Kemajuan Ilmu Pengetahuan pada Masa Kekhalifahan Abbasiyah
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Bulan Rabiul Akhir kerap dikaitkan dengan masa keemasan ilmu pengetahuan Islam pada era Kekhalifahan Abbasiyah. Pada periode ini, ilmuwan besar seperti Al-Khwarizmi dan Ibnu Sina menghasilkan karya penting di bidang matematika, astronomi, dan kedokteran. Tak hanya itu, Pusat studi Baitul Hikmah di Baghdad pun menjadi mercusuar pengetahuan dunia, menegaskan kontribusi besar Islam terhadap peradaban global.
Dilansir dari jurnal ilmiah berjudul Kemajuan Ilmu Pengetahuan di Era Dinasti Abbasiyah yang ditulis Benies Husaeni dkk, Rabu (24/9/2025), Dinasti Abbasiyah berdiri pada 132-656 H (750-1258 M) setelah menggulingkan Dinasti Umayyah.
Keunggulan Bani Abbasiyah salah satunya berasal dari kedekatan nasab mereka dengan Rasulullah SAW melalui Bani Hasyim. Khalifah pertama, Abdullah ash-Shaffah, memulai kekuasaan setelah propaganda panjang yang dipimpin Ali bin Abdullah bin Abbas.
Pada fase awal pemerintahannya, Abbasiyah dikenal sebagai era kejayaan. Para khalifah memimpin dengan tegas, adil, dan memiliki otoritas kuat. Dukungan besar terhadap gerakan intelektual membuat Baghdad menjadi pusat intelektual dunia Islam.
Salah satu langkah penting adalah penerjemahan karya-karya Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab, yang dipelopori Khalifah Al-Mansur. Gerakan ini mencakup bidang filsafat, kedokteran, astrologi, dan kimia.
Pusat penerjemahan dan kajian, Baitul Hikmah, mencapai puncak kejayaannya pada masa Harun Al-Rasyid. Perpustakaan ini memiliki koleksi sekitar 100.000 buku dan menjadi tempat para ilmuwan menjelajahi manuskrip Byzantium. Tradisi akademik seperti muzakarah, rihlah ilmiah, penelitian, penulisan buku, hingga pemberian wakaf tumbuh subur.

















