Seseorang sedang memandangi kawah Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur (Foto: Instagram Klook)
JAKARTA, (ERAKINI) - Popularitas Banyuwangi sebagai tujuan wisata terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini dahulu lebih dikenal sebagai lokasi Pelabuhan Ketapang, pintu penyeberangan utama menuju Bali, salah satu destinasi wisata tersohor di Indonesia.
Namun, dalam perkembangan terbaru, pesona alam Banyuwangi mulai mendapat perhatian luas. Keanekaragaman lanskap serta potensi wisata alam yang dimiliki kawasan ini menjadikannya sebagai alternatif liburan yang menarik di .
Mengutip informasi dari Klook, Minggu (4/5/2025), setidaknya 10 lokasi wisata unggulan di Banyuwangi yang kini kian populer di kalangan pelancong yang datang dari dalam dan luar negeri.
Meski bukan merupakan destinasi wisata alam, hotel Dialoog Banyuwangi sukses mencuri perhatian wisatawan yang berkunjung ke ujung timur Pulau Jawa. Berlokasi di tepi pantai dengan panorama Selat Bali, hotel bintang empat ini menawarkan pengalaman menginap yang setara dengan resort eksklusif di Bali.
Gaya arsitektur modern minimalis, berpadu dengan lanskap tropis yang tertata apik, menjadikan Dialoog Banyuwangi sebagai salah satu ikon pariwisata baru di daerah tersebut. Kehadiran hotel ini membuktikan bahwa Banyuwangi tak hanya unggul dalam kekayaan alam, tetapi juga telah siap menyambut wisatawan dengan fasilitas akomodasi berstandar internasional.
Hotel yang terletak di kawasan Kalipuro ini menyuguhkan sejumlah fasilitas unggulan, di antaranya kolam renang infinity yang menghadap langsung ke laut, serta restoran Casabanyu yang menawarkan hidangan lokal dan internasional dengan latar pemandangan laut yang memukau. Tak heran, banyak tamu memilih untuk bersantai di area hotel daripada berkeliling, karena suasananya yang begitu nyaman dan menenangkan.
Kehadiran Dialoog Banyuwangi dinilai turut mendorong peningkatan kualitas layanan perhotelan di wilayah ini, seiring meningkatnya jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara yang menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi liburan. Hotel ini beralamat di Jalan Yos Sudarso, Kaliklatak, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, dan dapat dijangkau dalam waktu sekitar 20 menit dari pusat kota.
Taman Nasional Baluran menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa alam liar khas Afrika di tanah Jawa. Terletak di perbatasan Banyuwangi dan Kabupaten Situbondo, taman nasional ini kerap menjadi salah satu destinasi favorit pelancong yang berlibur ke Banyuwangi, karena lokasinya yang relatif dekat dan mudah dijangkau.
Salah satu kawasan ikonik di Baluran adalah Savana Bekol, hamparan padang rumput luas yang menjadi habitat berbagai satwa liar seperti rusa, kerbau, kera ekor panjang, hingga burung merak. Lanskap terbuka dengan latar belakang Gunung Baluran menciptakan suasana dramatis yang kerap dijuluki “Little Africa van Java”.
Selain menyaksikan satwa di habitat alaminya, wisatawan juga bisa mengunjungi Pantai Bama yang terletak tidak jauh dari savana. Pantai ini dikenal dengan pasir putihnya yang bersih dan air laut yang jernih, cocok untuk bersantai setelah menjelajahi area taman nasional.
Untuk menuju Baluran, pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi dari Banyuwangi, melalui jalur pantai utara (Pantura) menuju Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Gerbang masuk taman nasional berada di Desa Wonorejo, tepatnya di kawasan Randu Agung.
Banyuwangi juga memiliki ruang-ruang publik yang menjadi pusat kegiatan warga maupun wisatawan. Dua taman kota yang paling menonjol adalah Taman Blambangan dan Taman Sritanjung, yang keduanya terletak di jantung Kota Banyuwangi.
Taman Blambangan, yang berada di Jalan Diponegoro, sejatinya adalah alun-alun kota. Namun seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi titik sentral berbagai kegiatan berskala besar, mulai dari konser musik hingga festival budaya. Di sisi taman ini juga berdiri pusat kuliner yang dikenal dengan nama "Kuliner Pintar", menawarkan aneka sajian khas Banyuwangi.
Tak jauh dari sana, pengunjung bisa melanjutkan langkah ke Taman Sritanjung, yang berada di Jalan Sritanjung. Berbeda dari Taman Blambangan yang kerap ramai oleh agenda kota, Taman Sritanjung menawarkan suasana lebih tenang. Dengan jalur pedestrian yang rapi dan air mancur yang menyejukkan, taman ini menjadi tempat favorit untuk bersantai di sore hari.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan denyut kehidupan lokal, kedua taman ini menjadi titik awal yang ideal. Sembari menikmati udara segar, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner khas Banyuwangi seperti rujak soto, sego tempong, atau sego cawuk yang banyak dijajakan di sekitar taman.
Pantai Pulau Merah merupakan salah satu ikon wisata bahari Banyuwangi. Namanya diambil dari sebuah bukit kecil berwarna kemerahan yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Ketika air laut surut, wisatawan bahkan dapat berjalan kaki menyusuri laut dangkal untuk mencapai pulau tersebut.
Pantai ini terkenal dengan pasir putihnya yang lembut dan ombak yang menggulung ideal, menjadikannya lokasi favorit untuk peselancar pemula. Tak jauh dari lokasi, terdapat penyewaan papan selancar yang memudahkan wisatawan menjajal aktivitas ini. Pantai Pulau Merah berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat kota Banyuwangi dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua jam berkendara melalui Jalan Nasional III.
