Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, syiar agama Syekh Utsman adalah contoh nyata bagaimana dakwah dapat dilakukan dengan cara-cara kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam. Foto: Ilustrasi/Ist
KUDUS, (ERAKINI) -Syekh Utsman Qudus bin Abdullah merupakan salah satu ulama besar Nusantara yang memiliki kekhasan dalam berdakwa. Syekh Utsman Qudus menyiarkan agama dengan pendekatan tradisi lokal tanpa menghilangkan esensi ajaran Islam.
Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, syiar agama Syekh Utsman adalah contoh nyata bagaimana dakwah dapat dilakukan dengan cara-cara kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam. Kisah hidup ulama kelahiran Kudus, Jawa Tengah, itu mengajarkan kepada umat tentang pentingnya kesabaran, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap budaya lokal dalam menyebarkan kebaikan.
Syekh Utsman di kemudian hari lewat dakwah-dakwahnya bukan hanya dikenal sebagai sosok yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga seorang pendakwah dengan kepekaan tinggi terhadap budaya lokal. Keberhasilannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara tidak lepas dari metode dakwahnya yang penuh hikmah dan toleransi.
Jauh sebelum kata toleransi menjadi salah satu istilah yang banyak digunakan sebagai perekat kehidupan beragama di Indonesia, Syekh Utsman Qudus bin Abdullah sudah lebih dulu menggunakannya sebagai strategi dakwahnya.
Nama “Qudus” yang disematkan dalam nama Syekh Utsman Qudus bin Abdullah merujuk pada kota Kudus, kota yang pernah menjadi sentral penyebaran Islam di tanah Jawa. Tidak ada sumber yang jelas mengenai tahun kelahiran Syekh Utsman, namun diperkirakan sekitar tahun 1322 Hijriah (1904 Masehi)
Nama Syekh Utsman Qudus terlacak dalam salah satu edisi Majalah Soeara Nahdlatoel Oelama (SNO) di tahun 1929 Masehi (1348 Hijri), yaitu sebuah majalah yang terbit dalam bahasa Jawa aksara Arab (Jawa Pegon) dan terafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Majalah SNO terbit di Kota Surabaya, Jawa Timur. Dalam majalah tersebut, terdapat nama Usman Kudus (Utsmân Qudus bin Abdullah), dengan alamat Bab al-Basithah di Makkah. Nama Usman Kudus tercatat bersama-sama dengan beberapa orang ulama muda Jawa lainnya yang bermukim di Makkah dan berkorespondensi dengan dewan redaksi SNO di Jawa.
Dari kecil, Syekh Utsman sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa dan minat mendalam terhadap ilmu agama. Ia menimba ilmu dari berbagai pesantren besar di Jawa, sebelum melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah untuk memperdalam studi agama.
Pada tahun 1331 Hijriah (1913 Masehi), namanya tercatat di Tanah Suci. Setelah kembali ke tanah air, Syekh Utsman mulai berdakwah dengan cara-cara yang sangat relevan dengan masyarakat lokal. Ia dikenal sebagai ulama yang mampu mengintegrasikan ajaran Islam dengan tradisi lokal tanpa menghilangkan esensi ajaran agama.
Metode Dakwah
Salah satu keistimewaan Syekh Utsman adalah pendekatan dakwahnya yang sangat humanis, memanusiakan manusia dan inklusif atau sangat terbuka dan toleran. Syekh Utsman juga dikenal sebagai ulama yang menggunakan tradisi lokal sebagai sebuah pendekatan. Dalam pandangan Syekh Utsman, seni dan budaya adalah bahasa universal yang mudah diterima oleh masyarakat.
Seperti halnya Sunan Kalijaga, salah satu ulama anggota Wali Songo, Syekh Utsman juga sering menggunakan wayang kulit dan gamelan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Dalam pertunjukan wayangnya, ia menyisipkan nilai-nilai Islami seperti kejujuran, kesabaran, dan keadilan.
Dalam banyak literatur yang terpercaya disebutkan, sebagai ulama yang menghormati budaya lokal, Syekh Utsman dikenal sangat dekat dengan masyarakat. Syekh Utsman sering mengunjungi desa-desa terpencil untuk berinteraksi langsung dengan warga. Dalam setiap kunjungannya, Syekh Utsman tidak hanya memberikan ceramah agama tetapi juga membantu menyelesaikan masalah sosial, seperti konflik antarwarga.
Salah satu kunci keberhasilan dakwah Syekh Utsman sehingga mudah diterima masyarakat adalah kemampuannya menghormati tradisi lokal. Ia tidak pernah memaksakan perubahan secara drastis dalam berdakwah, melainkan memberikan pemahaman secara bertahap sehingga masyarakat dapat menerima Islam dengan sukarela.
Ada satu cerita inspiratif terkait metode dakwah Syekh Utsman yang sangat mengedepankan perhormatan terhadap tradisi lokal. Dikisahkan dalam sebuah perjalanan dakwahnya ke pedalaman Jawa, Syekh Utsman bertemu dengan seorang tokoh masyarakat atau kepala suku yang awalnya menolak ajaran Islam.
Dengan kesabaran dan kecerdasannya, Syekh Utsman mengajak kepala suku tersebut berdialog tentang makna kehidupan dan nilai-nilai moral universal. Akhirnya, pelan tapi pasti kepala suku itu memeluk Islam bersama seluruh anggota sukunya.
Tak hanya mengajak dengan cara persuasif. Metode dakwah ala Syekh Utsman juga menawarkan solusi terkait munculnya masalah di tengah masyarakat. Terkait hal ini, cerita lain dakwah Syekh Utsman menyebutkan, di sebuah desa terjadi perselisihan antara dua kelompok warga akibat sengketa tanah.
Menghadapi hal itu, Syekh Utsman turun tangan sebagai mediator. Dengan pendekatan bijaknya, ia berhasil mendamaikan kedua belah pihak tanpa ada pihak yang merasa dirugikan. Tak cukup sampai di situ, dalam dakwahnya, Syekh Utsman juga sering mendorong masyarakat secara persuasif untuk bekerja sama dalam kegiatan sosial seperti membangun masjid atau membantu warga miskin. Hal ini tidak hanya memperkuat ukhuwah Islamiyah tetapi juga meningkatkan solidaritas antarwarga.
Selain berdakwah, Syekh Utsman juga meninggalkan warisan keilmuan berupa kitab-kitab berbahasa Jawa Pegon yang membahas berbagai aspek kehidupan Islami seperti akhlak, fikih, dan tasawuf. Kitab-kitab ini menjadi rujukan penting bagi para santri di pesantren-pesantren tradisional hingga saat ini. Metode dakwahnya menjadi inspirasi bagi banyak ulama modern dalam menyampaikan ajaran Islam secara damai dan relevan dengan konteks masyarakat setempat.