Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh pada 8 Februari 2027
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1448 Hijriah jatuh pada Senin, 8 Februari 2027. Penetapan awal Ramadan tersebut didasarkan pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan kamariah secara global.
"Berdasarkan KHGT 1 Ramadan 1448 H jatuh pada Senin, 8 Februari 2027," tulis Muhammadiyah dalam keterangan resminya, seperti dikutip erakini, Senin (19/10/2026).
Muhammadiyah menjelaskan, KHGT menerapkan prinsip penyatuan awal bulan kamariah bagi umat Islam di seluruh dunia. Dengan prinsip tersebut, perbedaan waktu dan letak geografis tidak menjadi alasan untuk menetapkan tanggal awal bulan yang berbeda selama parameter kalender yang disepakati telah terpenuhi.
Berdasarkan data astronomis, ijtimak atau konjungsi menjelang akhir Syakban 1448 H terjadi pada Sabtu, 6 Februari 2027, pukul 15.56.07 UTC. Namun, parameter Kalender Hijriah Global Tunggal belum terpenuhi pada hari terjadinya ijtimak tersebut.
Kriteria kalender global baru terpenuhi pada Ahad, 7 Februari 2027, di Darwin, Australia. Di kota yang terletak di Australia bagian utara itu, Matahari terbenam pada pukul 18.47.59 waktu setempat atau 09.17.59 UTC. Pada saat itu, tinggi Bulan geosentrik tercatat sebesar 5 derajat 54 menit 45 detik, dengan elongasi geosentrik 8 derajat 14 menit 19 detik.
"Angka-angka tersebut berkaitan dengan kriteria astronomis yang digunakan KHGT untuk menentukan awal bulan kamariah. Kalender ini mensyaratkan elongasi geosentrik minimal 8 derajat dan tinggi Bulan geosentrik minimal 5 derajat sebelum pukul 00.00 UTC," tulis Muhammadiyah.
Terpenuhinya kedua parameter tersebut di suatu wilayah di permukaan Bumi menjadi dasar penentuan awal bulan secara global. Dengan demikian, penetapan awal bulan tidak harus menunggu hilal memenuhi kriteria di setiap negara atau terlihat secara bersamaan dari seluruh penjuru dunia.
"Prinsip itu memperlihatkan perbedaan mendasar antara kalender global dan penentuan awal bulan yang bertumpu pada hasil pengamatan lokal. Dalam KHGT, pengamatan di suatu wilayah menjadi bagian dari data astronomis global, bukan batas geografis yang menentukan kapan seluruh umat Islam memasuki bulan baru," demikian keterangan PP Muhammadiyah.
Muhammadiyah menjelaskan, selama kriteria yang ditetapkan telah terpenuhi, awal bulan diberlakukan secara serentak di seluruh dunia.
Pendekatan tersebut bertujuan memberikan kepastian waktu pelaksanaan ibadah sekaligus membangun sistem penanggalan Islam yang dapat digunakan untuk kehidupan sipil dan perencanaan jangka panjang.
KHGT juga memiliki ketentuan pengecualian untuk kondisi astronomis tertentu.
"Salah satu skenario yang diperhitungkan berkaitan dengan terjadinya ijtimak di Selandia Baru sebelum fajar, kemudian terpenuhinya parameter imkan rukyat di wilayah daratan Benua Amerika," kata Muhammadiyah.
Ketentuan tersebut mempertimbangkan posisi Selandia Baru sebagai salah satu wilayah paling timur dalam cakupan perhitungan kalender dan Benua Amerika di kawasan barat. Pengecualian itu menjadi bagian dari mekanisme kalender untuk menjaga kesinambungan penentuan awal bulan secara global ketika kondisi astronomis pada batas pergantian hari memerlukan perlakuan khusus.


















