Ilustrasi boneka santet sebagai praktik syirik di Indonesia (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Dalam ajaran Islam, musyrik adalah sebutan bagi orang yang menyekutukan Allah SWT atau menyembah selain-Nya. Perbuatan menyekutukan Allah ini disebut syirik dan merupakan dosa besar yang tegas dilarang dalam Al-Quran.
Dalam konteks keyakinan, musyrik adalah seseorang yang meyakini adanya tuhan lain yang setara dengan Allah atau menjadikannya sekutu dalam ibadah. Larangan ini salah satunya ditegaskan melalui Surat Al-Ikhlas ayat 1-4.
Melansir jurnal keislaman berjudul Nilai-nilai Pendidikan Tauhid dalam Al-Qur`an Surat Al-Ikhlas Ayat 1 sampai 4 Menurut Tafsir Ibnu Katsir yang ditulis Edy Suryana, Alimron, dan Sofyan, Senin (15/9/2025), terdapat nilai-nilai pendidikan tauhid yang mengajarkan umat Islam untuk tidak menyekutukan Allah.
Menurut para penulis jurnal itu, Surat Al-Ikhlas menegaskan Tauhid Rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta. Orang musyrik sekalipun sebenarnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi pengakuan itu tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang beriman.
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas ayat 1)
Penjelasan ayat ini menjadi dalil tegas bahwa Allah Maha Esa dalam segala hal—baik Rububiyyah-Nya (perbuatan-Nya), Uluhiyyah-Nya (hak untuk disembah), maupun Asma’ wa Shifat-Nya (nama dan sifat-Nya).
Dalam riwayat yang disebutkan Ikhrimah, turunnya surat ini terkait klaim berbagai golongan: orang Yahudi menyebut Uzair anak Allah, Nasrani menyembah Yesus sebagai anak Allah, Majusi menyembah matahari dan bulan, sedangkan kaum musyrik menyembah berhala. Lalu turunlah wahyu, “Katakanlah (Muhammad), Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,” sebagai penegasan bahwa tidak ada yang menyamai, menyerupai, atau setara dengan-Nya.
Artinya: “Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah. Jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf ayat 87)
Para mufasir menegaskan, siapa pun yang meyakini adanya kekuatan lain yang ikut mencipta, memiliki, atau mengatur alam semesta, ia telah terjerumus ke dalam kesyirikan. Bahkan malaikat yang ditugaskan Allah untuk mengurus sebagian alam semesta pun tidak punya otonomi; mereka hanya menunggu perintah Allah.
Contoh kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid adalah anggapan bahwa tokoh tertentu, seperti Nyi Roro Kidul, memiliki kekuasaan mengatur Pantai Selatan atau Gunung Merapi. Keyakinan semacam ini, menurut para ulama, termasuk kemusyrikan.
Nilai pendidikan tauhid yang diajarkan melalui Surat Al-Ikhlas adalah pengakuan bahwa Allah itu Ahad—Esa, Satu-satunya Rabb tanpa sekutu. Setiap Muslim harus mengakui bahwa Allah sendiri yang menciptakan dan mengatur seluruh alam. Pengakuan ini menjadi dasar untuk tidak terjerumus dalam kemusyrikan dan menjaga kemurnian akidah tauhid.