Salah satu peristiwa Sejarah di bulan Ramadan yaitu Agresi Militer Belanda Pertama yang meledak pada 21 Juli 1947 yang bertepatan dengan awal Ramadan 1366 Hijriyah (1 Ramadan). Namun, Indonesia menolak tunduk. Foto memperlihatkan tentara Belanda saat berpatroli di kawasan Linggarjati, Kuningan. (Foto: Instagram/mf86_history).
JAKARTA, (ERAKINI) - Agresi Militer Belanda I menjadi salah satu bab paling menentukan dalam perjalanan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Pada yang bertepatan dengan awal Ramahan 1366 Hijriyah (1 Ramahan), Belanda melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang telah memproklamasikan kemerdekaan dua tahun sebelumnya.
Serangan ini bukan sekadar operasi keamanan seperti yang diklaim Belanda, melainkan langkah sistematis untuk menghidupkan kembali kekuasaan kolonial di tanah Nusantara. Berikut ulasan lengkap mengenai latar belakang, jalannya peristiwa, perlawanan rakyat, hingga dampak besar yang ditimbulkannya.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda tidak serta-merta mengakui kedaulatan tersebut. Melalui dukungan Sekutu, khususnya Inggris, Belanda berupaya menancapkan kembali pengaruhnya.
Pada 1946, kedua pihak menandatangani Perjanjian Linggarjati. Dalam kesepakatan itu, Belanda mengakui kekuasaan de facto Republik Indonesia atas Jawa, Sumatra, dan Madura. Namun, implementasinya jauh dari komitmen awal. Belanda tetap bergerak memperluas kontrol serta mendorong pembentukan negara-negara federal seperti Negara Indonesia Timur untuk melemahkan posisi Republik.
Belanda menyebut agresi tersebut sebagai ‘Aksi Polisionil’, seolah-olah hanya operasi penertiban keamanan. Dalih yang digunakan antara lain:
- Menegakkan stabilitas dan ketertiban.
- Mengatasi kelompok bersenjata yang dianggap mengganggu.
- Mengamankan kembali aset ekonomi strategis seperti perkebunan dan pelabuhan.
Pada kenyataannya, operasi ini merupakan upaya militer terbuka untuk melumpuhkan Republik Indonesia yang baru berdiri.
1. Operasi Militer 21 Juli 1947
Pada dini hari 21 Juli 1947, Belanda mengerahkan lebih dari 100.000 personel militer lengkap dengan pesawat tempur serta kendaraan lapis baja. Serangan dilakukan serentak di berbagai wilayah penting di Jawa dan Sumatra.
Beberapa kota strategis yang berhasil diduduki antara lain:
- Bandung
- Semarang
- Malang
- Sebagian besar wilayah Jawa Timur
Di Sumatera, pusat-pusat ekonomi seperti Medan dan Palembang menjadi target utama demi menguasai sumber daya vital.
2. Perlawanan TNI dan Rakyat
Walau kalah dalam hal persenjataan modern, Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama rakyat melakukan perlawanan sengit. Strategi gerilya diterapkan secara luas untuk menghambat pergerakan musuh.Di bawah kepemimpinan Sudirman, TNI menjalankan taktik perang berpindah dan serangan mendadak. Rakyat turut ambil bagian melalui sabotase serta dukungan logistik.
Wilayah seperti Ambarawa, Magelang, Sumatera Barat, dan Aceh menjadi simbol ketahanan Republik. Meskipun banyak daerah jatuh ke tangan Belanda, pemerintahan Republik tetap bertahan dan tidak berhasil dihancurkan.
Agresi Disorotan Dunia, Tekanan Internasional Menguat
Serangan Belanda memicu kecaman global. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan India menyuarakan penolakan keras terhadap agresi tersebut. Akhirnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa turun tangan. Pada 4 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi gencatan senjata yang memaksa Belanda menghentikan operasi militernya.
Dampak Besar yang Tak Terelakkan
1. Kerusakan dan Korban Jiwa
Agresi ini menimbulkan kehancuran luas di berbagai kota dan desa. Ribuan warga sipil menjadi korban, sementara kondisi ekonomi Republik terguncang akibat direbutnya kawasan industri dan perkebunan.
2. Nasionalisme yang Kian Membara
Alih-alih mematahkan semangat bangsa, agresi justru memperkuat tekad rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Gelombang dukungan terhadap TNI meningkat, dan banyak pemuda bergabung dalam barisan perjuangan.
3. Jalan Menuju Perundingan Renville
Tekanan internasional berujung pada perundingan baru yang menghasilkan Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Meski isi perjanjian ini lebih menguntungkan pihak Belanda dan mempersempit wilayah Republik, perjuangan tidak berhenti. Konflik berlanjut hingga pecahnya Agresi Militer Belanda II pada 1948.
Agresi Militer Belanda I membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh tanpa ujian berat. Serangan 21 Juli 1947 yang bertepatan dengan awal Ramadan 1366 Hijriyah (1 Ramadan), memperlihatkan tekad Belanda untuk kembali berkuasa, tetapi juga menunjukkan ketangguhan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan.
Perlawanan gigih di medan perang serta dukungan internasional akhirnya mengantarkan Indonesia menuju pengakuan kedaulatan secara resmi pada 27 Desember 1949. Dari dentuman meriam hingga meja perundingan, sejarah mencatat bahwa semangat merdeka tak pernah bisa dipadamkan.