JAKARTA, (ERAKINI) - Mo Farah, salah satu atlet lari terbaik dunia asal Inggris, telah menginspirasi banyak orang dengan perjalanan hidupnya. Pria bergelar Sir ini bukan hanya dikenal karena prestasinya di lintasan, tetapi juga karena keteguhannya dalam berpegang pada nilai-nilai Islam yang ia ambil dari Al-Qur’an.
Dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (25/3/2025), Mo Farah lahir dengan nama lengkap Mohamed Muktar Jama “Mo” Farah di Mogadishu, Somalia. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan Muslim sebelum akhirnya pindah ke London, , bersama keluarganya saat berusia delapan tahun. Mereka menetap di Distrik Hounslow, di bagian barat kota tersebut.
Bakat Mo Farah di dunia atletik pertama kali ditemukan oleh Alan Watkinson, seorang guru pendidikan jasmani di sekolahnya. Sejak itu, ia mulai menekuni olahraga lari dengan serius dan menunjukkan potensinya sebagai pelari berbakat.
Pada 2001, ia meraih gelar juara di European Junior Championships kategori lari 5000 meter. Pada tahun yang sama, ia juga memenangkan European Cross Country Championships dalam kategori Tim Junior serta meraih posisi kedua dalam kategori Junior Individual.
Tak hanya itu, Mo Farah semakin mengukuhkan namanya di dunia atletik dengan meraih medali emas Olimpiade pada nomor 5000 meter dan 10.000 meter. Keberhasilannya di dunia olahraga tidak lepas dari semangat dan disiplin tinggi yang ia pegang teguh. Ia kerap menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Al-Qur’an menjadi pedoman hidupnya, baik dalam bertanding maupun dalam kehidupan sehari-hari.
“Anda harus percaya sama Tuhan. Segala sesuatu terjadi karena satu alasan, jadi Anda tidak boleh patah arang,” ucap Mo Farah.
Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh Farah kepada Emel Magazine (dilansir The Independent, 10 Agustus 2012). tentang betapa pentingnya Tuhan dan Islam bagi kehidupannya sebagai atlet. Ia mengaku terinspirasi untuk berlatih keras, salah satunya juga dari Al-Quran.
“Juga dikatakan dalam Alquran bahwa anda harus bekerja keras dalam apa pun yang anda lakukan, jadi saya bekerja keras saat berlatih dan itu banyak berdampak pada kesuksesan. Itu (kesuksesan) tidak hanya datang dalam semalam, anda harus berlatih untuk itu dan percaya pada diri sendiri; itu hal yang paling penting,” tegas pria kelahiran 23 Maret 1983 tersebut.
Selain berikhtiar, Farah juga percaya kepada kekuatan doa. Dari sumber yang sama, dikatakan bahwa ia mengaku kerap berdoa sebelum bertanding. Baginya, penting untuk mengajak Tuhan turut ikut ‘berlari’ bersamanya.
Berkat keteguhannya bersandar kepada Al-Quran, nama Mo Farah dimasukkan Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berbasis di Yordania dalam daftar 500 orang Muslim berpengaruh di dunia. Mo Farah dikenal sebagai atlet yang sering mengespresikan identitas Muslimnya di arena olahraga. Dia dikenal selalu melakukan selebrasi syukur setelah perlombaan.
Sisi religius Mo Farah tidak datang begitu saja. Ia sudah dididik dalam lingkungan muslim sejak dini. Secara eksklusif, ia menulis untuk The Telegraph dan tulisan yang sebagian berisi kenangan masa kecilnya itu dipublikasikan pada 6 Oktober 2013.
Di dalamnya, Farah mengisahkan bahwa ia dan kembarannya, Hassan, masuk sekolah madrasah Islam pada usia 5 tahun. Madrasah tempat Farah dan Hassan bersekolah berada di sebelah masjid.
“Pelajaran kami berfokus pada Alquran, tetapi kami juga mempelajari sejarah Prancis dan lokal. Beberapa pagi di madrasah, kami bergiliran membacakan ayat-ayat (Alquran) di depan kelas. Ini sulit bagi saya karena saya tidak bisa membaca atau menulis dan saya menderita disleksia,” tulisnya.
Karier Atletik
Perjalanan Mo Farah dalam atletik dimulai ketika ia bergabung dengan Klub Atletik Borough of Hounslow di London barat. Mewakili Hounslow di lintas alam di London Youth Games 1994, ia memamerkan bakatnya sejak usia muda.
Pada tahun 1996, di usia 13 tahun, Mo Farah mengikuti kejuaraan lintas alam sekolah Inggris dan berhasil finis di peringkat kesembilan. Tahun berikutnya menandai dimulainya dominasinya dengan memenangkan gelar pertama dari lima gelar sekolah Inggris.
Menyadari potensinya yang luar biasa, filantropis atletik Eddie Kulukundis memainkan peran penting dalam menyelesaikan naturalisasi Farah sebagai warga negara Inggris, yang memungkinkannya untuk berkompetisi dalam kompetisi internasional tanpa masalah visa.
Kehebatan atletik Mo Farah benar-benar berkembang di lintasan. Sepuluh medali emas kejuaraan dunia yang diraihnya, yang terdiri dari empat gelar Olimpiade dan enam gelar Dunia, menjadikannya pelari jarak jauh lintasan pria tersukses dalam sejarah.
Ia berdiri sebagai atlet lintasan Inggris tersukses di Olimpiade modern, mengukir namanya dalam catatan sejarah kehebatan olahraga. Di antara sekian banyak prestasi bersejarahnya adalah empat medali emas Olimpiade (2012, 2016) dalam nomor 5.000m dan 10.000m, suatu prestasi yang dikenal sebagai "double-double."
Mo Farah meraih medali emas pertamanya pada 4 Agustus 2012, atau 16 Ramadan 1433 H, di lintasan lari 10.000 meter. Sesaat setelah melewati garis finis, Mo Farah menutup "momen terbaik sepanjang hidupnya" tersebut dengan melakukan sujud syukur di lintasan.
Kemenangan ini menjadi salah satu kemenangan ikonik di Olimpiade. Momen juara Mo Farah disaksikan 17 juta pemirsa televisi saat itu. Mo Farah menyabet empat medali emas olimpiade, masing-masing di lintasan 10.000 dan 5.000 meter dalam edisi Olimpiade London 2012 dan Olimpiade Rio 2016.