Marhaban Rabiul Awal, Bulan Nabi Agung Muhammad SAW
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Umat Islam kini memasuki bulan Rabiul Awal dalam kalender hijriah. Bulan ini dikenal istimewa karena bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW peristiwa yang kemudian diperingati dengan tradisi Maulid Nabi.
Dilansir dari NU Online, Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitab Mafahim Yajib an Tushahhah menegaskan bahwa peringatan maulid bukanlah perkara ibadah yang diperdebatkan keabsahannya, melainkan tradisi baik yang tumbuh di masyarakat.
Dari kalangan Syafi’iyyah, Imam al-Suyuthi juga menyebut perayaan maulid sebagai kegiatan positif yang mendatangkan pahala. Ia menganjurkan umat Islam mengekspresikan rasa syukur pada bulan Rabiul Awal dengan berbagai cara, seperti berkumpul, membagikan makanan, dan memperbanyak ibadah.
هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ
“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakkan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw,” tulis al-Suyuthi.
Bulan yang Mulia karena Nabi
Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitab adz-Dzakhâir al-Muhammadiyyah menjelaskan, kemuliaan Rabiul Awal tidak terletak pada waktu itu sendiri, melainkan karena kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. “Justru waktu itu menjadi mulia sebab Nabi lahir,” tulisnya.


















