Sejarah dan Asal Usul Mudik Menurut Antropolog UGM
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Masyarakat Indonesia kini bersiap pulang ke kampung halaman atau dikenal dengan istilah mudik. Tradisi tahunan ini sudah berjalan di Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu. Mudik di Indonesia bertujuan untuk mengisi momen perayaan hari raya keagamaan bersama keluarga seperti Idul Fitri yaitu 1 Syawal pada bulan hijriah.
Namun, seorang antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra seperti dikutip erakini dari situs resmi UGM pada Senin (24/3/2025) menjelaskan, mudik telah menjadi istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan seseorang kembali ke kampung halaman, terutama dalam rangka merayakan Idulfitri.
“Tradisi ini erat kaitannya dengan umat Muslim di Indonesia yang ingin merayakan momen kemenangan bersama keluarga di tanah kelahiran,” katanya.
Prof Heddy mengatakan, mudik sebenarnya berasal dari kata udik. Kata ini diambil dari bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung. Menurut sejarahnya, masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai sering bepergian ke hilir menggunakan perahu atau biduk untuk berdagang atau menyelesaikan urusan tertentu.
“Setelah selesai, mereka kembali ke hulu di sore harinya,” tuturnya.
Heddy mengungkapkan, istilah mudik mulai populer pada era 1970-an, ketika pemerintah Orde Baru membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.

















