Ilustrasi – Salah satu adegan dalam trailer film horor Indonesia berjudul 'Narik Sukmo'. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 3 Juli 2025. (Foto: YouTube/Cinema 21).
TAK ADAgenre filmIndonesia yang lebih konsisten, lebih laris, dan lebih ‘hidup’ dari horor.
Lihat saja. Setiap bulan, bioskop Indonesia seolah menjalani ritual yang sama: lampu padam, layar menyala, dan suara pintu tua yang berderit memecah kesunyian. Di balik cahaya proyektor, muncul sosok-sosok dari dunia lain—dukun tua, kuntilanak, ibu-ibu pucat dengan rambut tergerai panjang dan wajah penuh darah.
Mereka bukan sekadar karakter fiksi. Mereka adalah penjaga imajinasi kolektif masyarakat yang menyukai sensasi, kejutan, dan teror yang bisa dirasakan bersama. Filmhoror bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman emosional yang disambut antusias oleh jutaan penonton dari Sabang sampai Merauke.
Juli 2025, momen itu kembali hadir. Dalam laporan Erakini.id berjudul “Lengkap! Ini 21 Film Terbaru yang Tayang Bulan Juli 2025, Plus Sinopsisnya” (1 Juli 2025), disebutkan bahwa dari 21 film yang dirilis bulan ini, setidaknya hampir 50 persen bergenre horor. Judul-judul seperti Narik Sukmo, Hotel Sakura, Selepas Tahlil, Sihir Pelakor, hingga Gerbang Setan menandai satu hal penting: horor bukan tren sesaat. Ia telah menancapkan kukunya sebagai genre andalan perfilman nasional.
Ini bukan kebetulan. Dalam satu dekade terakhir, hororIndonesia menjelma dari genre pinggiran menjadi raksasa komersial sekaligus kultural. Ia menggabungkan strategi produksi yang efisien, cerita yang membumi, serta kekuatan mitologi lokal yang hidup dalam kesadaran masyarakat. Lebih dari sekadar membuat penonton menjerit, kini menyentuh trauma kolektif, kritik sosial, hingga ruang-ruang kontemplasi.
Pertanyaannya hari ini: masihkah kita menganggap horor sekadar hiburan menakutkan, atau justru ia adalah nafas panjang perfilman Indonesia?
Takut yang Menguntungkan
Mari mulai dari fakta paling konkret: jumlah penonton. Tahun 2022, KKN di Desa Penari mencatat rekor monumental dengan 10.061.033 penonton—filmIndonesia pertama yang menembus angka 10 juta penonton, melampaui semua genre lain sepanjang sejarah film nasional.
Rekor ini sempat bertahan hingga pertengahan 2025, sebelum dilampaui oleh film animasi Jumbo dengan 10,17 juta penonton. Namun posisi KKN tetap fenomenal sebagai titik balik kebangkitan filmhoror lokal.
Sebagai pembanding, filmhoror Hollywood seperti The Conjuring 2 (2016) “hanya” meraih sekitar 1,7 juta penonton di Indonesia (Kompas.com). Meski secara global It (2017) meraup lebih dari USD 700 juta (Box Office Mojo), di Indonesiafilmhoror adaptasi novel Stephen King ini hanya menggaet sekitar 1,8 juta penonton.
Di pasar lokal, hororIndonesia jauh lebih dominan. Cerita mistis khas desa—yang berkelindan dengan keseharian dan kepercayaan masyarakat—lebih mampu membetot perhatian publik ketimbang hantu-hantu barat yang terasa asing.
Dari sisi bisnis, horor adalah investasi menggiurkan. Dengan bujet produksi Rp5–Rp15 miliar, potensi pendapatan bisa mencapai Rp200 miliar dari tiket bioskop. Ini belum termasuk dari hak siar televisi, platform streaming, dan sponsorship. Rumah tua, hutan pinus, atau kampung gelap cukup menjadi latar. Tak perlu bintang papan atas. Sensasi sudah cukup jadi daya tarik utama.
Tak heran bila produser menjadikan horor sebagai zona aman produksi—rendah risiko, tinggi kemungkinan cuan. Penonton hampir pasti datang—kalau bukan karena cerita, maka karena sensasi kolektif yang ditawarkannya.
