Kisah Mudik Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Tradisi mudik sudah dilakukan masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lamanya. Tradisi ini dilakukan seiring dengan berkembangnya kota-kota besar di Indonesia tahun 70-an.
Saat itu, orang berbondong-bondong pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan layak. Kemudian, saat Idul Fitri tiba, mereka kangen ke keluarga besarnya di kampung halaman hingga memutuskan untuk pulang kampung sebelum Idul Fitri atau lebaran.
Hingga pada akhirnya, mudik telah menjadi tradisi yang lumrah dilakukan masyarakat Indonesia menjelang hari raya Idul Fitri. Bahkan, mereka rela macet-macetan dan ikut mengular di tol demi bertemu keluarganya di tanah kelahiran.
Banyak yang berpendapat bahwa mudik merupakan tradisi masyarakat Indonesia. Padahal, jika dicermati secara esensi mudik sendiri telah dilakukan oleh para nabi yang menjadi utusan Allah. Sebut saja Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
Menurut pegiat kajian keislaman Rudi Sirojudin Abbas dalam artikel berjudul Nabi Muhammad Pun Mudik (2022), menerangkan bahwa Nabi Musa AS kembali ke kampung halamannya (Mesir) setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkannya demi menghindar dari rencana pembunuhan para pembesar Fir’aun.
Setelah berada di tanah kelahiran beberapa waktu, Nabi Musa AS kembali ke tempat tinggalnya untuk menyampaikan risalah ketuhanan kepada Bani Israil dan raja Fir’aun.
Kisah ini tercermin dalam QS Taha [20] ayat 43-44 “Pergilah kalian kepada Fir’aun karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut…”.

