5.Teluk Hijau (Green Bay)
Masih di wilayah selatan Banyuwangi, Teluk Hijau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri menawarkan panorama teluk dengan air berwarna hijau toska. Dikelilingi pepohonan lebat dan pasir putih, kawasan ini menjadi destinasi favorit pencinta alam.
Karena berada dalam wilayah konservasi, pengunjung kerap menjumpai satwa liar seperti monyet ekor panjang. Pengelola taman nasional mengimbau pengunjung untuk menjaga kebersihan dan tidak memberi makan hewan liar.
Teluk Hijau berlokasi sekitar 86 kilometer dari pusat kota dan dapat dicapai dalam waktu 2,5 jam dengan kondisi jalan yang masih menantang. Disarankan untuk menggunakan jasa tur lokal demi kenyamanan perjalanan.
Pulau kecil ini terletak di utara Selat Bali dan masih termasuk wilayah administratif Banyuwangi. Daya tarik utama Pulau Tabuhan adalah kondisi anginnya yang stabil, menjadikannya tempat yang ideal untuk olahraga kiteboarding.
Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati aktivitas snorkeling dan bermain di pasir putihnya. Pulau ini dapat dicapai dengan perahu dari Pantai Kampe, sekitar 40 menit perjalanan dari pusat kota.
7.De Djawatan
Berubah dari kawasan hutan lindung menjadi destinasi wisata, De Djawatan dikenal karena deretan pohon trembesi raksasa yang menciptakan suasana seperti hutan dalam film "Lord of the Rings". Penataan kawasan yang lebih tertata membuat tempat ini nyaman untuk dikunjungi.
De Djawatan terletak di wilayah Benculuk dan kini telah dilengkapi fasilitas seperti papan penunjuk warna-warni hingga tempat ibadah. Meski demikian, kawasan ini tetap mempertahankan nuansa alami dan ketenangan hutan.
Terletak di Semenanjung Blambangan, Taman Nasional Alas Purwo menyajikan kekayaan ekosistem dari savana, hutan bakau, hingga pantai. Salah satu pantai terkenalnya adalah Pantai Plengkung, destinasi favorit para peselancar profesional.
Selain lanskapnya yang luas dan beragam, Alas Purwo juga menjadi habitat satwa langka seperti Banteng Jawa, Anjing Hutan Asia (Ajak), dan Lutung Kelabu. Dengan akses yang relatif mudah dari pusat kota, kawasan ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan pencinta ekowisata. Alamat Alas Purwo berada di Kutorejo, Kalipait, Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.
Taman Nasional Baluran menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan timur Pulau Jawa. Meski secara administratif berada di wilayah Kabupaten Situbondo, kawasan konservasi ini kerap dikaitkan dengan Banyuwangi karena jaraknya yang relatif dekat dan akses yang mudah dari kota tersebut.
Dikenal dengan julukan “Afrika van Java”, Baluran menyuguhkan bentang alam savana yang luas, mirip dengan lanskap padang rumput di Benua Afrika. Pemandangan ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana alam terbuka yang berbeda dari kebanyakan kawasan wisata lain di Jawa Timur.
Nama Baluran kian populer setelah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar dalam video klip lagu “Jatuh Hati” yang dinyanyikan oleh Raisa. Popularitas video tersebut turut mendorong lonjakan jumlah kunjungan wisatawan ke taman nasional yang memiliki luas lebih dari 25.000 hektare ini.
Dari pusat Kota Banyuwangi, Taman Nasional Baluran dapat dijangkau dalam waktu sekitar 1,5 jam menggunakan kendaraan. Di kawasan ini, pengunjung berkesempatan melihat langsung berbagai satwa liar, seperti banteng, rusa, merak, dan kera ekor panjang, dalam habitat alaminya.
Selain kawasan savana Bekol yang ikonik, Baluran juga memiliki pesisir Pantai Bama yang tenang dan hutan mangrove yang masih terjaga kelestariannya.
Kawah Ijen menjadi salah satu magnet utama pariwisata di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Terletak di perbatasan antara Banyuwangi dan Bondowoso, destinasi ini tidak hanya memukau dengan danau kawah berwarna hijau toska, tetapi juga dikenal dengan aktivitas penambangan belerang tradisional yang menjadi ikon kawasan tersebut.
Salah satu daya tarik utama Kawah Ijen adalah fenomena alam langka Blue Fire atau api biru. Api ini muncul akibat pembakaran gas sulfur yang keluar dari celah-celah Gunung Ijen dengan suhu mencapai 600 derajat Celsius. Fenomena serupa hanya ditemukan di satu lokasi lain di dunia, yakni Gunung Dallol di Ethiopia.
Untuk mencapai puncak Kawah Ijen, pengunjung harus menempuh jalur pendakian sepanjang kurang lebih 3 kilometer dari Pos Paltuding, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam tergantung kecepatan berjalan. Pendakian umumnya dilakukan pada dini hari agar wisatawan dapat menyaksikan api biru sebelum matahari terbit.
Namun, mengingat medan pendakian yang cukup menantang serta paparan gas belerang yang tinggi, kunjungan ke kawah ini tidak disarankan bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta individu dengan gangguan pernapasan atau kondisi medis tertentu.
Akses menuju Kawah Ijen dari pusat Kota Banyuwangi memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan darat. Jalur yang umum digunakan adalah melalui Kecamatan Licin menuju Paltuding, yang menjadi titik awal pendakian.