Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183 yang Menjadi Dalil Diwajibkannya Puasa Ramadan
Abdul Rahman Ahdori
Ramadan segera tiba. Umat Islam di seluruh dunia bersuka cita menyambut bulan yang penuh berkah itu. Pada bulan Ramadhan tersebut, umat Islam telah diwajibkan untuk berpuasa satu bulan penuh. Bila tidak sanggup melakukannya harus membayar fidyah atau kafarat.
Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam tafsirnya mengatakan, sebab-sebab turunnya ayat ini yaitu:
روى ابن جرير عن معاذ بن جبل رضي الله عنه أنه قال: إن رسول الله (ص) قدم المدينة فصام يوم عاشوراء وثلاثة أيام من كل شهر. ثم إن الله عز وجل فرض شهر رمضان، فأنزل الله تعالى ذكره يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ، حتى بلغ: وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ. فكان من شاء صام ومن شاء أفطر وأطعم مسكينا. ثم إن الله عز وجل أوجب الصيام على الصحيح المقيم وثبت الإطعام للكبير الذي لا يستطيع الصوم. فأنزل الله عز وجل: فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ
Artinya: “Ibnu Jarir meriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, ia puasa pada hari Asyura dan tiga hari setiap bulannya. Kemudian Allah mewajibkan puasa bulan Ramadhan dan menurunkan ayat: Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu, hingga wa ‘alalladzīna yuthīqūnahū fidyatun tha‘āmu miskīn. Pada saat itu orang-orang (diperbolehkan untuk memilih) berpuasa atau berbuka dan memberi makan orang miskin. Setelahnya Allah mewajibkan kepada tiap orang yang sehat dan mukim dan tetap (berkewajiban) memberi makan orang miskin bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa dengan menurunkan ayat: fa man syahida mingkumusy-syahra falyashum (Muhammad Ali As-Shabuni, Rawai’ul Bayan, [Beirut, Muassasah Manahilul Irfan: 1980 M/ 1400 H], juz I, halaman 193).

















