Kisah Disk Jockey Ali Naik Haji
Fajar WH
Namanya Ali Topan (45 tahun). Perawakannya keceng. Pembawannya riang. Gaya bicaranya medok Surabayaan. Niatnya berangkat ke Tanah Suci sudah lama. Namun baru terlaksana tahun ini.
Kebetulan Ali yang juga menjadi wartawan salah satu media ekonomi ini memenangi lomba dari salah seorang tokoh asal Surabaya pada 2011. Tak langsung memang. Ia harus mengantre.
Tekad kuatnya untuk menjadi tamu Allah, membuat dia harus rela menabung. Beruntung Ali punya keterampilan lain selain menjadi jurnalis yakni disk jockey.
“Alhamdulillah setelah menunggu 13 tahun, keturutan. Alhamdulillah,” kata Ali kepada tim Media Center Haji 2024, Selasa (28/5/2024).
Ali punya misi khusus berangkat ke Tanah Suci. Yakni pertaubatan dan mendoakan salah satu anaknya yang autis. Di Makkah, ia bertekad untuk mendoakan anaknya yang kini berusia 21 tahun di Multazam (salah satu tempat mustajab).
Ali ingin anaknya yang sekarang belajar di sekolah khusus di Surabaya bisa hidup normal selayaknya orang lain.
Selama 21 tahun itu Ali merawat anaknya yang bernama Aziz itu. "Saya ingin minta ke Allah anak bisa hidup normal seperti orang pada umumnya," kata Ali sembari terus menderas syukur.
Selama ini Ali merasa berbuat dosa karenanya ia ingin bertaubat. “Jadi bisa lah dibilang disk jocky naik haji. Saya ingin seperti bayi lagi setelah pulang dari tanah suci. Saya tahu orang-orang terbaik hadiahnya di sini," katanya.
Ia mengatakan, DJ yang naik haji itu sangat banyak. DJ itu hanya pekerjaan saja yang kebetulan memang banyak bersinggungan dengan dunia malam. Tapi ia berjanji pada diri sendiri setelah pulang bakal menjadi lebih baik lagi.

















