Nurul Hikmah (25) berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00 dari Program Studi Magister Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM. Foto: UGM
YOGYAKARTA, (ERAKINI) - Nurul Hikmah (25) berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00 dari Program Studi Magister Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia merupakan salah satu dari 991 lulusan yang diwisuda baru-baru ini.
Menjadi peraih IPK tertinggi, tidak serta merta membuat Nurul senang, namun malah khawatir apakah ilmunya dapat diterapkan untuk pengembangan dunia farmasi.
“Saya merasa deg-degan karena gelar Master of Clinical Pharmacy dan IPK tertinggi ini membuat saya takut apakah ilmu saya bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujar Nurul, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (1/8/2024).
Untuk mencapai IPK sempurna, Nurul membagikan beberapa kiat yang ia terapkan selama masa studinya. Ia menekankan pentingnya metode belajar yang tepat dan pemahaman terhadap gaya mengajar dosen.
“Fokuslah pada yang kamu kerjakan saat ini, jangan terfokus pada pencapaian orang lain,” pesannya kepada mahasiswa lainnya.
Selain itu, Nurul juga mengatur waktu dengan baik, rajin membaca referensi, dan membentuk kelompok belajar dengan rekan-rekannya yang telah bekerja. Aktivitas ini membantu dirinya dalam mengelola waktu dan mempersiapkan diri dengan baik untuk tugas-tugas akademis.
Selama menempuh pendidikan, Nurul juga aktif terlibat dalam penelitian disertasi dan menjadi asisten praktikum. Meskipun terkadang kewalahan dengan tanggung jawab tersebut, ia tetap termotivasi untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. “Tantangan tersebut justru membuat saya belajar memanajemen waktu dengan efektif,” tambahnya.
Untuk tesisnya, Nurul melakukan riset tentang “Cost Effectiveness Analysis Antibiotik Empiris Levofloksasin dibandingkan Kombinasi Seftriakson/Azitromisin pada Pasien Community Acquired Pneumonia Rawat Inap di RSA UGM.” Penelitian ini dilakukan sebagai respon terhadap tingginya angka kematian akibat pneumonia, yang menjadi penyebab kematian terbesar pada anak di bawah lima tahun.
Dalam penelitiannya, Nurul membandingkan efektivitas kedua jenis antibiotik tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun kombinasi seftriakson/azitromisin membutuhkan biaya tambahan dan durasi penggunaan lebih lama, tidak ada perbedaan signifikan dalam luaran klinis dibandingkan levofloksasin tunggal.
“Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengobatan pneumonia, sehingga biaya yang ditanggung pasien dan rumah sakit dapat diminimalisir,” jelasnya.
Menyinggung rencana karirnya setelah lulus S2, Nurul, yang lahir di Banjarmasin pada 23 November 1998, mengungkapkan keinginannya untuk menjadi dosen di bidang farmasi klinik. Kecintaannya pada bidang ini memotivasi dirinya untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan di luar perkuliahan.