT ke-5 Prodia Genomics yang mengusung tema Celebrating 5 Years of Genomic Brilliance, di Jakarta, Sabtu (17/2/2024). Foto: Erakini/Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Faktor usia dan makanan tidak mutlak menjadi pemicu seseorang terkena penyakit kompleks. Banyak kasus usia muda sudah terserang penyakit kompleks, seperti stroke.
Hal ini dikarenakan karakteristik DNA manusia sangat kompleks dan beragam, yang dapat memengaruhi perbedaan respons tubuh dan metabolisme setiap individu.
Penyakit kompleks merupakan kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Sebagian besar penyakit neurologi merupakan penyakit kompleks, seperti stroke, parkinson, dan alzheimer (pikun). Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan melakukan pemeriksaan genomik atau genetik untuk mencegah penyakit kompleks tersebut.
Business and Marketing Director Prodia Dr Indriyanti Rafi Sukmawati mengatakan, pemeriksaan atau diagnostik berbasis genomik kini menjadi trend di Indonesia dalam menjaga kesehatan. Terlebih sejak pandemi Covid-19, awareness atau kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan meningkat pesat.
"Tren pemeriksaan genomik meningkat pesat, terutama setelah pandemi. Pada saat pandemi awareness kesehatan masyarakat meningkat. Keinginantahuan masyarakat cukup besar untuk mengendalikan penyakitnya, atau mengendalikan jangan sampai terkena penyakit," ujar Indriyanti di sela-sela perayaan 5 tahun kehadiran Prodia Genomics di Indonesia, Sabtu (17/2/2024).
Perayaan HUT ke-5 Prodia Genomics ini mengusung tema “Celebrating 5 Years of Genomic Brilliance”. Acara ini dihadiri puluhan dokter dari berbagai latar belakang. Bertempat di Ballroom Hotel JW Marriott Jakarta, acara ini turut dihadiri Founder dan Komisaris Utama PT Prodia Widyahusada Tbk
Andi Wijaya, serta jajaran direksi dan komisaris Prodia.
Indriyanti melanjutkan, setiap tahun pemeriksaan genomik di Prodia Genomics menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Pertumbuhan positif itu berkat dukungan dokter-dokter yang semakin banyak memanfaatkan pemeriksaan genomik untuk menangani pasien.
Bahkan, kata dia, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan kini terus terus mendorong keberadaan lab-lab pemeriksaan genomik di Rumah Sakit Pendidikan.
"Pemerintah pun sudah berfokus pada pendekatan genomik. Jadi, sebaiknya masyarakat melakukan pemeriksaan geomik pada usia anak atau remaja. Pemeriksaan genomik hanya cukup satu kali seumur hidup," bebernnya.
Indriyanti menjelaskan, PT Prodia Widyahusada, Tbk telah mengembangkan pemeriksaan genomic untuk predictive preventive sejak Oktober 2018 dan terus berinovasi untuk menyediakan berbagai jenis pemeriksaan genomics terkini.
Sebagai pioner, Prodia pertama kali meluncurkan pemeriksaan predictive preventive Prodia Genomics di Indonesia pada tahun 2018, yaitu CArisk. Metode ini dapat membantu seseorang mengetahui risiko terhadap 13 jenis kanker. Lalu pada tahun 2019 diluncurkan pemeriksaan DIArisk guna melihat risiko terhadap diabetes, dan TENSrisk untuk melihat risiko terhadap hipertensi, VASCULArisk untuk mengetahui risiko penyakit jantung.
Kemudian, Prodia Nutrigenomics guna mengetahui pola hidup yang cocok berdasarkan profil genomik, dan IMMUNErisk guna mengetahui risiko terhadap penyakit autoimun. Lalu pada tahun 2020 diluncurkan Prodia Bone, Muscle, and Joint Genomics guna mengetahui risiko terhadap beberapa penyakit terkait tulang, otot dan sendi, Prodia Skin & Hair Genomics guna mengetahui kesehatan kulit dan rambut berdasarkan genomik dan Prodia Wellness Genomics.
