Mualaf menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana seorang atlet dapat menemukan jalan baru dalam hidup setelah pensiun dari karier di dunia olahraga. Keberaniannya mengambil keputusan untuk berubah dan mengikuti keyakinan baru patut menjadi contoh inspirasi bagi yang ingin mengimani Islam.
Adriyanti Firdasari merupakan pemain tunggal putri yang berjaya di eranya bersama Maria Kristin Yulianti. Firdasari pernah meraih Medali Emas di SEA Games 2005 dan 2007, serta Juara Indonesia Masters 2014.
Setelah gantung raket, tepatnya tahun 2016, Ratu Bulu Tangkis Indonesia itu memutuskan istiqomah menjadi seorang Muslim. Firdasari menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah penting dalam hidupnya dan memberikan makna baru bagi dirinya.
Setelah memeluk Islam, Adriyanti Firdasari sempat untuk pindah ke Kanada. Di sana, ia terus menjalani kehidupan dengan lebih fokus pada spiritualitas dan pengembangan diri. Meskipun telah meninggalkan dunia bulu tangkis profesional, Firdasari tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Namun, setelah beberapa tahun di Kanada, ia memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia.
Menurut Firda, motivasi utamanya untuk memeluk agama Islam adalah untuk memperdalam ilmu agama. Setelah menjadi mualaf pada tahun 2016, Firdasari mulai mengenakan hijab sebagai bagian dari identitas barunya.
Dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik sesuai syariat agama menjadi motivasi terkuat dirinya memutuskan untuk memeluk Islam. Motivasi ini seringkali terkait dengan keinginan untuk melakukan transformasi diri dari kurang religius menjadi lebih religius, yang merupakan bagian dari fenomena hijrah yang banyak terjadi di kalangan generasi muda saat itu.
Firdasari juga menyatakan selalu teringat ajaran yang ada dalam Al Qur;an, yang memberikan inspirasi dan motivasi dalam proses hijrahnya. Keputusan ini bukan hanya tentang perubahan spiritual, tetapi juga mencerminkan keinginan untuk meninggalkan kebiasaan yang dianggap tidak bermanfaat dan beralih ke gaya hidup yang lebih Islami.
Peran keluarga dan teman sangat besar dalam keputusannya untuk istiqomah menjadi umat Nabi Muhamamad SAW. Keluarga dan teman memang sering memberikan dukungan emosional yang diperlukan saat seseorang menjalani perubahan besar dalam hidupnya, termasuk perubahan agama. Mereka bisa menjadi sumber kekuatan dan motivasi ketika seseorang menghadapi tantangan dalam proses hijrah.
Keluarganya tergolong terbuka untuk berdiskusi tentang alasan di balik keputusan memilih Islam. Kondisinya itu sangat membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik dan memungkinkan anggota keluarga untuk saling mendukung dan menghargai pilihan Firdasari.
Setelah memutuskan mualaf, diakui Firda banyak komentar beragam termasuk reaksi terhadap perubahan penampilannya. Banyak netizen yang menyambangi media sosialnya menilai jika penampilan Firda saat ini jauh lebih cantik dan anggun dengan mengenakan pakaian tertutup.
Kalangan penggemar dan komunitas olahraga juga memberikan dukungan positif terhadap keputusannya memeluk Islam. Keputusan ini sering kali dianggap sebagai langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih religius.
Meski demikian, ada saja komentar miring tentang keputusannya menjadi mualaf. Reaksi negatif itu hanya datang dari segelintir orang yang skeptis terhadap perubahan gaya hidup dirinya yang dianggap terlalu ekstrem atau berbeda dari norma sebelumnya. Menanggapi hal itu Firda tidak terlalu menghiraukannya.
Perempuan kelahiran Jakarta 16 Desember 1986 itu kini telah berhijab. Dia mengatakan, hijab tidak mengganggu dia untuk beraktivitas menjadi pelatih di lapangan bulu tangkis.
Dia awalnya sempat berpikir akan kepanasan dengan memakai hijab. Namun, ternyata salah. Ia malah merasa lebih nyaman dengan kesehariannya sebagai pelatih meski kini dia memakai hijab.
"Enggak ada perbedaan, enggak menghalangi kegiatan apapun. Dulu memang mikirnya bakal panas, ternyata enggak kok. Ada atlet saya juga yang main di kejuaraan juga ada yang berhijab dan gak ada larangan juga dari BWF. Jadi pakai hijab gak menghalangi," kata dia.
Setelah pensiun pada Desember 2015, Firdasari menjadi pelatih sektor tunggal putri kelompok U-15 di PB Jaya Raya. "Saya telah menjadi pelatih tunggal putri sejak Januari 2016 dan melatih di Jaya Raya. Saya juga masih belajar banyak hal untuk menjadi pelatih karena melatih itu tidak mudah seperti mengenal karakter para pemain," kata Firdasari
Firdasari menuturkan, setelah belajar menjadi asisten pelatih, ternyata dia memiliki passion untuk melatih dan melihat anak-anak berkembang menjadi pemain bulu tangkis. Dengan harapan, akan ada siswa-siswanya yang akan masuk Pelatnas PBSI dan juara di kejuaraan-kejuaraan internasional.
"Saya ingin sharing pengalaman dan ilmu ke atlet-atlet muda. Saya senang saja melihat mereka berkembang," kata dia. Firda berharap anak-anak asuhnya akan menjadi pemain unggulan dan meraih gelar dalam pertandingan internasional sehingga mengharumkan nama bangsa.
Selain pernah menekuni dunia kepelatihan, Firdasari juga serius mengembangkan bisnis dengan membuat brand hijabnya dengan nama By.Dya pada 2019. Dia berduet dengan adiknya, Lidya Praditta, yang memang sudah lebih dulu berkecimpung di bisnis fashion.
"Aku bagian produksi, dari pemilihan bahan-bahan sampai ke tukang jahit dan barang jadi. Itu tanggung jawab aku," kata pemilik medali emas SEA Games 2005 itu. Di luar bisnis hijab, Firda ternyata juga memiliki bisnis lain yakni usaha tanaman yang diberi nama @joijo.plant.