JAKARTA, (ERAKINI) - Akhir November 2025 menjadi periode kelam bagi warga di sejumlah wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama beberapa hari mengubah sungai-sungai yang biasanya tenang menjadi arus liar yang meluap dan menghancurkan permukiman.
Banjir bandang disertai tanah longsor menenggelamkan desa, merusak fasilitas umum, serta memutus akses listrik, jalan, dan komunikasi. Kondisi di lapangan dilaporkan masih membutuhkan penanganan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat rangkaian bencana hidrometeorologi tersebut terus bertambah. Hingga Selasa (6/1/2026), total korban meninggal dunia di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.178 orang.
“Per hari ini, Selasa 6 Januari, masih terdapat penambahan satu korban meninggal dunia dari Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan demikian, total korban meninggal per hari ini menjadi 1.178 jiwa,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
Berdasarkan data BNPB, jumlah korban meninggal terbanyak tercatat di Aceh, yakni 543 jiwa. Selanjutnya Sumatera Utara dengan 371 korban meninggal dan Sumatera Barat sebanyak 264 orang.
Sementara itu, jumlah pengungsi terbanyak juga berada di Aceh. “Untuk jumlah pengungsi terbanyak saat ini berada di Aceh, mencapai 217.780 jiwa. Dari jumlah tersebut, wilayah dengan pengungsi terbanyak adalah Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 74.735 jiwa,” jelas Muhari.
Fenomena bencana alam yang terjadi berulang ini sejatinya telah diingatkan dalam Al-Qur’an. Allah Swt menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi merupakan akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri. Hal tersebut dijelaskan dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dalam tafsir Kementerian Agama dijelaskan, ayat tersebut menegaskan bahwa ketika manusia menuhankan hawa nafsu dan mengabaikan tuntunan moral, keseimbangan bumi pun terganggu. Kerusakan yang tampak di darat dan laut, baik di kota maupun di desa, merupakan konsekuensi dari perilaku manusia yang melampaui batas fitrahnya.
Melalui berbagai peristiwa tersebut, Allah ingin manusia merasakan sebagian akibat dari perbuatannya agar sadar, bertobat, dan kembali menjaga harmoni dengan alam.
Perusakan lingkungan, menurut tafsir itu, dapat muncul dalam beragam bentuk, mulai dari eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, peperangan, hingga percobaan senjata. Semua itu mencerminkan keserakahan dan kelalaian manusia terhadap amanahnya sebagai khalifah di bumi.
Peringatan serupa juga ditegaskan dalam ayat lain, yakni QS Fathir ayat 45:
Artinya: “Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini. Tetapi Dia menangguhkan (hukuman)-Nya sampai waktu yang sudah ditentukan...” (QS Fathir: 45).
Ayat tersebut menegaskan kasih sayang Allah kepada manusia. Andaikan seluruh akibat perusakan alam langsung ditimpakan, niscaya manusia akan binasa. Karena kasih sayang itulah, manusia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan menghentikan perilaku merusak lingkungan.
Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga menjaga dan memakmurkannya. Bumi dipandang sebagai tempat yang suci dan penuh keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda:
جُعِلَتْ لِى اْلَاَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا (رواه أبو داود و ابن ماجة عن أبي هريرة)
“Bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan sebagai alat untuk bersuci.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Hadis tersebut menegaskan kesucian bumi serta pentingnya menjaga kelestariannya. Alam bukan semata sumber ekonomi, melainkan juga bagian dari ibadah dan tanda kebesaran Allah Swt.