Stephanie Kurlow, Penari balet berhijab pertama di dunia (Foto: Ist).
JAKARTA, (ERAKINI) - Kisah mualaf seorang Stephanie Kurlow adalah bukti bahwa keberagaman dapat diterima bahkan dalam dunia yang penuh stereotip seperti balet. Dengan keputusannya berhijab, ia tidak hanya mendobrak norma-norma tradisional tetapi juga membuka jalan bagi generasi baru atletbalet Muslimah di seluruh dunia.
Stephanie Kurlow adalah seorang atlet balerina asal Australia yang mencuri perhatian dunia karena tekadnya untuk menjadi balerina profesional pertama yang mengenakan . Kisah hidup dan perjalanan kariernya tidak hanya mencerminkan perjuangan seorang individu untuk meraih impian, tetapi juga menjadi simbol keberanian dalam menghadapi tantangan budaya dan agama.
Dilansir dair berbagai sumber pada Senin (24/3/2025), Stephanie kecil lahir di Sydney, Australia, dari ayah berkebangsaan Australia dan ibu berdarah Rusia. Sejak usia dua tahun, Stephanie sudah menunjukkan kecintaannya pada seni tari.
Namun, hidupnya berubah drastis ketika keluarganya memutuskan untuk memeluk agama Islam pada tahun 2010. Saat itu Stephanie berusia sembilan tahun, dan tiga tahun kemudian ia mulai mengenakan hijab sebagai bagian dari identitas keagamaannya
Bagi Stephanie, Islam memberikan makna mendalam dalam hidupnya. Ia merasa nilai-nilai Islam seperti kesederhanaan, menjaga martabat, dan hidup sehat sangat sesuai dengan prinsip hidupnya. Namun, perubahan ini juga membawa tantangan besar dalam mengejar mimpinya sebagai balerina professional.
Setelah memutuskan sebagai seorang muslimah, Stephanie menghadapi kendala besar yakni tidak ada sekolah balet di Sydney yang bersedia menerima murid berhijab.
Dunia balet yang dikenal konservatif dan penuh aturan ketat mengenai penampilan membuat Stephanie merasa terpinggirkan. Bahkan ia bahkan sempat berhenti menari karena sulit menemukan tempat yang dapat mengakomodasi keyakinannya
Namun, semangatnya tidak surut. Stephanie terinspirasi oleh tokoh-tokoh seperti Misty Copeland, balerina Afrika-Amerika pertama yang menjadi penari utama di American Ballet Theatre, serta Amna Al Haddad, atlet angkat besi berhijab asal Uni Emirat Arab (UEA). Tokoh-tokoh ini memberinya keberanian untuk terus berjuang
Tak pantang menyerah dalam mewujudkan mimpinya, Stephanie meluncurkan kampanye penggalangan dana melalui platform LaunchGood. Dari penggalangan dana itu dirinya berhasil mengumpulkan lebih dari $7.000 AUD untuk membiayai pelatihan balet penuh waktu.
Kisah Stephanie ini rupanya menarik perhatian dunia internasional hingga dirinya berkesempatan mendapatkan beasiswa "Game Changer" dari perusahaan olahraga asal Swedia, Björn Borg.
Stephanie juga menjadi duta kampanye "Remove Hate From The Debate," yang bertujuan melawan ujaran kebencian secara online. Ia menggunakan platform ini untuk menyuarakan pentingnya inklusivitas dan penghormatan terhadap perbedaan agama dan budaya,
"Saya berniat untuk menyatukan dunia dengan menjadi balerina muslim pertama, agar saya bisa menginspirasi banyak orang dalam mempercayai diri sendiri dan mengejar cita-cita mereka," tutur Stephanie.
Respons masyarakat terhadap keputusan Stephanie Kurlow untuk berhijab dala menjalani karier sebagai atlet balerina pertama di dunia sangat beragam. Tak sedikit orang mengagumi keberanian Stephanie untuk mengejar impiannya meskipun harus menghadapi tantangan besar.
Ia telah menginspirasi banyak perempuan, terutama dari komunitas Muslim, untuk tetap berpegang pada identitas mereka sambil mengejar cita-cita. Stephanie sering diundang untuk berbicara di seminar-seminar yang membahas pemberdayaan perempuan dan inklusivitas dalam seni, yang menunjukkan bahwa banyak orang mendukung visinya untuk menciptakan ruang yang lebih terbuka bagi semua orang dalam dunia tari
Di sisi lain, Stephanie juga tidak luput dari sinisme dan cibiran. Banyak sekolah balet awalnya menolak untuk menerima murid yang mengenakan hijab, dan ia sering mendapatkan komentar negatif serta Islamofobia di media sosial.
Beberapa orang berpendapat bahwa hijab tidak sesuai dengan citra balet, yang sering kali dianggap sebagai seni yang memerlukan kebebasan bergerak tanpa batasan pakaian. Stephanie mengakui bahwa ia menerima ancaman dan komentar kebencian sejak usia muda, tetapi ia tetap teguh pada keyakinannya
Setelah mengalami suka duka sebagai seorang atletbalet berhijab, Stephanie menyimpan visi besar untuk mendirikan akademi seni pertunjukkan yang inklusif. Akademi ini akan menyediakan program khusus bagi pemuda dari berbagai latar belakang agama, ras dan budaya, serta menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri melalui seni.
Stephanie berkomitmen untuk membuat biaya masuk ke sekolah baletnya relatif murah. Ia berusaha agar biaya pendidikan tidak menjadi penghalang bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk belajar tari. Dengan menggalang dana dan dukungan dari komunitas, ia berharap dapat menyediakan pendidikan berkualitas tanpa membebani orang tua secara finansial.
Tidak hanya ingin mendirikan sekolah balet, Stephanie juga bercita-cita untuk menjadi duta bagi generasi muda agar mereka merasa bangga dengan identitas mereka dan tetap mengejar impian meskipun ada batasan. Ia sering berbicara di seminar-seminar tentang pemberdayaan perempuan dan pentingnya keberagaman dalam seni.
"Saya percaya, saya di ada di sini untuk menginspirasi dan memotivasi anak muda yang merasa terisolasi atau tidak terhubung karena label dan batasan yang ada--agar mereka tetap mengejar impiannya, apa pun itu," lanjutnya.
Stephanie percaya bahwa seni tari dapat menjadi alat pemersatu yang kuat. Ia berharap dapat menginspirasi generasi muda untuk mengejar impian mereka tanpa harus mengorbankan identitas atau keyakinan mereka.