Sejumlah umat Islam melakukan ziarah kubur menjelang Ramadan (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - PuasaRamadan adalah bulan yang ditunggu-tunggu seluruh umat Islam di dunia. Di Indonesia, bulan suci ini biasanya disambut dengan beragam tradisi masyarakat. Tradisi sambut Ramadan dilakukan masyarakat sesuai dengan adat dan kebiasaan di daerah masing-masing.
Banyaknya tradisi menyambut bulan puasaRamadan di Indonesia tentu tidak muncul bergitu saja. Tradisi itu muncul melalui proses budaya yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berikut beberapa tradisi sambut Ramadhan di berbagai daerah, dirangkum erakini dari berbagai sumber, Senin (9/2/2025)
Istilah ziarah adalah mengunjungi makam orang yang telah meninggal dunia dengan tujuan berdoa untuk para pendahulu, kerabat, dan sanak saudara yang telah meninggal. Jelang Ramadan, tempat pemakaman umum (TPU) biasanya ramai peziarah.
Melakukan ziarah kubur memang menjadi salah satu kebiasaan yang dilakukan umat Muslim Indonesia dalam menyambut bulan puasaRamadan. Umat Muslim datang berziarah memanjatkan doa sanak keluarga yang sudah meninggal.
Meugang adalah tradisi yang diawali dengan pemotongan sapi, kerbau, kambing, dan ayam, serta itik (bebek). Daging tersebut kemudian dinikmatin bersama keluarga dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh.
Tradisi sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu atau dimulai sejak masa kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 Masehi). biasanya dilakukan dua hari sebelum Ramadhan, atau menyambut hari raya Idul fitri dan juga hari raya Idul adha.
Bebantai adat merupakan salah satu tradisi masyarakat Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Bebantai adalah kegiatan memotong hewan, seperti kerbau dan sapi dalam rangka menyambut datangnya bulan puasa Ramadhan. Tradisi ini biasanya dilakukan sepekan sebelum bulan Ramadhan.
Sebagian masyarakat Sumatera Utara (Sumut), khususnya bagian Selatan, memiliki tradisi menyambut bulan puasaRamadan, yakni Marpangir. Marpangir merupakan kegiatan mandi di sungai yang umumnya dilakuakn sehari sebelum Ramadan.
Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk bersihkan diri. Marpangir biasanya mandi dengan cara tradisional, tidak menggunakan wewangian dari sabun mandi atau sabun cair. Paket ramuan marpangir biasanya dedaunan dan rempah yang disebut Pangir. Paket Pangir terdiri dari daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi, dan bunga pinang.
Dalam menyambut bulan Ramadan, tentunya orang Minang juga enggak akan kalah soal kemeriahannya. Di Sumatera Barat, warga Minang biasa melakukan tradisiMalamang atau membuat lemang, sehingga bulan sebelum puasa sering juga disebut bulan Lemang (lamang).
Lemang merupakan makanan tradisional berupa beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu yang panjang, disisipkan daun pisang, lalu dibakar. Tradisi membuat lemang ini terkenal di beberapa daerah, seperti Padang, Pariaman, Padang Pariaman, dan Painan.
Masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta juga memiliki tradisi mandi dalam menyambut Ramadan, yang disebut Padusan atau mandi disuatu empang atau kolam maupun pemandian umum pada bulan Sya’ban (ruwah).
Padusan biasanya dilakukan sehari sebelum menjalani ibadah puasa Ramadhan. Makna padusan bagi masyarakat Jawa adalah menyucikan diri serta membersihkan jiwa dan raga dalam menyambut datangnya bulan suci.
Tujuannya agar saat Ramadan datang, umat Islam dapat menjalani ibadah dalam kondisi suci lahir maupun batin. 7. Punggahan dan Pudunan Punggahan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Islam di Pekalongan, Jawa Tengah.
Tradisi Punggahan dan Pudunan merupakan tradisi yang turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi Punggahan dan Pudunan digunakan oleh masyarakat sebagai sarana untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia untuk diberikan pengampunan dosa dari Tuhan Yang Maha Esa.
Biasanya, masyarakat akan melantunkan doa-doa seperti tahlil dan bacaan Surah Yasin, serta pemberian bingkisan (berkat). Masyarakat memaknai pemberian berkat ini dilakukan dengan tujuan sedekah atau bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah diberikan nikmat kecukupan dalam keluarganya.
Masyarakat Jawa Timur punya tradisiMegengan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-menurun. Nama Megengan berasal dari kata 'Megeng' yang bermakna menahan. Jadi, Megengan dimaknai menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan lain sebagainya.
Megengan juga bermakna agar keselamatan senantiasa selalu terjaga selama bulan Ramadan. Menurut sejarahnya, Megengan merupakan akulturasi dari budaya Jawa dan Islam. Hal tersebut dilakukan Walisongo saat menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Tujuannya tidak lain adalah agar Agama Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Megengan biasanya digelar pada pekan terakhir Bulan Sya’ban atau antara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadan.
TradisiMegengan ditandai dengan selamatan di masjid, musala, ataupun langgar. Makanan yang sudah dibuat oleh para wali dikumpulkan di suatu tempat dan dilanjutkan dengan doa-doa yang dipimpin oleh seorang pemuka agama atau tokoh masyarakat. Selanjutnya semua orang yang sudah berdoa tersebut akan mengambil makanan yang tersedia di hadapannya.
Dugderan merupakan upacara yang dilaksanakan tiap menjelang datangnya bulan Ramadan. Upacara ini cerminan dari perpaduan tiga etnis yang mendominasi masyarakat Semarang, yakni etnis Jawa, Tionghoa dan Arab. Nama Dugderan diambil dari kata “dugder” yang berasal dari kata “dug” (bunyi bedug yang ditabuh) dan “der” (bunyi tembakan meriam). Bunyi “dug” dan “der” tersebut sebagai pertanda akan datangnya awal Ramadan.
Menurut sejarah, upacara Dugderan diperkirakan mulai berlangsung sejak tahun 1881 di kala Semarang dipimpin oleh Bupati RMTA Purbaningrat. Upacara ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat dalam masyarakat mengenai awal dimulainya puasa pada bulan suci Ramadan.
Oleh karena itu dicapailah suatu kesepakatan untuk menyamakan persepsi masyarakat dalam menentukan awal Ramadhan yakni dengan menabuh bedug di Masjid Agung Kauman dan meriam di halaman kabupaten dan dibunyikan masing-masing tiga kali dan dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di masjid.
Bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Barat, pastinya sudah tidak asing lagi dengan tradisiMunggahan. Warga Jawa Barat sudah terbiasa melakukan Munggahan sekitar satu atau dua hari sebelum bulan puasa Ramadhan. Munggahan berasal dari kata bahasa Sunda munggah yang artinya naik secara harfiah, atau bermakna naik ke bulan suci yang derajatnya lebih tinggi.
Tradisimunggahan dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, untuk membersihkan diri dari hal-hal yang buruk selama setahun ke sebelumnya.