Kisah Heroik Salahuddin Al-Ayyubi Bebaskan Baitul Maqdis dari Kepungan Musuh
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Salahuddin Al-Ayyubi atau Saladin dikenal luas sebagai panglima Muslim yang berhasil merebut kembali Baitul Maqdis (Yerusalem) dari pasukan Salib pada akhir abad ke-12.
Salahuddin Al-Ayyubi lahir di Tikrit, Irak, pada 532 H/1137 M dari suku Kurdi yang dikenal memiliki garis keturunan bebas dari perbudakan. Dia kemudian mendirikan Dinasti Ayyubiyah dan mendapat gelar Sultan Al-Malik An-Nashir atau “Raja Sang Penakluk”.
Dilansir dari jurnal berjudul Sejarah Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Membebaskan Yerusalem Tahun 1187 M karya Siti Muthmainnah Nur Sulistiani, Selasa (23/9/2025), Yerusalem merupakan kota tua di Palestina yang suci bagi tiga agama besar: Islam, Yahudi, dan Nasrani.
Kota ini jatuh ke tangan pasukan Salib pada 1099 M saat Perang Salib I. Selama beberapa dekade, Yerusalem bertahan di bawah kekuasaan Kristen, meski kerap digempur pasukan Muslim.
Dalam jurnal tersebut, dituliskan bahwa kebangkitan umat Islam dimulai pada masa Imaduddin Zanki, yang berhasil merebut kembali Edessa pada 1144 M. Namun, Zanki terbunuh dua tahun kemudian.
Penulis dalam jurnal itu mencatat, secara strategis Yerusalem tidak begitu penting. Namun, bagi Salahuddin, kota suci itu menjadi tujuan utama jihadnya. Upayanya membebaskan Baitul Maqdis berjalan lambat namun terencana.
Sebelum merebut Yerusalem, Salahuddin menghadapi pasukan Salib yang dipimpin Raja Guy de Lusignan. Pertempuran besar terjadi di Hittin pada 4 Juli 1187. Perang ini dipicu tindakan Reynald de Chatillon, bangsawan Kristen, yang menyerang jalur perdagangan Muslim di Laut Merah. Reynald bahkan menahan rombongan haji—termasuk kerabat Salahuddin—serta mengancam Mekkah dan Madinah.

