Prodia pada tahun 2021 meluncurkan NEUROgenomics untuk mengetahui risiko terhadap penyakit syaraf, EYEgenomics guna mengetahui risiko terhadap gangguan penglihatan, dan CardioPGx guna mengetahui kecocokan obat berdasarkan genomik.
Pada tahun 2022 diluncurkan Prodia Sport Genomics dan pada tahun ini akan diluncurkan Sleep and Stress Genomics untuk membantu seseorang mengetahui pola tidur yang paling cocok, sehingga produktivitas meningkat serta mengetahui risiko kerentanan stres dan cara pengelolaan yang tepat.
"Kehadiran Prodia Genomics tentu berkontribusi untuk membangun kesadaran pentingnya tindakan preventif dan prediktif bagi masyarakat agar taraf kesehatan dapat semakin meningkat dan lebih berkualitas. Ditambah lagi, dengan keunggulan data genom yang bersumber langsung dari masyarakat Indonesia sehingga hasil pemeriksaan genomik yang dilakukan di Prodia akan lebih akurat,” ujar Indriyanti.
Dalam kesempatan yang sama, Product & Scientific Manager Prodia Trilis Yulianti mengatakan, Prodia Genomics menjadi bukti konkret pihaknya dalam menghadirkan layanan kesehatan yang berfokus pada aspek personalisasi. Sejalan dengan tagline Prodia Genomics, yaitu “Everyone is unique”, Prodia memahami bahwa karakteristik DNA manusia sangat kompleks dan beragam, yang mempengaruhi perbedaan respon tubuh dan metabolisme tiap individu. "Sehingga, kami hadir untuk menjawab kebutuhan pasien dengan menghadirkan layanan-layanan genomik terbaru,” tandasnya.
Ia menyebutkan, pemeriksaan genomik melibatkan analisis dan pemahaman informasi genetik yang terdapat dalam genom manusia. Proses ini melibatkan pengambilan sampel materi genetik seperti darah yang mengandung DNA. Pemeriksaan genomik dilakuakn di dalam negeri.
Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam konsulen penyakit endokrin-metabolik-diabetes Prof Dr dr Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, dalam paparannya mengatakan, paradigma kesehatan saat ini sudah berubah. Jika dulu seseorang baru dapat mengetahui penyakitnya setelah tindakan medis, tapi sekarang saat sehat pun sudah dapat mencegahnya.
"Paradigma kesehatan sudah berubah, sudah bisa diprediksi sejak dini untuk melakukan pencegahan," katanya.
Menurut dia, faktor genetik atau DNA sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan seseorang. Karena itu, tidak perlu heran jika di usia muda sudah mengalami berbagai penyakit. Hal itu bukan semata karena faktor usia atau makanan. Bisa jadi sama-sama mengonsumsi jenis makanan yang sama, tetapi tidak otomatis mengalami penyakit serupa.
Hal senada diungkapkan Dr Valentinus. Kata dia, kerentanan genetik yang berbeda membuat seorang berisiko terkena penyakit kompleks. Oleh karena itu, ia menyarankan dokter-dokter agar lebih berhati-hari dalam menangani pasien. Sebab, bisa jadi penyakitnya sama tetapi pendekatan penangannaya berbeda, termasuk dalam hal obat medis.
"Variasi genetik menyebabakan target obatnya beda. Sehingga obat yang sama dengan penyakit yang sama belum tentu hasilnya sama. Bukan kerena obatnyanya salah tapi kerentanan genetiknya yang beda," tandasnya.
Oleh karenanya, keduanya sepakat pentingnya melakukan pemeriksaan atau tes genetik sebagai upaya pencegahan dini dan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan guna mencegah timbulnya penyakit kompleks.