Masjid Aqsa di Palestina yang menjadi tempat bersejarah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Foto: Masjid Nusantara)
JAKARTA, (ERAKINI) - Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Perjalanan luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW itu terjadi ketika kondisi teknologi masih sangat terbatas dan dunia berada dalam fase kegelapan peradaban. Peristiwa ini rutin diperingati oleh umat Islam setiap tanggal 27 Rajab.
Karena itu, tidak sedikit orang yang kesulitan memahami peristiwa tersebut secara rasional. Jarak antara di Makkah dan Masjidil di sekitar 1.500 kilometer, yang pada masa itu umumnya ditempuh selama 40 hari 40 malam. Namun, SAW menempuh tersebut, bahkan dilanjutkan hingga Sidratulmuntaha, hanya dalam waktu sepertiga malam.
Bagi umat Islam, Isra dan Mi’raj diterima sebagai kebenaran yang harus diimani, meskipun berada di luar jangkauan akal manusia. Kisah Isra Mi’raj ini diceritakan secara terperinci dalam sebuah kitab tipis karya Syekh Najmuddin al-Ghaithi berjudul Qishshatul Mi’raj. Kitab tersebut kemudian diberi catatan kritis dan penjelasan lebih luas oleh Sayyid Ahmad al-Dardiri.
Seperti halnya cerita rakyat di Indonesia, Syekh al-Ghaithi membuka kitabnya dengan kata “baynama”, yang berarti “pada suatu ketika, di suatu waktu”. Pembukaan ini menunjukkan kekhasan kitab tersebut yang mengandung unsur sastra.
Melansir NU Cilacap, Minggu (4/1/2026), peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yakni sekitar tahun 620-621 Masehi.
Sementara itu, al-Allamah al-Manshurfuri menyebutkan Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, pendapat yang hingga kini paling populer di kalangan umat Islam.
Namun, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut. Ia beralasan bahwa Khadijah radhiyallahu anha wafat pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, sekitar dua bulan setelah Rajab, sedangkan pada saat itu kewajiban shalat lima waktu belum ditetapkan.
Al-Mubarakfuri menyebutkan terdapat enam pendapat berbeda terkait waktu terjadinya Isra Mi’raj. Namun, tidak satu pun yang dapat dipastikan secara mutlak. Dengan demikian, tanggal pasti terjadinya Isra Mi’raj tidak diketahui secara definitif.
Hadits tentang Isra Mi’raj
Mi’raj merupakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW yang diangkat ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah SWT dan menerima perintah kewajiban salat lima waktu. Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadits sahih yang tercantum dalam Shahih Muslim.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW menceritakan perjalanannya dengan Buraq, makhluk putih yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighal, hingga tiba di Baitul Maqdis. Setelah melaksanakan salat dua rakaat, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan ke langit bersama Malaikat Jibril.
Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah SAW bertemu dengan para nabi di setiap lapisan langit, mulai dari Nabi Adam AS di langit pertama hingga Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh. Nabi Muhammad SAW kemudian dibawa ke Sidratulmuntaha, tempat tertinggi yang tidak dapat digambarkan keindahannya oleh makhluk mana pun.
Di tempat tersebut, Allah SWT mewajibkan salat sebanyak 50 waktu sehari semalam. Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW beberapa kali kembali memohon keringanan hingga akhirnya kewajiban salat ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam, dengan pahala setara 50 kali salat. Hadits ini tercantum dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Isra Rasulullah ke langit, hadits nomor 234.
Perbedaan Isra dan Mi’raj
Dalam praktiknya, masyarakat kerap menyebut Isra Mi’raj sebagai satu peristiwa. Padahal, Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda.
Pada peristiwa Mi’raj inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu, yang menjadi kewajiban utama bagi umat Islam hingga saat ini.