JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Ragnar Oratmangoen menjadi idola baru bagi Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih Patrick Kluivert saat ini. Strikernaturalisasi ini resmi mengikrarkan sumpah sebagai WNI pada 18 Maret 2024. Ratnar menjalani debutnya berseragam Timnas Merah dengan mencetak gol saat melawan Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, 26 Maret 2024.
Nama Ratnar pun kini menjadi andalan lini depan Timnas saat Indonesia menyambangi markas Australian dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia Kamis 20 Maret mendatang.
Di luar urusan sepakbola, salah satu fakta menarik dari seorang Ragnar Oratmangoen adalah dia merupakan salah satu pemain mualaft di Timnas. Bahkan, ia mendapat julukan Wak Haji Ragnar dari penggemar sepak bola Tanah Air. Kisah mualaf pemain kelahiran 21 Januari 1998 ini pun layak menjadi inspirasi.
Mengutip website PSSI.org pada Selasa (11/3/2025), Ragnar sebenarnya tidak terlahir sebagai muslim. Ia sejak kecil menganut agama Kristen. Kemudian mantap mualaf pada usia 15 tahun. Simak kisah spiritual Ragnar berikut hingga akhirnya mantap masuk Islam.
Ragnar dibesarkan oleh orang tuanya sebagai seorang kristiani. Faktor lingkungan memengaruhi Ragnar memilih agama Islam. Hingga kini, nilai-nilai Islam selalu ia terapkan meski di lapangan. Contohnya, minum sambil duduk yang sempat ia bagikan di media sosialnya.
"Saya tidak terlahir sebagai seorang Muslim. Saya tumbuh sebagai seorang Kristen. Setelah saya dibesarkan, saya menemukan jalan menuju Islam," ucap pemain berusia 27 tahun ini.
Ragnar mengisahkan awal perjumpaannya dengan Islam. Menurut dia, ketika remaja dia memiliki cukup banyak teman yang beragama Islam. Mereka sering mengajak Ragnar pergi ke masjid.
Dari situlah dia mulai mendalami Islam. Striker keturunan Maluku itu mulai mengenal Tuhan dan agama yang dapat menuntun kehidupan manusia. Seiring dengan waktu, dia semakin serius memperdalam Islam hingga akhirnya yakin untuk menjadi mualaf.
“Bagi saya, hal yang saya pelajari tentang Tuhan. Teman-teman saya ketika itu membawa saya ke masjid. Mereka mengajari saya tentang Tuhan dan agama, dan bagaimana agama bisa membantu kehidupan Anda. Itu menyentuh hati saya dan membuat saya memutuskan untuk menjadi seorang muslim,” ujarnya.
Sejak pertama mualaf pada usia 15 tahun, pencetak satu gol Indonesia lawan Vietnam dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 26 Maret 2024 itu mengaku sudah getol menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Ia mengaku terkesima dengan kultur puasa di Indonesia. Semua orang saling menghormati dan banyak kegiatan religius yang dilakukan selama Ramadan.
“Sejak usia 15 tahun, saya sudah menjalankan Ramadan. Jadi sekarang saya sudah menjalaninya 10–11 tahun,” ungkap Ragnar. Ragnar juga mengatakan, dirinya sangat terkesan dengan suasana Ramadan di Indonesia.
Berada di Indonesia ternyata membuat Ragnar terkesan dengan banyak hal. Salah satu yang asing baginya adalah suara lantunan adzan yang dikumandangkan melalui pengeras suara sehingga terdengar saat ia tengah menjalani latihan bersama timnas Indonesia.
"Ya, saya pertama kali mendengarnya saat di tempat latihan. Saya mendengar adzan saat latihan dan menurut saya itu indah sekali. Saya senang bisa mendengar adzan dan merasakan suasana ini," ujar striker yang kini membela FCV Dender di Liga Belgia..
Baginya, Islam membantunya dalam menjalani kehidupan. Seperti kultur Eropa pada umumnya, urusan memeluk agama di Belanda adalah privasi. Ini membuat keluarga Oratmangoen tak melarangnya memeluk Islam.
Ragnar pun tak pernah menyesal menjadi mualaf. Malahan ia merasa senang bisa menjadi umat muslim. Memeluk agama Islam juga menjadi salah satu alasan dirinya mau membela Timnas Indonesia. Sebab Indonesia meruapakan salah satu negara muslim terbesar di dunia, sehingga ia merasa tak asing dengan Indonesia.
Ragnar Oratmangoen yang lahir di kota Oss, Belanda sebelumnya berkewarganegaraan Belanda, tapi punya darah Maluku dari kakeknya. Oratmangoen yang tersemat di belakang namanya merupakan marga di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Mengetahui silsilah keluarganya, dari informasi yang ada, keluarga ayahnya pindah dari Indonesia ke Belanda sekitar 1950.