Bangkitnya Kembali Gambus Misri, Seni Teater Rakyat Asli Jombang
Choirul Anam
Jombang, erakini - Bagi khalayak umum, kesenian gambus misri memang tidak setenar kesenian ludruk, ketoprak, wayang kulit, wayang golek atau wayang orang. Namun, gambus misri pernah eksis sebagai salah satu kesenian yang bernuansa islami pada era 60-an.
Jombang, sebagai kota santri dan tempat embrio kesenian ludruk, juga melahirkan seni teater rakyat lainnya yang dibumbui dengan nuansa islami, yakni Gambus Misri.
Gambus Misri merupakan seni teater rakyat yang dirintis oleh seorang seniman bernama Asfandi, warga desa Diwek kecamatan Diwek kabupaten Jombang. Berdasarkan penuturan Purwanto, peneliti kebudayaan yang juga pendiri Yayasan Air Kita, diperkirakan Gambus Misri dirintis pada era 1940-an.
"Dari penelusuran saya, diperkirakan pada era 1940-an lah Gambus Misri dirintis oleh pak Asfandi," ungkap Cak Pur, panggilan akrab penulis buku Menjaga Jejak Gambus Misri ini.
Menurut banyak cerita lisan yang berkembang di kalangan pegiat seni Jombang, Asfandi merupakan santri kalong di Pesantren Tebuireng pada zaman KH. Hasyim Asy'ari. Karena nasehat dari Mbah Hasyim-lah sehingga Asfandi mendirikan sebuah kelompok seni teater yang bernuansa islami, Gambus Misri.
Gambus Misri sendiri merupakan sebuah bentuk seni pertunjukan baru karena adanya pergeseran fungsi sosial pada pertunjukan ludruk. Ludruk merupakan salah satu warisan seni pertunjukan rakyat yang memiliki nilai dan budaya yang tinggi. Akan tetapi, pada masa tersebut, berbagai praktik yang menyertai penyelenggaraan pertunjukan ludruk sering kali menimbulkan keresahan masyarakat.


















