Kisah Perang Tha’if, Strategi Rasulullah Taklukkan Benteng Kokoh Musuh
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Perang Tha’if terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah sebagai lanjutan dari Perang Hunain yang sebelumnya dimenangkan oleh kaum Muslim.
Dalam peristiwa ini, pasukan Islam mengejar sisa-sisa musuh yang melarikan diri dan berlindung di dalam benteng kokoh di Kota Tha’if. Benteng yang kuat membuat pasukan Muslim kesulitan menembus pertahanan.
Menghadapi situasi tersebut, Nabi Muhammad mengubah strategi dengan melakukan pengepungan (blokade) terhadap wilayah Tha’if.
Ustadz Muhammad Abror dalam artikel berjudul Sejarah Perang Thaif di Bulan Syawal (2022) seperti dilansir pada Minggu (12/4/2026), menyebut bahwa usai mengalami kekalahan di Hunain, pasukan musuh terpecah menjadi tiga kelompok.
Sebagian melarikan diri ke Tha’if, sebagian ke Nakhlah, dan sebagian lagi ke Authas. Untuk mengejar kelompok di Authas, Nabi menugaskan pasukan di bawah pimpinan Abu Amir al-Asy'ari.
Ustadz Abror dalam artikel itu juga menjelaskan bahwa pertempuran terjadi dan dimenangkan oleh kaum Muslim, meski Abu Amir gugur dalam peristiwa tersebut.
Sementara itu, kelompok yang melarikan diri ke Nakhlah juga berhasil dilumpuhkan.
Dalam peristiwa tersebut, Duraid bin ash-Shimah berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Rabi'ah bin Rufa'i.
"Adapun kelompok terbesar yang melarikan diri menuju Tha’if menjadi prioritas utama. Mayoritas pasukan Hawazin dan Tsaqif, termasuk pemimpin mereka Malik bin Auf an-Nashri, berlindung di wilayah tersebut," tulis Ustadz Abror.
Lebih lanjut, Ustadaz Abror mengatakan, pasukan Muslim yang lebih dahulu tiba di Tha’if dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan sekitar 1.000 tentara. Tidak lama kemudian, Nabi Muhammad menyusul bersama pasukan utama.

















