Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama yang sudah naik haji di usia 16 tahun dikenal sebagai sosok alim, cerdas, dan memiliki pengaruh besar. Foto: IG
JAKARTA, (ERAKINI) - Al kisah di tahun 1876, seorang pemuda bernama Ahmad Khatib, yang berasal dari keluarga terkemuka di Minangkabau, pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Di sana, ia bertemu dengan seorang penjual kitab bernama Hamid Kurdi. Karena kesamaan mazhab Syafi'i, keduanya menjadi akrab.
Hamid Kurdi, salah satu ulama tersohor di Mekkah melihat potensi besar dalam diri Ahmad Khatib dan menawarkan putrinya untuk dinikahi. Ahmad Khatib yang tidak memiliki banyak harta, khawatir tidak bisa memenuhi permintaan mas kawin. Namun, Hamid Kurdi tidak mempermasalahkan hal tersebut dan menikahkan putrinya dengan Ahmad Khatib dengan maskawin yang ditanggung olehnya.
Pernikahan ini menjadi berkah karena Ahmad Khatib di kemudian menjadi ulama besar dan guru di Masjidil Haram. Murid-muridnya pun banyak yang menjadi tokoh penting dalam pembaruan Islam di Indonesia, terutama di Minangkabau.
Sepenggal cerita di atas menjadi salah satu perjalanan dakwah salah satu ulama besar dan kharismatis Indonesia, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Ulama yang sudah naik haji di usia 16 tahun ini dikenal sebagai sosok alim, cerdas, dan memiliki pengaruh besar, baik di Mekkah maupun di tanah air.
Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dilahirkan di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 26 Juni 1860 (6 Dzulhijjah 1276 H). Terlahir dari ayah bernama Abdul Latif, seorang ulama terkemuka di Minangkabau, sejak kecil Al Minangkabawi telah menunjukkan kecerdasan dan minat yang besar terhadap ilmu agama.
Pendidikannya dimulai dengan belajar Al Qur'an dan ilmu-ilmu dasar keislaman dari ayahnya. Al Minangkabawi kemudian melanjutkan studinya ke berbagai ulama terkemuka di Minangkabau, termasuk Syekh Abdurrahman Koto Tuo. Pada tahun 1876, di usia yang masih muda yakni16 tahun, Ahmad Khatib berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu.
Di Mekkah, ia belajar kepada sejumlah ulama besar, seperti Sayyid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha, Sayyid Utsman bin Muhammad ad-Dimyathi, dan Syekh Yusuf an-Nabhani.
Al Minangkabawi mempelajari berbagai disiplin ilmu, termasuk fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadis, bahasa Arab, dan ilmu falak. Kecerdasannya yang luar biasa membuatnya cepat menguasai berbagai ilmu tersebut dan diakui oleh para gurunya.
Setelah menyelesaikan studinya, Syekh Ahmad Khatib tidak langsung kembali ke Indonesia. Beliau memilih untuk menetap di Mekkah dan mengabdikan dirinya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan.
Pada tahun 1896, beliau diangkat menjadi imam Masjidil Haram, sebuah posisi yang sangat prestisius dan menunjukkan pengakuan atas keilmuan dan integritasnya.
Sebagai imam Masjidil Haram, Syekh Ahmad Khatib memiliki pengaruh yang sangat besar. Beliau menjadi rujukan bagi umat Islam dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Ceramah-ceramah dan fatwa-fatwanya sangat dihormati dan diikuti oleh banyak orang. Selain itu, beliau juga aktif menulis kitab tentang berbagai masalah keislaman.
Salah satu kontribusi terbesar Syekh Ahmad Khatib adalah dalam bidang pendidikan. Ia mendirikan madrasah di Mekkah yang dikenal dengan nama Madrasah Dar al-Ulum. Madrasah ini menjadi tempat belajar bagi banyak талаба dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Beberapa tokoh penting Indonesia yang pernah menjadi murid Syekh Ahmad Khatib antara lain KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan H Agus Salim.
Peran dalam Penyebaran Islam di Indonesia
Meskipun hidupnya dihabiskan di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib tetap memberikan kontribusi yang besar bagi penyebaran Islam di Indonesia. Melalui murid-muridnya, иде-иде pembaruan Islam yang beliau ajarkan di Mekkah menyebar luas di tanah air.
KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, dua murid Syekh Ahmad Khatib yang paling terkenal, kembali ke Indonesia dengan membawa semangat pembaruan Islam. KH Hasyim Asy'ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berfokus pada pelestarian tradisi dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Sementara itu, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, sebuah organisasi Islam yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah dengan semangat modernisasi. Selain melalui murid-muridnya, Syech Al Minangkabawi juga memberikan kontribusi melalui karya-karyanya.
Selain dikenal sebagai ulama besar, Syekh Ahmad Khatib juga dikenal memiliki sejumlah kisah unik dan menarik semasa hidup. Salah satunya Syech Al Minangkabawi diberkati kecerdasan luar biasa. Konon, dirinya mampu menghafal Alquran dalam waktu yang sangat singkat. Selain itu, beliau juga cepat menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang dipelajarinya.
Selain kecerdasan, Syekh Al Minangkabawi juga dikenal sebagai sosok yang tegas dalam berpendapat. Dia tidak takut untuk menyampaikan kebenaran, meskipun bertentangan dengan pendapat orang lain. Ketegasan beliau ini membuatnya disegani dan dihormati oleh banyak orang.
Satu lagi sikapnya yang layak menjadi teladan yakni kedermawanan sifatnya. Diceritakan dari banyak sumber, Syekh Al Minangkabawi sering membantu orang-orang yang membutuhkan, baik di Mekkah maupun di Indonesia. Konon, beliau memiliki sejumlah properti di Mekkah yang hasilnya digunakan untuk membantu fakir miskin dan membiayai pendidikan.
Karena kedudukannya sebagai imam Masjidil Haram, Syekh Al Minangkabawi juga memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga kerajaan Saudi. Beliau sering dimintai pendapat dan nasihat oleh raja dan para pangeran Saudi dalam berbagai masalah.
Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi wafat di Mekkah pada tanggal 8 Maret 1916 (4 Jumadil Awal 1334 H). Dia dimakamkan di Ma'la, pemakaman umum di Mekkah. Meskipun telah wafat lebih dari seabad yang lalu, namun metode dakwah dan ajaran-ajaran Al Minangkabawi tetap hidup dan menginspirasi umat Islam di Indonesia hingga saat ini. Hal ini sekaligus menjadi bukti kebesaran sosoknya sebagai ulama masyhur.
Referensi:
Tulisan Azyumardi Azra berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana, 2005.
Buku karya Martin van Bruinessen :Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia”. Bandung: Mizan, 1995.
Buku Deliar Noer berjudul “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942”. Jakarta: LP3ES, 1980.