Salah satu adegan dalam trailer film thriller terbaru 'After the Hunt' yang mengusung isu kekerasan seksual di lingkungan kampus. Film ini bakal tayang di bioskop mulai 17 Oktober 2025. (Foto: Amazon MGM Studios).
JAKARTA, (ERAKINI) – Salah satu film internasional yang patut dinantikan tahun ini adalah After the Hunt, sebuah thriller psikologis yang mengangkat tema sensitif tentang dugaan kekerasan seksual di dunia pendidikan tinggi. Isu ini terasa sangat aktual dan relevan, terutama jika dikaitkan dengan realitas sistem akademik di Brasil.
Disutradarai oleh sineas ternama Luca Guadagnino, After the Hunt dipercaya sebagai film pembuka dalam gelaran ke-27 Rio International Film Festival—ajang sinema paling bergengsi di Amerika Latin. Film ini dijadwalkan tayang perdana di Brasil pada 2 Oktober 2025, dalam acara pembukaan yang digelar di bioskop ikonik Odeon, berlokasi di kawasan bersejarah Cinelândia, jantung kota Rio de Janeiro.
Festival ini akan berlangsung selama 11 hari, mulai dari tanggal 2 hingga 12 Oktober, dengan total sekitar 260 film dari berbagai negara akan ditayangkan. Di antaranya, 124 film merupakan produksi lokal Brasil. Seluruh film akan diputar di 25 layar bioskop serta empat lokasi terbuka yang tersebar di seluruh penjuru kota, memberikan pengalaman sinematik yang inklusif bagi masyarakat Rio—yang dikenal dengan sebutan cariocas.
Sebelum dijadwalkan tampil di Rio, After the Hunt telah lebih dulu diputar di dua festival film ternama dunia: Festival Film Venesia dan Festival Film New York. Kini, film ini melanjutkan kiprahnya dengan membuka festival di Rio, menegaskan eksistensinya sebagai salah satu film penting tahun ini. Berikut ini sinopsisnya!
Melansir Deadline, film ‘After the Hunt’membawakisah kompleks di dunia akademik. Film ini dibuka dengan kalimat yang menyiratkan nuansa elit akademik: “Itu terjadi di Yale.” Kalimat ini segera membawa penonton ke sebuah pesta eksklusif kalangan intelektual, lengkap dengan percakapan tentang tokoh-tokoh besar seperti Kierkegaard dan Foucault.
Jika pembukaan seperti ini terasa terlalu intelektual atau penuh pretensi, mungkin film ini memang bukan untuk semua kalangan. Namun, lewat narasi yang tajam, Guadagnino mengubah kampus menjadi medan pertempuran gagasan politik dan moral masa kini.
Julia Roberts tampil brilian sebagai Alma Imhoff, seorang profesor filsafat berpenampilan elegan dan karismatik. Ia sering mengundang mahasiswa dan koleganya berdiskusi intens di ruang kerjanya tentang isu-isu kontemporer seperti moral kolektif dan performativitas sosial. Salah satu rekan dekat sekaligus peserta diskusi aktif adalah Henrik “Hank” Gibson, diperankan Andrew Garfield, yang dikenal dengan pandangan kritis terhadap budaya media sosial. Sementara itu, Maggie Resnick, diperankan oleh Ayo Edebiri, seorang mahasiswa cerdas dan penuh semangat, jelas mengagumi Alma, baik secara intelektual maupun pribadi.
Cerita mulai menegang saat Maggie tanpa sengaja menemukan sebuah amplop misterius berisi potongan koran dan sebuah foto, yang diduga menjadi titik awal dari konflik besar dalam cerita. Beberapa jam kemudian, Maggie mengaku kepada Alma bahwa Hank telah datang ke apartemennya dan melakukan tindakan kekerasan seksual. Saat dikonfrontasi, Hank membantah keras tuduhan itu, bahkan menyebut dirinya sebagai korban dari atmosfer budaya yang menurutnya “terlalu sensitif dan dangkal”.
Situasi yang dihadapi Alma menjadi semakin kompleks. Ia berada dalam dilema antara loyalitas terhadap sahabatnya dan tanggung jawab moral serta profesionalnya sebagai akademisi. Di tengah tekanan institusi dan opini publik, faktor ras dan latar belakang sosial Maggie sebagai perempuan kulit hitam dari keluarga kaya turut memperkeruh suasana.
Guadagnino, melalui naskah yang ditulis oleh Nora Garrett, menyajikan cerita yang penuh nuansa, dengan sudut pandang perempuan yang kuat dan berlapis. Film ini membahas bagaimana kebenaran politik dapat menjadi alat tekanan, serta bagaimana generasi muda kerap menggunakan konsep “kebangkitan sosial” untuk membungkam pendapat yang berbeda. Namun film ini bukan sekadar sindiran terhadap budaya “woke”; melainkan juga cerminan jujur tentang dinamika sosial masa kini dan pertanyaan besar tentang keadilan, kebenaran, dan kekuasaan di ruang akademik.
Terdapat pula momen humor tajam, seperti sindiran terhadap Morrissey yang kini dipandang kontroversial, memperkaya narasi tanpa mengurangi keseriusan temanya.
Julia Roberts menyuguhkan performa terbaiknya sejak Erin Brockovich (2000), dengan penampilan yang sangat meyakinkan dan emosional. Lewat Alma, ia menampilkan sosok perempuan tangguh yang bergulat antara nilai-nilai pribadi dan tekanan sistem. Film ini bukan tontonan yang ringan, namun justru kekuatan itulah yang menjadikannya sebagai salah satu karya paling relevan dan menantang di era modern.
‘After the Hunt’ tidak hanya menawarkan drama yang mencekam, tapi juga refleksi sosial yang tajam tentang dunia pendidikan, identitas, kekuasaan, dan ketegangan antar generasi.