Ahmad Nasikhul Huda (19), santri pondok pesantren Al-Jihad, Kota Surabaya, Jawa Timur mendapatkan hadiah umroh usai menjadi juara umum Duta Santri Nasional 2023 (Foto: Dok. PBNU)
SURABAYA (ERAKINI)-Suasana di kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) pada Jumat (20/10/2023) malam, seakan mencekam. Kaki yang biasanya bergerak cepat dalam melangkah, tiba-tiba saja terasa berat dan sedikit bergetar. Perasaan campur aduk, antara tetap berada di area gedung atau keluar meninggalkan tempat tersebut.
Perasaan ini diungkapkan Ahmad Nasikhul Huda (19), santri pondok pesantren Al-Jihad, Kota Surabaya, Jawa Timur usai mengikuti grand final Duta Nasional 2023 yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama () dan Kementerian Agama () RI, Jumat (20/10/2023).
Selain sebagai seorang santri, Huda, panggilan akrab Ahmad Nasikhul Huda, adalah Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Motivasinya mengikuti seleksi DutaSantri Nasional 2023 tak lain untuk menguji kemampuan dan mentalnya.
Huda, bercerita, perasaan khawatir gagal yang kerap datang terus ia lawan dengan membulatkan tekad dan dzikir yang kuat di dalam hati. Di beberapa menit, sebelum ia dipanggil pemandu acara; Ka Husin dan Ka Halwa, Huda sempat berpikir remang tidak akan melanjutkan perjuangannya di DutaSantri Nasional 2023.
Namun, ia selalu ingat dengan usahanya untuk sampai pada titik grand final. Menurut Huda, untuk menjadi seorang finalis DutaSantri Nasional 2023, ia harus berhadapan dengan 6000 lebih santri dari seluruh Indonesia. Tentu saja dengan keahliannya di bidangnya masing-masing.
Dengan kerja keras, ketelitian dan keyakinannya, Huda akhirnya menjadi finalis yang berhasil menyisihkan lebih dari 6.000 peserta dari seluruh Indonesia. Kemudian, pada babak final, Huda juga mampu menggeser para finalis lain dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan juri.
Kemudian, saat tampil di atas panggung grand final, Huda memilih undian nomor 9. Nomor itu berisi pertanyaan ‘Jika nanti Anda terpilih sebagai DutaSantri Nasional bagaimana Anda akan berkontribusi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat kita yang beragam?’
Dengan rasa percaya diri Huda mampu menjawab pertanyaan juri dengan artikulasi yang jelas, waktu menjawab yang pas dan argumentasinya dianggap relevan sekaligus rasional, sebagai sebuah gagasan. Beberapa menit berlalu, tak disangka, Huda diumumkan menjadi Juara Umum DutaSantri Nasional 2023. Huda nampak kaget, bahagia, haru dan sedih.
Huda mengaku sangat senang atas kemenangan yang ia raih. Huda menyebut, kemenangan itu tidak didapatkan sendirian, ada doa orang tua, guru dan para sahabatnya yang menjadi super power bagi dirinya sebagai seorang finalis.
“Kemenangan ini semata-mata bukan karena saya belaka, ini berkat dukungan dari orang tua, guru, serta support dari seluruh teman-teman saya, mulai dari teman-teman di rumah, di pesantren, di kuliah,” kata Huda kepada wartawan seusai kegiatan Grand Final DutaSantri Nasional 2023.
Huda sadar tidak boleh berpuas diri terhadap apa yang ia dapatkan saat ini. Namun, menurut Huda, menjadi juara umum pada perhelatan nasional adalah kebahagiaan tersendiri. Sebab, proses seleksi DutaSantri Nasional 2023 dilalui dengan cukup ketat. Ia dan finalis lain harus melewati kurang lebih 8 kali seleksi.
“Dimulai dari tahap pendaftaran yang diikuti kurang lebih 6431 santri dari berbagai penjuru Indonesia. Lalu kemudian terpilih 48 santri untuk melakukan karantina. 48 santri itu diseleksi hingga masuk lima besar untuk grand finalis. Lalu diambil juara satu, juara runner up, dan beberapa juara kategori,” tuturnya.
Huda mengatakan, sangat menikmati sebagai seorang peserta DutaSantri Nasional 2023. Di awal-awal, Huda merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas apa yang akan terjadi di malam puncak atau grand final. Kenyataanya, kata Huda, tetap saja, ia sedikit nervous. Meskipun begitu, Huda tetap senang dan ikhlas menjalani semuanya. Rasa capai, sedih dan haru bercampur menjadi satu.
“Saya rasa ini sangat cukup membayar atas usaha dan support dari orang-orang sekitar saya,” kata Huda yang mengenakan kemeja merah dan kopiah hitam itu.
Disinggung terkait rahasianya apa sehingga bisa meraih juara pada perhelatan itu, Huda hanya tersenyum tipis. Menurut Huda, sejak awal dia mencari referensi sendiri bagaimana agar dia bisa lolos di semua tahapan. Kemudian, dilakukan analisis, diamati dan diimplementasikan.
Sementara itu, terkait keahlian yang dipilih, Huda memilih bidang multimedia, sebab ia merasa memiliki basic dan minat di bidang tersebut. Dia pernah menjadi tim media pondok pesantren Al-Jihad Surabaya dan Mathali'ul Anwar.
“Atas pengalaman itu saya merasa mampu untuk fokus pada bidang ini. Saya percaya diri dengan mudah bisa beradaptasi mempelajari soal multimedia,” tuturnya.
Atas keberhasilannya, Huda berhak mendapatkan hadiah umroh gratis ke Tanah Suci bersama Norma Hasanatul dari pesantren Luhur Malang yang juga ditetapkan menjadi DutaSantri Nasional 2023 untuk kategori putri.
Di tempat yang sama, Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., menyampaikan, bahwa program inisiatif ajang DutaSantri Nasional ini menjadi salah satu langkah positif dalam mempersiapkan para santri menjadi pemimpin masa depan.
"Kami bersyukur atas kepercayaan yang diberikan serta meyakini acara ini akan menjadi wadah bagi para santri muda untuk menunjukkan potensi terbaik mereka, dan mengekspresikan pemikiran mereka dalam memajukan peradaban global," ucapnya dalam sambutan yang diberikan.
Jazidie mengungkapkan, jihad di zaman yang sangat kompleks saat ini, tidak lagi merujuk pada pertempuran melainkan perjuangan intelektual. Ada empat hal yang menjadi tantangan dalam jihad santri ke depannya, yakni memperjuangkan keadilan, meningkatkan pendidikan, mengupayakan kesehatan, dan menghapus kemiskinan.