Cerita dari Makkah: Nenek Rennu Mengaji di Tempat Nabi Terima Wahyu Pertama
Abdul Rahman Ahdori
Siang itu, Minggu (2/6/2024), tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah Al Mukarramah, berkunjung ke Sektor 1 pemondokan jemaah. Didampingi Ketua Kloter 3 Embarkasi Makassar (UPG 3) yang beranggotakan jemaah asal Pare-pare, Barru, dan Maros, M Hasyim Usman, anggota MCH bisa berbincang lepas. Hadir juga petugas kesehatan kloter Hafida Jufri yang juga berperan sebagai penerjemah.
Saat itu, tampak duduk santai di atas kasur di hotel Al Hassan 113 bilangan Syisyah, seorang perempuan lansia mandiri sedang berkemas. Ibu Rennu Side Lauma namanya. Usia 98 tahun. Tampak bahagia. Wajah benderang, bak rembulan di siang hari.
Persis namanya, Rennu yang antara lain berarti bahagia. Guru dan pengaji Al-Qur'an yang sangat aktif. Tidak butuh alat bantu, Ibu Rennu menjadikan kitab suci laksana kawan sejati. Bukan saja jadi teman selama puluhan tahun lebih usianya, tetapi juga selama di Makkah, ia tinggal di kawasan Hira.
Goa legendaris. Goa di mana Baginda Muhammad SAW pertama kali diajari mengaji oleh Jibril As. Anda dapat bayangkan, betapa benar ujaran, "Mau tahu seseorang, kenalilah temannya." Cari tahulah siapa yang menemaninya selama ini.
Dan teman sejati Nenek Rennu adalah Al-Qur'an. Dengan suara lembut, Nenek berkisah soal kegiatannya sehari-hari di kampung halaman. Janda beranak 5 ini, dikarunia keturunan yang nyaris semua sangat cinta Al-Qur'an.
Salah satu anaknya, seorang tuna netra, hafida--bukan Hafida si penerjemah, penghafal kelas nasional. Bolak balik Jakarta-Maros, untuk menerima piagam sebagai juara musbaqah tilawatil qur'an (MTQ) bagi disabilitas. Rennu mengajar ngaji dari generasi ke generasi.
Dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya saat berbicara, nenek Rennu bercerita siapa "santri-santri" yang jadi alumni taman mengajinya di kampung. "Kapala desa dan orang tuanya juga anaknya adalah murid-murid saya," ujar Rennu tergelak, seperti dikutip erakini dari Kemenag, Minggu (2/6/2024).
Nenek Rennu, saat MCH meminta izin memasuki kamar 407, lantai 4, samping kanan lift, sedang "bebenah". Yang bikin hati tersentuh, Nenek Rennu "tinggal dan tidur" sekasur dengan temannya; Al-Quran yang mulia. Saat kami tanya apakah masih bisa leluasa mengaji, Nenek Rennu tampak cekatan.


















