Saat Gus Baha Kritik Pemikiran Aristoteles dan Plato Soal Konsep Tuhid
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI)-Pengasuh pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau dikenal Gus Baha mengkritik cara berpikir filsuf Yunani; Aristoteles dan Plato terkait konsep tauhid.
Menurut dia, ketika ingin membuktikan adanya Tuhan, tokoh-tokoh filsafat tersebut harus melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Padahal, dalam pemahaman teologis, Allah adalah dzat yang bersifat wujud.
Tak hanya itu, para filsuf itu kata Gus Baha menganggap bahwa ilmu Allah seperti konsep wujud, adalah sesuatu yang baru. Hal ini yang kemudian membuat para pemikir barat tersebut ingin mengetahui konsep tersebut dengan catatan bisa diterima oleh akal Manusia..
“Makanya, menurut ahlussunnah, pendapat-pendapat filsafat tentang Tuhan adalah pendapat yang membuat orang menjadi kafir. Makanya, imam Ghazali mengarang kitab Tahafut al-Falasifah karena orang filsafat itu cara berpikir seperti itu,” kata Gus Baha seperti dikutip Erakini dari akun YouTube Pengajian Gus Baha, Jumat (6/10/2023).
Gus Baha menjelaskan, Aristoteles dan Plato mengaku mengikuti ajaran Nabi Isa yang diyakini sebagai Isa Al-Masih. Namun, keduanya meyakini bahwa Tuhan itu berasal dari akal dan bersifat logos. Karenanya bagi Aristoteles dan , untuk memahami segala sesuatu, termasuk soal ketuhanan harus ada metodologi dan antropologi.















