Ilustrasi - Memberikan gadget kepada anak usia 0-2 tahun bisa menyebabkan si anak mengalami speech delay atau keterlambatan berbicara. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) – Tak sedikit orang tua memutuskan untuk memberikan gadget kepada anak balita supaya tidak rewel atau si anak bisa ditinggal melakukan aktivitas lainnya. Ini menjadi problem yang sulit untuk dihindari bagi para ibu di rumah. Kenapa? Karena, anak cenderung lebih mudah dikondisikan dengan gadget ketimbang dengan solusi lainnya.
Namun, apakah hal tersebut akan berefek pada anak? Jawabannya adalah pasti ada efeknya. Lebih banyak waktu menatap layar atau pada anak di usia 0-2 tahun, maka lebih besar potensi anak akan mengalami
Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2024, terdapat 5-8 persen anak prasekolah yang mengalami speech delay.
Menurut Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prambanan Jawa Tengah Raras Indah Fitriana, anak usia 0-2 tahun tidak dianjurkan untuk diberikan screen time. “Karena di usia 0-2 tahun, kemampuan berpikir anak baru bisa terasah dari koordinasi sensorik motoriknya," jelas Raras Indah Fitriana saat dihubungi Erakini, Senin (24/2/2025).
Pada usia 0-2 tahun, lanjut Raras, anak baru bisa belajar mengenal dunia dari apa yang dilihatnya, didengarnya, disentuhnya atau dirasakan secara langsung. Menurutnya, pada tahap tersebut, perkembangan bahasa anak juga sedang pesat-pesatnya.
Raras yang juga lulusan Magister Psikologi UII Yogyakarta itu menyebut bahwa jika seorang anak lebih banyak mengenal dunia hanya dari paparan gadget seperti televisi, smartphone, tablet, laptop dan media elektronik maka yang terjadi adalah otak anak menjadi tidak terasah untuk mempelajari bahasa baru atau membangun jalur komunikasi.
“Nah, ini lah awal titik mula keterlambatan bahasa dan bicara atau speech delay pada anak mulai terjadi. Anak jadi tidak bisa merespons aktif pembicaraan orang lain karena selama ini hanya berkomunikasi satu arah dari paparan media elektronik,” jelas Raras.
Sementara itu, sebagaimana dilansir dari Health University of Utah, sebuah studi dalam Journal of American Medical Association Pediatrics Edition melaporkan bahwa lebih banyak screen time pada anak usia 1 tahun dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan dalam komunikasi dan pemecahan masalah pada usia 2 hingga 4 tahun. Semakin banyak screen time pada balita, semakin besar potensi keterlambatan perkembangannya.
Keterlambatan tersebut khususnya terdapat pada keterampilan motorik halus serta keterampilan personal dan sosial. Hal ini juga berkorelasi dengan keterlambatan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya ada respons dosis dalam keterlambatan, yang berarti semakin sering balita terpapar waktu di depan layar, semakin besar kemungkinan mereka mengalami keterlambatan perkembangan.
Berapa batas durasi screen time yang direkomendasikan untuk balita?
Pada dasarnya, durasi screen time untuk balita yaitu lebih sedikit lebih baik. Para peneliti mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Academy of Pediatrics yang merekomendasikan satu jam per hari waktu menatap layar atau screen time untuk anak-anak berusia 2 hingga 5 tahun.
Membatasi waktu menatap layar terutama untuk mendorong anak-anak agar melakukan lebih banyak aktivitas fisik dan interaksi sosial selama tahun-tahun perkembangan kritis dibandingkan hanya duduk di depan layar.
American Academy of Pediatrics merekomendasikan tidak ada screen time sebelum usia 18 bulan. Meskipun itu adalah rekomendasinya, banyak orang tua di mana pun pasti mengakui bahwa hal itu sulit dilakukan.
Bermain secara aktif sangat penting bagi balita. Anak-anak yang punya screen time lebih lama, tampaknya mengalami lebih banyak keterlambatan di lebih banyak area. Satu-satunya area yang tidak terpengaruh adalah keterampilan motorik kasar. Namun semua bidang lainnya berpotensi tertunda.
“Saya tahu ini mencerminkan apa yang sering saya lihat di klinik. Saya akan berbicara dengan orang tua tentang keterlambatan perkembangan ketika saya melakukan pemutaran film, dan jika anak mulai merengek, orang tua akan mengeluarkan ponselnya dan memutar video. Saya pernah melihat hal ini terjadi pada anak-anak berusia 9 bulan ketika anak tersebut hanya duduk diam dan asyik dengan apa pun yang ada di layar,“ ujar peneliti tersebut.
Balita dan anak prasekolah bagaikan spons kecil. Mereka perlu mendapat kesempatan berkomunikasi, belajar keterampilan berbahasa, dan mempelajari keterampilan motorik halus dengan menyusun mainan dan mewarnai.
“Dan jika mereka hanya diberi layar untuk ditonton, kesempatan bagi anak-anak untuk mempelajari keterampilan ini selama masa pertumbuhannya akan hilang. Intinya adalah orang tua perlu memperhatikan hal ini ketika mereka mencari cara untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka. Mereka perlu hadir bersama anak-anaknya dan memberi mereka pengalaman, bukan sekedar layar,” tegas peneliti tersebut.