Kisah Siti Si Kucing Kampus Jadi Bintang Film, Antar Mahasiswa ITB Raih Penghargaan Internasional
Thomas Pulungan








Film garapan Ophiuchus Project tersebut meraih Most Inspiring Film Award dalam NextScene Kids & Youth Film Festival 2026. “Meong!” menjadi salah satu karya yang mendapat penghargaan dalam festival yang diikuti 54 film dari 14 negara dan digelar di Jakarta pada 6–9 Agustus 2026.
Di balik penghargaan itu, ada cerita sederhana tentang seekor kucing bernama Siti yang biasa berkeliaran di sekitar Gedung Labtek VII ITB. Bagi sebagian orang, kehadiran Siti mungkin hanya menjadi pemandangan biasa di lingkungan kampus. Namun, bagi para mahasiswa LFM ITB, keberadaan kucing tersebut justru membuka ruang untuk bercerita tentang kesepian, tekanan, dukungan, dan arti sebuah kehadiran.
“Meong!” merupakan film drama slice of life yang mengambil sudut pandang seekor kucing dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Cerita berpusat pada seorang mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan tugas akhir dan menghadapi berbagai persoalan dalam prosesnya.
Dalam situasi tersebut, kehadiran Meong menjadi teman kecil yang menemani perjalanan sang mahasiswa.
Ide cerita itu lahir dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan para pembuat film. Kucing memang mudah dijumpai di berbagai sudut Kampus ITB dan tidak jarang berinteraksi dengan mahasiswa.
Hal yang tampak sederhana tersebut kemudian diolah menjadi cerita yang menempatkan kucing sebagai karakter utama sekaligus simbol bahwa sesuatu yang kecil dapat memiliki arti besar bagi seseorang.
“Inti dari film ini, kami mau membawakan bahwa sesuatu seperti kucing kecil atau mungkin hal kecil lainnya di dunia ini bisa sangat menginspirasi dan bermakna bagi seseorang. Meskipun terkadang hal kecil tersebut sebenarnya biasa saja atau mungkin bahkan tidak berharga di mata orang lain,” tutur penulis sekaligus produser “Meong!”, Vincentius Bhagaskara (AS’22).
Puluhan Kucing Ikut Casting
Untuk mewujudkan seekor kucing sebagai pemeran utama tentu bukan perkara mudah. Produksi “Meong!” bahkan harus melalui proses casting yang cukup unik.
Tim mengaudisi hampir 40 kucing yang biasa berkeliaran di lingkungan Kampus ITB. Mereka mempertimbangkan berbagai hal, mulai dari warna bulu hingga karakter dan kemampuan kucing untuk mengikuti arahan selama proses syuting.
“Kami melakukan casting kucing seharian penuh di Kampus ITB. Hampir 40 kucing yang kami coba casting. Kami memperhatikan warna bulu yang cocok dan karakter kucing yang mudah diarahkan. Hingga akhirnya kami memilih Siti yang cocok untuk peran ini,” ujar Dudih Purwadi, Director of Photography, Sound Director, sekaligus editor film.
Setelah proses casting selesai, tantangan berikutnya justru dimulai. Kru harus menyesuaikan proses produksi dengan kondisi pemeran utama yang tidak bisa begitu saja diarahkan seperti manusia.
Produksi “Meong!” dimulai pada Maret 2025 dengan melibatkan 10 kru dan satu pemeran utama. Selain cuaca yang kadang menghambat pengambilan gambar, tim juga harus memperhatikan kondisi Siti selama syuting.
Ketika Siti menunjukkan tanda-tanda stres atau merasa tidak nyaman, proses pengambilan gambar dihentikan sementara. Kru baru melanjutkan produksi setelah kondisi Siti kembali memungkinkan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari proses kreatif mereka. Alih-alih memaksakan adegan, tim berusaha mengikuti perilaku alami Siti.
Dalam proses pengembangan cerita, tim juga melibatkan komunitas peduli kucing ITB Street Feeding untuk melakukan brainstorming.
Dari Hal Kecil ke Penghargaan Internasional
Perjalanan “Meong!” kemudian berbuah apresiasi di panggung internasional. Film tersebut meraih Most Inspiring Film Award dalam NextScene Kids & Youth Film Festival 2026.
Bagi tim, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan terhadap sebuah karya film. Ada kebahagiaan karena cerita yang berangkat dari keseharian mahasiswa dan seekor kucing kampus ternyata dapat menyentuh penonton yang lebih luas.
“Jujur, penghargaan ini sesuatu yang tidak aku ekspektasikan. Penghargaan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Kami juga senang bahwa film yang diproduksi bisa menginspirasi banyak orang,” kata Fransiska Fernanda (EB’22), penulis sekaligus sutradara “Meong!”.
Fransiska juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam produksi, termasuk Siti yang menurutnya mampu menghadirkan momen-momen unik secara alami dan tidak terduga.
“Special thanks juga untuk semua orang yang turut membantu dan Siti yang bisa menghasilkan momen adegan unik secara alami dan tidak terduga,” ujarnya.
Film “Meong!” menjadi contoh bagaimana cerita tidak selalu harus lahir dari peristiwa besar. Dari seekor kucing yang berjalan di sudut kampus, percakapan sederhana, hingga seorang mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir, sebuah cerita dapat menemukan maknanya.
Pesan itulah yang kemudian dibawa “Meong!” ke ruang yang lebih luas: bahwa hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian justru dapat menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi seseorang.
NextScene Kids & Youth Film Festival sendiri merupakan festival film internasional yang menjadi ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengembangkan perfilman dan penceritaan kreatif. Pada 2026, festival tersebut memasuki penyelenggaraan kedua dan berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM) serta CGV fX Sudirman, Jakarta.
Festival tersebut memberikan tiga kategori penghargaan utama, yakni Best Film Award, Most Inspiring Film Award, dan Special Jury Mention.