Cerita Kita, Ketakutan Kita
Namun horor tidak semata-mata soal keuntungan. Ia adalah cermin kebudayaan. Di negeri dengan ribuan pulau dan ratusan kepercayaan, horor hidup dalam kehidupan sehari-hari. Kita tumbuh dengan cerita genderuwo, wewe gombel, kuntilanak, leak, hingga kuyang. Di banyak desa, larangan keluar rumah selepas maghrib masih berlaku.
Film seperti Sewu Dino dan Sihir Pelakor tidak hanya memakai kearifan lokal sebagai latar, melainkan struktur utama penceritaan. Mereka membangun ketegangan dari hal-hal yang sangat dekat dengan penonton: tradisi, larangan, dan kepercayaan turun-temurun.
Sebaliknya, horor luar seperti Insidious atau Hereditary, meskipun canggih, sering terasa jauh. Ketegangan mereka lahir dari budaya lain. Sementara horor lokal membuat kita bergidik karena terasa akrab. “Ini bisa terjadi di rumah tetangga saya,” pikir penonton.
Era digital juga memperkaya ekosistem ini. Podcast misteri, cerita viral di X (sebelumnya Twitter), hingga konten YouTube menjadi ladang subur bagi inspirasi horor. Film seperti Selepas Tahlil dan Sihir Pelakor lahir dari cerita-cerita yang viral lebih dulu.
HororIndonesia, dengan demikian, telah berfungsi sebagai arsip ketakutan kolektif—dari yang mistis hingga yang paling nyata: trauma masa kecil, ketimpangan gender, tekanan keluarga, bahkan ketakutan akan perubahan sosial yang tak terhindarkan.
Sensasi Kolektif: Ketakutan
Mengapa kita menyukai rasa takut? Sebab secara biologis, ketakutan memicu adrenalin, mempercepat detak jantung, menciptakan sensasi yang aneh namun nikmat.
Di ruang gelap bioskop, rasa takut menjadi aman: kita menjerit tanpa malu, tertawa gugup, berpegangan tangan, memejamkan mata—lalu keluar dengan perasaan lega, seolah telah membuang beban batin.
Di sinilah kekuatan horor: ia adalah pengalaman sosial. Di era algoritma dan digitalisasi, horor menawarkan koneksi emosional. Ia menghidupkan ruang bioskop bukan hanya sebagai tempat duduk, tapi tempat berbagi rasa.
Dari thread X, YouTube, hingga tantangan TikTok seperti “berapa kali kamu tutup mata?”, horor menjadi fenomena lintas platform dan generasi. Ia mengajarkan kita bahwa rasa takut bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi bisa dinikmati bersama-sama.
Lebih dari Sekadar Menakut-nakuti
Apakah kita akan bosan dengan horor? Mungkin. Tapi tidak dalam waktu dekat. Genre ini terus berevolusi. Beberapa sineas mulai meramu horor dengan drama keluarga, kritik sosial, bahkan pendekatan visual yang artistik.
The Doll 3, misalnya, menyisipkan tema kecerdasan buatan dan teknologi—ketakutan baru di era digital. Sebelum Iblis Menjemput menampilkan gaya noir dan simbolisme religius yang tajam.
Perempuan Tanah Jahanam karya Joko Anwar menunjukkan bahwa teror bisa datang dari sejarah, dendam kolektif, dan luka antargenerasi. Horor bukan lagi sekadar ‘hantu muncul lalu mengagetkan’, tapi kanal reflektif untuk isu serius: kekerasan struktural, patriarki, ketidakadilan.
Dengan pendekatan yang tepat, horor menjadi wahana perenungan dan perlawanan. Ia menyelinap ke celah-celah kegelisahan zaman dan menawarkan bentuk kritik yang menggigit, tapi tetap menghibur.
Inilah medan baru bagi sineas Indonesia: mengeksplorasi bentuk, memperluas cerita, dan melampaui ekspektasi pasar.
Karena selama ketakutan masih menjadi bagian hidup kita, horor akan tetap hidup—menyelinap, menjerit, dan mencatat zaman dalam gelap layar.