Tarian yang dibawakan bocah Dika di atas jalur (sampan) yang melaju cepat itu kini banyak diparodikan, tidak hanya di Indonesia tetapi di belahan dunia. Foto: Dok Humas Pemprov Riau
Tarian yang dibawakan di atas jalur (sampan) yang melaju cepat itu kini banyak diparodikan, tidak hanya di Indonesia tetapi belahan dunia. Lantas, siapa yang itu?
Sejak 2024, dia sudah menjadi black shirt on boat (julukan dari netizen) alias si jagoan berbaju hitam di ujung perahu. Ia mengganti posisi abangnya yang sekarang jadi pendayung.
Saat tampil di ajang Pacu Jalur, Dika mengenakan setelan teluk belanga hitam, lengkap dengan tanjak khas Melayu Riau dan kacamata hitam. Gaya tariannya yang energik dan penuh ekspresi itu bener-bener ngena di hati warganet.
“Saya tidak menyangka bisa seviral itu. Tahunya setelah lihat media sosial, banyak orang luar yang ikut-ikutan nari,” kata Dika dalam rekaman video.
Bocah yang saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) bercita-cita menjadi seorang prajurit TNI. Dika mengaku bahwa gerakan tari itu dilakukan secara spontan, tanpa latihan sama sekali. Dika memang bukan anak biasa. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan Sungai Kuantan.
Sang ayah sering mengajaknya ke Pacu Jalur, sehingga membuatnya tertarik. Ia pun terbiasa berenang dan menaiki sampan, dua keterampilan penting yang wajib dimiliki seorang Togak Luan, penari di ujung perahu Pacu Jalur.
Ayah Dika memang mantan peserta dari tim Jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo. Kakaknya pun pernah menjadi Togak Luan. Dika mengikuti jejak keluarga dan sudah dua tahun berturut-turut menjadi bagian dari tim yang sama.
BocahDika kini mendunia dan mendadak jadi challenge global. Bahkan, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka ikut-bikin ngonten video Aura Farming ini.
Akun Instagram @gibran_rakabuming pada Senin (7/7/2025) pagi nge-post video yang bikin netizen geleng-geleng saking gemesnya. Gibran juga tampak membuat parodi menirukan gaya anak penari Pacu Jalur tersebut.
"Siapa sangka, dari tepian Kuantan Singingi, semangat Pacu Jalur bisa mengalir hingga ke jagat digital dunia. Berbagai klub besar dan pemengaruh dunia turut merayakannya," tulis Gibran .
Menurut Gibran, inilah kekuatan diplomasi budaya di era digital, di mana konten mampu menjadi jembatan, memperkenalkan kearifan lokal Indonesia ke mata dunia. "Pacu Jalur bukan hanya tradisi. Ia adalah narasi, warisan, dan identitas Indonesia yang menginspirasi dunia," tutup Gibran.
Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, menjelaskan, Pacu Jalur adalah simbol kekuatan, kekompakan, dan kebanggaan masyarakat Kuansing. Menurut Roni, viralnya Pacu Jalur membuktikan bahwa kearifan lokal Riau punya daya pikat universal dan sanggup bersaing di kancah internasional.
"Fenomena ini juga menjadi momentum emas untuk semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Riau dan Kuantan Singingi, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat lokal terhadap budayanya sendiri," ujar Roni dalam keterangannya dikutip dari situs resmi Pemprov Riau, Senin (7/7/2025).
Roni juga menegaskan bahwa Pacu Jalur adalah Warisan Budaya Takbenda yang diakui secara nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
"Tentu ini merupakan kebanggaan luar biasa bagi kami, bagi Riau, dan khususnya Kuansing. Ini membuktikan bahwa budaya lokal kita memiliki daya tarik universal dan bisa dikenal secara global," kata Roni.
Pacu Jalur bukan cuma lomba mendayung perahu panjang tahunan di Kuansing. Ternyata Pacu Jalur ini sudah ada dari abad ke-17, yang berlokasi di Sungai Kuantan. Pada abad ke-17, jalanan darat belum semulus sekarang. Makanya, warga Kuansing mengandalkan sungai untuk mengangkut hasil bumi.