Tidak ada hasil memuaskan tanpa usaha terbaik. Itulah yang dicapai Amadea Azzahra Sonia Pertiwi, lulusan terbaik Periode Wisuda Profesi Dokter ke-47 Fakultas Kedokteran UIN Jakarta. Foto: UIN Jakarta
JAKARTA, (ERAKINI) - Masuk kedokteran, termasuk salah satu prodi tersulit, terlebih bisa lulus dengan predikat cumlaude, tentu menjadi kebanggaan. Tapi tidak ada hasil memuaskan tanpa usaha terbaik.
Itulah yang dicapai Amadea Azzahra Sonia Pertiwi, salah seorang lulusan yang diambil sumpahnya sebagai dokter pada Periode Wisuda Profesi Dokter ke-47 Fakultas , , baru-baru ini.
Ia pantas senyum sumringah walaupun mata berkaca-kaca penuh saat diumumkan sebagai pemilik IPK tertinggi di momen sakral itu. Ya, Amadea menyandang gelar sebagai lulusan peraih IPK tertinggi, yakni 3,70.
Perempuan asli Ponorogo, Jawa Timur, itu mengaku selama kuliah aktif mengikuti organisasi ataupun event di luar kampus, mulai dari relawan hingga menulis jurnal-jurnal isu kesehatan. Amadea pun sangat bersyukur bisa menyandang mahasiswa dengan IPK tertinggi.
"Tentunya sangat bahagia dan bersyukur karena yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh selama ini membuahkan hasil yang indah. Karena hal ini dapat menjadi hadiah yang dapat saya berikan orang-orang yang dengan tulus mendoakan dan mendukung saya selama ini. Bisa menyandang gelar mahasiswa IPK tertinggi tidak menyangka, karena saya tidak menargetkan hal ini sebelumnya," kata Amadea, dikutip dari laman UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (1/2/2024).
Amadea mengatakan tidak pernah membatasi diri mendapatkan pengetahuan. Selama ia penasaran, akan terus mencari jawaban dari rasa penasarannya hingga dapat. Walaupun harus merelakan jam tidur hanya 3 atau 4 jam, hingga menunda momen penting keluarga dan teman-teman. Bahkan ia rutin belajar 14 jam dalam sehari jelang ujian nasional dokter.
"Belajar 14 jam dalam sehari dalam mempersiapkan ujian nasional dokter. Banyak sekali yang terlewatkan sebagai manusia dalam menjalani pendidikan dokter. Namun, dengan niat untuk selalu memberikan yang terbaik, maka Allah yang akan memberikan balasannya tersendiri," bebernya.
Semasa kuliah, Amadea aktif dalam mengikuti organisasi ataupun event, mulai dari kerja sama antaruniversitas, lembaga-lembaga kesehatan, maupun menulis jurnal internasional isu kesehatan mental. Hal ini membuktikan bahwa aktif dalam organisasi tidak menghalangi mahasiswa untuk mencapai IPK tinggi.
"Semasa S1, saya mengikuti organisasi CIMSA divisi SCOPH yang fokus pada kegiatan Public Health. Mengangkat isu-isi non communicable disease, seperti masalah mental, gizi, rokok, diabetes dan lain-lain. Kemudian terjun langsung di masyarakat, bekerja sama dengan lembaga-lembaga seperti UNICEF Indonesia dan sebagainya," jelas Amadea.
Bagi Amadea, mendapatkan ilmu tidak terbatas pada ruang dan waktu. Ia berharap mahasiswa lainnya memiliki rasa penasaran, haus ilmu serta melakukan yang terbaik adalah kunci. Maka yakinlah Allah akan memberikan hasil yang terbaik.
"Ilmu tidak memiliki batas ruang dan waktu. Bagaimana kita haus akan ilmu, dan berusaha untuk terus memenuhi kebutuhan akan ilmu kita masing-masing. Dengan melakukan yang terbaik, maka Allah sendiri yang akan memberikan karunia-Nya," pungkasnya.