Surat Al-Ikhlas merupakan surat yang cukup populer bagi umat Islam di Indonesia. Selain suratnya yang pendek, surat Al-Ikhlas mudah dihafal karena bait yang sederhana. Meski tergolong surat pendek, membaca surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Keutamaan tersebut antara lain mampu menjaga umat Islam dari siksa api neraka.
Surat ini menjelaskan tentang tauhid, menolak para penyembah berhala, sebagai hiburan kepada Nabi Muhammad saw dan sebagai isyarat bahwa orang yang bergantung kepada Allah, maka Allah tidak akan menguasakan orang itu di bawah kekuasaan selain-Nya dan tidak akan menimpakan kesusahan kepadanya.
Dilansir dari NU Online, beberapa riwayat asbabu nuzul surat sebagaimana dikutip oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya, Tafsirul Munir:
Pertama, diriwayatkan oleh Iman Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab:
أن المشركين قالوا للنبي صلّى اللَّه عليه وسلّم: يا محمد، انسب لنا ربك، فأنزل اللَّه تعالى: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
Artinya, "Sungguh kaum musyrikin berkata kepada Nabi saw: "Wahai Muhammad, sifati Tuhanmu kepada kami!"Lantas Allah menurunkan surah al-Ikhlaash samapi selesai."
Kedua dari Ibnu Jarir dan At-Tirmidzi, yang berkata:
الصَّمَدُ الذي لم يلد ولم يولد لأنه ليس شيء يولد إلا سيموت، وليس شيء يموت إلا سيورث، وإن اللَّه عز وجل لا يموت ولا يورث. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ ولم يكن له شبيه ولا عدل، وليس كمثله شيء
Artinya, "As-Shamad maknanya adalah Dzat tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada sesuatu yang dilahirkan melainkan dia akan mati dan tidak ada sesuatu yang mati melainkan diwarisi. Sesungguhnya Allah swt tidak akan mati dan tidak akan diwarisi.
Tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai dan membandi-Nya dan tidak ada suatupun yang serupa dengan Dia." Ketiga dari Imam Qatadah, Ad-Dhahhak, dan Muqatil, yang berkata:
جاء ناس من اليهود إلى النبي صلّى اللَّه عليه وسلّم، فقالوا: صف لنا ربك، فإن اللَّه أنزل نعته في التوراة، فأخبرنا من أي شيء هو؟ ومن أي جنس هو؟ أذهب هو أم نحاس أم فضة؟ وهل يأكل ويشرب؟ وممن ورث الدنيا ومن يورثها؟ فأنزل اللَّه تبارك وتعالى هذه السورة، وهي نسبة اللَّه خاصة
Artinya, "Ada sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi saw dan berkata: "Sifati Tuhanmu kepada kami. Sesungguhnya Allah menurunkan sifat-Nya di dalam kitab Taurat. Dia memberitahu kami dari mana Dia berasal dan dari jenis apa Dia dibuat?
Apakah dari emas, timah atau perak? Apakah Dia makan dan minum? Dari siapa Dia mewarisi dunia dan siapa yang mewariskannya?" Lantas Allah swt menurunkan surat ini. Surat ini adalah sifat khusus bagi Allah swt."
Lebih lanjut, surat Al-Ikhlas mempunyai banyak nama. Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan 20 nama. Seperti itu juga Imam As-Shawi dalam Hasyiah As-Shawi 'ala Tafsir Jalalain, yang juga menyebutkan 20 nama surat ini beserta alasan penamaannya.
Surat At-Tajrid (Penafian segala sekutu bagi-Nya), karena orang yang bergantung (hatinya) dengan surat ini akan kokok dari berubah-ubah. Surat At-Tauhid, karena surat ini menunjukan kepada ajaran pokok tauhid.
Lalu surat An-Najat (Keselamatan), karena pembaca surat ini akan selamat dari api Neraka. Al-Wilayah (Kedekatan kepada Allah), karena orang yang ahtinya bergantung dengan surat ini, maka Allah akan memberinya wilayah (derajat wali).
Surat An-Nisbah karena perkataan seseorang dalam asbabu nuzul surat: "انسب لنا ربك" (Sifati tuhanmu kepada kami). Surat Al-Ma'rifah (Pengetahuan tentang Allah), karena orang yang memahami surat ini maka ia mengetahui atau mengenal Allah. Surat Al-Jamal (Keindahan), karena surat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Indah. Surat Al-Muqasyqasyah, yakni penyembuhan dari kemusyrikan dan munafik.
Surat Al-Mu'awwidah yakni menjaga orang yang membaca surat ini dari fitnah dunia dan akhirat. Surat As-Shamad, karena penyebutan kata tersebut dalam surat. Surat Al-Asas, karena surat ini merupakan pokoknya agama. Surat Al-Mani'ah, karena surat ini mencegah dari fitnah kubur dan siksa neraka.
Surat Al-Muhtadzir karena malaikat hadir mendengarkan bila surat ini dibaca. Surat Al-Munfirah, karena setan akan lari terbirit-birit saat dibacakan surat ini. Surat Al-Bara'ah, karena surat ini membebaskan dari syirik.
Kemudian, Mudzakkirah, (Pemberi peringatan), karena surat ini mengingatkan hamba akan kemurnian Tauhid. Surat An-Nur, karena surat ini menerangi hati. Surat Al-Insan, karena manusia sangat memerlukan surat ini. Beragam nama surat Al-Ikhlas kiranya cukup menunjukkan bahwa surat Al-Ikhlas adalah surat yang sangat istimewa, mulia, dan luar biasa sebagaimana dikatakan:
زيادة الاسماء تدل على شرف المسمى
Artinya, "Penambahan banyak nama menunjukkan atas mulianya yang dinamai." (As-Shawi, juz IV/497). Ragam Keutamaan Surat Al-Ikhlas Sebenarnya banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan surat Al-Ikhlas.
Di antaranya adalah pahala membaca surat ini sama dengan pahala membaca sepertiga Al-Qur'an. Karena seluruh isi kandungan Al-Qur'an adalah penjelasan keterangan global dalam surat ini. Selain itu juga karena pokok-pokok syariat secara umum ada tiga: tauhid, pengikraran had dan hukum, serta penjelasan amalan. Surat ini telah menjelaskan tauhid dan taqdis (penyucian).
Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa'i, dari Abu Sa'id al-Khudri, ada orang yang mendengar seseorang membaca surat Al-Ikhlas secara berulang-ulang.
Ketika pagi tiba, ia datang kepada Nabi saw dan menceritakan hal tersebut, seakan ia meremehkannya. Lantas Nabi saw bersabda:
Artinya, "Demi Zat yang jiwaku dalam kekuasaan- Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas itu pastilah setimpal dengan sepertiga Al-Qur'an."
Dalam riwayat Imam Al-Bukhari yang lain, dari Abu Sa'id ra, ia berkata, "Rasulullah saw pernah bersabda kepada para sahabat:
أيعجز أحدكم أن يقرأ ثلث القرآن في ليلة؟ فشقّ ذلك عليهم، وقالوا: أينا يطيق ذلك يا رسول اللَّه؟ فقال: اللَّه الواحد الصمد ثلث القرآن
Artinya, "Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an semalam?" Mereka pun merasa berat dan berkata, "Siapa di antara kami yang mampu melakukan itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Surat Al-Ikhlas merupakan sepertiga Al-Qur'an".