Fakta Syekh Sulaiman KurdiBojonegoro membuktikan bahwa Jawa Timur, khususnya di sejumlah kota kecilnya, telah memiliki ulama kaliber dunia sejak zaman dulu. Selain itu, ini juga bukti bahwa Islam di Bojonegoro Jawa Timur merupakan peradaban intelektual yang cukup matang.
Mengutip Ahmad Wahyu Rizkiawan dalam bukunya berjudul “Kronologi Lahirnya NU Bojonegoro”, Syekh Sulaiman Kurdi lahir di Bojonegoro pada tahun 1904 dan wafat 1952.
Selain buku karya Ahmad Wahyu Rizkiawan, data data mengenai sosok Syekh Sulaiman Kurdi juga tertulis tercatat dalam kitab biografi berjudul al-Jawahir al-Hisan fi Tarajum al-Fudhala karya Syekh Zakariya Billah yang kemudian dikutip dan diperjelas oleh Dr. Maulana La Eda dalam buku berjudul 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci.
Syekh Sulaiman Kurdi berasal dari keluarga Syihabuddin yang terkenal saleh. Dia merupakan adik dari KH Ahmad Basyir, pendiri Ponpes Al Basyiriyah Petak, Bojonegoro, dan paman dari KH Maimun Basyir.
Keluarga Abdul Qodir Munada, ayah mereka, terkenal memiliki anak-anak yang alim, beberapa di antaranya berkiprah di Makkah hingga wafat, seperti Abdul Alim dan Abdurrohman.
Setelah menguasai bahasa Arab dan dasar-dasar agama, ia melanjutkan studinya ke Makkah. Di Makkah, Syekh Sulaiman Kurdi berguru kepada ulama-ulama besar, seperti Syekh Umar Bajunaid, Syekh Nahrawi al-Banyumasi, Syekh Soleh Syatha, dan Syekh Umar Hamdan. Ia belajar dengan tekun hingga mencapai derajat keulamaan
Syekh Sulaiman Kurdi dikenal sebagai ulama dan pengajar yang mumpuni di berbagai tempat, termasuk Madrasah Al Shaulatiyah Makkah yang legendaris. Madrasah Al-Shaulatiyah adalah madrasah pertama di Kerajaan Arab Saudi yang didirikan pada tahun 1292 H. Madrasah ini telah menghasilkan ulama-ulama besar dunia, termasuk dari Indonesia, sehingga dijuluki "mashnaurrijal" yang artinya pencetak para ulama.
Santri madrasah ini berasal dari berbagai penjuru dunia, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari. Karenanya, Syekh Sulaiman Kurdi memiliki peranan penting dalam transmisi sanad Aswaja.
Setelah belajar dari orang tuanya, Syekh Sulaiman Kurdi meneruskan pendidikan di Mbah Mad Sarang (KH Ahmad bin Syuaib Sarang) dan menjadi abdi ndalem di sana sebelum akhirnya berangkat ke Makkah.
Terdapat kisah menarik tentang Syekh Sulaiman Kurdi yang ingin belajar ke Arab. Sebelum berangkat ke Makkah, Syekh Sulaiman Kurdi pernah mendapat nasihat dari Mbah Mad Sarang (KH Ahmad bin Syuaib Sarang).
Ketika ditanya apakah ia ingin pergi ke Arab, ia menjawab ingin. Mbah Mad lalu menyuruhnya untuk meminum air sawah dengan harapan agar keinginannya tercapai. Kisah ini menunjukkan betapa besar harapan dan dukungan yang diterimanya dari para guru.
Kiprah Syekh Sulaiman Kurdi di Makkah kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, seperti Syekh Zakaria Billah (Sumatera Utara), Syekh Abdullah Durdum (Sumatera), dan Syekh Yasin al-Fadani. Syekh Sulaiman Kurdi memiliki santri yang berasal tidak hanya dari Nusantara, tetapi juga dari berbagai negara. Dalam mengajar, Syekh Sulaiman Kurdi memiliki cara tersendiri untuk memotivasi para santrinya.
Syekh Sulaiman Kurdi mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim dan harus diniatkan sebagai ibadah. Ia menekankan bahwa niat yang baik akan membawa keberkahan dalam proses belajar. Hal ini sejalan dengan ajaran yang terdapat dalam kitab Ta'limul Muta'allim, yang menekankan pentingnya niat dalam mencari ilmu dan menghargai waktu.
Kepada para muridnya, Syekh Sulaiman juga mengajarkan untuk memuliakan guru dan mengagungkan ilmu. Sikap hormat ini dianggap sebagai salah satu kunci untuk mendapatkan keberkahan dalam belajar. Syekh Sulaiman mendorong santrinya untuk selalu menghormati guru mereka, karena guru adalah jembatan menuju pengetahuan
Sebagai seorang pendidik, Syekh Sulaiman Kurdi memberikan contoh nyata melalui sikap dan perilakunya. Ia dikenal sebagai sosok yang komitmen terhadap pendidikan dan dakwah, serta berusaha menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat dengan cara-cara moderat.
Keteladanan ini menjadi inspirasi bagi murid-muridnya untuk mengikuti jejak langkahnya dalam mengejar ilmu dan berkontribusi kepada masyarakat. Ini menunjukkan betapa luasnya pengaruhnya sebagai seorang ulama dan pengajar. Syekh Sulaiman menjadi bagian penting dalam jaringan ulama Nusantara di Tanah Haramain.
Salah satu karya terkenal Syekh Sulaiman Kurdi adalah Fatawa Sulaiman Kurdi. Ini adalah risalah yang berisi kumpulan fatwa dari Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Risalah ini mencakup berbagai pertanyaan yang diajukan kepada Syekh Sulaiman Kurdi mengenai isu-isu hukum Islam, seperti pajak dan denda bagi orang yang meninggalkan shalat Jumat
Dari berbagai sumber yang menyebut sosok Syekh Sulaiman Kurdi, metode dakwahnya dalam mensyiarkan Islam memang tidak dijelaskan secara rinci. Namun, dapat disimpulkan bahwa ia memiliki pengaruh besar melalui pengajaran di Makkah, transmisi sanad Aswaja, dan murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar.
Syekh Sulaiman Kurdi wafat di Makkah dan dimakamkan di pemakaman Ma'la pada tahun 1953, tempat yang dikenal sebagai makam para aulia. Kehidupan dan pengaruh Syekh Sulaiman Kurdi disebut-sebut sangat berkontribusi dalam transmisi sanad Aswaja di Makkah. Meskipun kurang dikenal di Indonesia, namanya tetap dihormati di kalangan ulama dan santri di seluruh dunia.