Akun Instagram @santri.nderekyai membagikan momen KH Nurul Huda Djazuli tiba di Uzbekistan untuk ziarah ke makam Imam al-Bukhari, Sabtu (7/2/2026). Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan raga, tetapi perjalanan ruh yang dipanggil oleh ilmu. Itulah yang dirasakan banyak santri dan pecinta hadits ketika mendengar kabar ziarah KH Nurul Huda Ḏjazuli Ploso ke makam Imam al-Bukhari.
"Bukan perjalanan biasa. Bukan pula sekadar wisata religi. Ini adalah panggilan keilmuan—panggilan dari sanad, dari istiqamah, dari pengabdian yang panjang dan sunyi," tulis Instagram @santri.nderekyai.
Namun, selama puluhan tahun KH Nurul Huda Ḏjazuli dengan penuh kesabaran dan keikhlasan telah mengajarkan Shahih al-Bukhari di Pondok Pesantren al-Falah Ploso, Kediri. Bukan sekali dua kali, tetapi KH Nurul Huda sudah menghatamkan Kitab Bukhari sebanyak 45 kali. Maka tak heran apabila KH Nurul Huda Djazuli sangat berkeinginan kuat untuk ziarah ke makam Imam al-Bukhari.
"45 kali duduk bersama kitab hadits paling sahih setelah Al-Qur’an, dari awal hingga akhir, dengan nafas keilmuan dan adab pesantren. Inilah karamah yang tidak berisik, tidak terbang di udara, tidak menembus dinding. Karamah yang lahir dari keistiqamahan."
Berdiri di hadapan makam sang sang imam agung ahli hadits, KH Nurul Huda bukan sebagai tamu biasa, tetapi sebagai pewaris amanah keilmuan. Sanad bertemu sanad, doa bertemu pengabdian, air mata bertemu kesaksian sejarah.
Perjalanan langka ini mengajarkan satu hal yang mahal, yakni bahwa kemuliaan tidak selalu datang dengan keajaiban yang tampak, tetapi sering lahir dari duduk yang lama, mengajar yang sabar, dan istiqamah yang tak pernah putus.
Rencana perjalanan KH Nurul Huda Djazuli sebelumnya juga dikabarkan oleh Gus Kautsar, Pembina Pesantren Al Falah, Ploso. Melalui akun Instagramnya @teras.gubuk, Gus Kautsar menyebut ziarah ini menjadi ikhtiar tabarukan, menyambung sanad keilmuan, serta khatmil kitab di negeri tempat mata air ilmu hadits itu dahulu mengalir.
"Ziarah ke Uzbekistan kali ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan rihlah ilmiah dan ruhani. Uzbekistan adalah tanah para raksasa ilmu hadits: Imam al-Bukhari, Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasa’i, dan banyak ulama besar lainnya," tulisnya.
Menurut Gus Kautsar, KH Nurul Huda Djazuli layak dijuluki Imam Bukhari-nya Indonesia, sebuah gelar yang bukan lahir dari pujian semata, melainkan dari kedalaman pengabdian terhadap ilmu hadits.
"Lebih dari 45 kali khatam Kitab Shahih Bukhari, disertai hafalan ribuan hadits beserta sanad dan pemahamannya, menjadikan beliau (KH Nurul Huda Djazuli) bukan hanya seorang penghafal, tetapi penjaga tradisi ilmiah Ahlus Sunnah wal Jama’ah," ucapnya.
Dalam khazanah keilmuan Islam, hadits bukan sekadar teks, tetapi amanah yang dijaga melalui sanad, adab, dan amal. Di sinilah posisi ulama seperti KH Nurul Huda Djazuli menjadi sangat penting.
"Semoga perjalanan ini menguatkan sanad, melanggengkan keberkahan ilmu, dan menjadikan kita semua bagian dari mata rantai ulama yang menjaga agama ini dengan ilmu, adab, dan ketawadhuan. Karena ilmu yang bersambung sanadnya, Insya Allah akan tetap hidup dan memberi cahaya hingga akhir zaman," pungkasnya.