JAPFA For Kids telah menjalankan program telor setiap hari kepada anak dengan status malagizi selama 6 bulan. Foto: Dok JAPFA/antaranews
JAKARTA (ERAKINI) – Stunting di Indonesia tetap menjadi perhatian khusus bagi pemerintah sekaligus perusahaan. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. drg. Drg. Sandra Fikawati, MPH dari Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia kepada Media di Jakarta, dalam acara Media Gathering 18 Tahun Japfa For Kids.
Ditambahkan Prof Sandra bahwa fenomena yang terjadi di Indonesia adalah banyak anak mengonsumsi makanan yang dominan karbohidrat, seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori, tetapi rendah protein.
‘’Hal ini terjadi karena beberapa faktor seperti keterbatasan ekonomi keluarga, harga sumber protein hewani yang dianggap mahal, kurangnya edukasi gizi dan distribusi pangan bergizi yang belum merata,’’ jelasnya.
Menurut survey status gizi Indonesia, prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 (SSGI) menjadi 19,8% pada tahun 2024. Beberapa provinsi dengan angka stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT): 37% , Sulawesi Barat: 35,4%, dan Papua Barat Daya: 30,5%
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Hal ini tidak selalu berarti anak kelaparan, tetapi dapat terjadi ketika makanan yang dikonsumsi cukup banyak namun miskin zat gizi penting, terutama protein dan mikronutrien.
Menurut Prof Sandra, kekurangan protein hewani memiliki kaitan erat dengan masalah stunting ini. Protein hewani mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap dibanding sebagian besar protein nabati, sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak anak.
Dia juga mengingatkan hati hati dampak kekurangan protein hewani pada anak yakni :
Stunting merupakan dampak jangka panjang dari kekurangan gizi kronis. Kondisi ini bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan organ dan fungsi tubuh.
Penurunan perkembangan otak
Protein hewani mengandung zat penting seperti zat besi, vitamin B12, zinc, dan omega-3 yang mendukung perkembangan saraf dan kecerdasan. Kekurangan dapat menyebabkan daya ingat menurun, kemampuan belajar terganggu, konsentrasi rendah. Di beberapa daerah, konsumsi protein hewani anak masih jauh di bawah kebutuhan harian. Padahal masa balita dan usia dini merupakan periode penting pembentukan jaringan tubuh dan perkembangan otak.
Daya tahan tubuh lemah
Protein diperlukan untuk membentuk antibodi dan sistem imun. Anak yang kekurangan protein lebih mudah terkena infeksi, diare, dan penyakit lainnya.
Dampak jangka panjang
Saat dewasa, anak yang mengalami malnutrisi berisiko memiliki: tingkat produktivitas kerja lebih rendah, pendapatan lebih kecil, serta risiko penyakit metabolik lebih tinggi.
‘’Indonesia memiliki sumber protein hewani yang cukup beragam seperti ikan laut, telur, ayam, dan susu. Namun tantangan utamanya adalah akses, daya beli, serta kebiasaan konsumsi masyarakat kualitas gizi makanan anak,’’ papar Prof Sandra.
Dengan kondisi tersebut membuat PT JAPFA Comfeed Indonesia, Tbk terus menjalankan JAPFA For Kids upaya membantu menekan kasus stunting di Indonesia.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti mengutarakan bahwa program Japfa For Kids sebagai wujud nyata perusahaan dalam memperbaiki asupan gizi untuk anak-anak diantaraya di Bintan dan Lampung Selatan yang menjakau 15 sekolah dengan sasaran 2.051 siswa dan 165 guru.
Kegiatan yang dilakukan JAPFA for Kids meliputi edukasi gizi, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pendampingan bagi sekolah dan guru.
Strategi program JAPFA For Kids, urai Retno memberikan asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama 6 bulan kepada anak dengan status malagizi, sebagai upaya untuk menurunkan angka malagizi
Lalu, papar Retno melakukan monitoring berat badan dan tinggi badan (BB/TB) seluruh siswa di sekolah dampingan setiap bulan melalui aplikasi JAPFA for Kids.
“Kenapa kita bagikan telur, karena itu sumber protein hewani paling murah dan mudah pengolahannya,” ungkap Retno.
Ia menambahkan, program Japfa For Kids yang mengusung moto one day one egg (satu hari satu telur) ini tidak hanya berfokus kepada pemberian telur secara gratis kepada anak-anak. Guru dan orang tua juga mendapat edukasi mengenai gizi dari ahli gizi yang akan mendampingi program tersebut.
“Agar apa yang kita lakukan benar-benar memberikan dampak yang signifikan. Makanya kita ada edukasi kepada guru dan orang tua, karena kita tidak bisa berjalan sendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, Head of Operations JAPFA Sumatera Anwar Tandiono menjelaskan program Japfa for Kids di Bintan telah dimulai sejak 2025 di Kecamatan Toapaya dan Gunung Kijang.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 tercatat bahwa 11,9% anak usia 5-12 tahun mengalami gizi lebih, 7,8% anak mengalami obesitas, serta 11% anak berada pada status gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator IMT/U.
Sejalan dengan kondisi nasional tersebut, data yang dikumpulkan oleh tim Social Investment (SI) JAPFA bersama puskesmas di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,7%) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk. Hal ini menunjukkan bahwa masalah gizi di Indonesia juga terjadi sejak anak berusia sekolah dasar.
Saat ini JAPFA For Kids juga telah menjangkau 29 murid di Sekolah Dasar Negeri (SDN ) Sukamanah 01, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang tercatat sebagai penerima manfaat satu butir telur setiap hari dari program JAPFA for Kids di luar menu makan gratis pemerintah.
Dengan komitmen JAPFA for Kids sebagai program corporate social responsibility (CSR) dari JAPFA Comfeed diharapkan bisa mengatasi masalah gizi pada anak melalui pola hidup sehat dan gizi seimbang mencakup penyediaan protein hewani praktik pembiasaan pola hidup sehat di sekolah.