Letjen (Purn) TNI Lodewijk Freidrich Paulus saat menjabat Danjen Kopassus. Foto: Dok Kopassus
JAKARTA, (ERAKINI) - Sekilas dari namanya mungkin banyak yang mengira Lodewijk Freidrich Paulus bukan seorang muslim. Ya, awalnya mantan Danjen Kopassus ini memang bukan penganut Islam, dia adalah seorang mualaf.
Lodewijk Freidrich Paulus menceritakan awal mula dirinya saat peresmian Rumah Pemenangan di Jalan KH Mas Mansyur, Bandarlampung, Sabtu 26 Januari 2019. Lodewijk yang saat itu menjabat Sekjen DPP Partai Golkar mendapat sejumlah pertanyaan dari pemandu acara, mulai dari soal cita-cita, perjalanan karier militer dan politik, hingga soal keyakinan beragama.
"Saya menjadi mualaf (menjadi Muslim) ketika (berpangkat) Mayor," ujar Lodewijk mengawali kisahnya menjadi mualaf dari agama Kristen.
Dirangkum dari sejumlah sumber, Selasa (19/3/2024), Lodewijk sebelum terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Golkar adalah angota Tentara Nasioal Indonesia (TNI) dan pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopasus, pasukan elite TNI AD.
Lodewijk mengaku dorongan untuk memeluk agama Islam berawal dari kedekatannya dengan seorang gadis muslim. Ketika hal ini disampaikan kepada seorang ibu, perempuan yang dihormatinya itu selalu menyatakan dia tidak memiliki pendirian.
"Saya selalu dikatakan tidak memiliki pendirian, tidak tegas, dan seterusnya," katanya tanpa bersedia mengungkap siapa yang dimaksudkan dengan ibu itu.
Pria kelahiran Manado, 27 Juli 1957, akhirnya terdorong untuk mempelajari dan memperdalam agama Islam. Namun, pada saat keyakinannya tumbuh untuk memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) itu, Lodewijk mendapat tentangan dari lingkungan, termasuk keluarganya. "Saya dikatakan akan masuk neraka (kalau memeluk Islam)," kata Lodewijk yang kala itu maju sebagai Caleg DPR RI.
Selain itu, ia juga mendapat ancaman dari keluarga jika berpindah agama menjadi Islam bisa membuat kariernya tamat di militer. Sebab ketika itu atasannya adalah Luhut Binsar Panjaitan, yang merupakan penganut agama nonmuslim.
Tetapi, beragam ancaman dan tentangan itu tidak menyurutkan langkah lulusan AKABRI 1981 itu untuk menjadi seorang muslim. Lodewijk berkeyakinan kepindahannya dari agama Kristen Protestan tidak membuat kariernya terhambat. Ia pun memutuskan memeluk Islam sekitar dua tahun sebelum dia menikah.
Setelah menjadi seorang muslim, Lodewijk mengaku bersyukur karena banyak nikmat dan kemudahan yang diperoleh, termasuk perjalanan kariernya di militer. Apa yang dikhawatirkan keluarga ketika dia akan berpindah agama, tidak terbukti. Malah kariernya semakin menanjak. Dia mencontohkan, dari sekian banyak teman seangkatannya di militer tahun 1981, Lodewijk termasuk satu dari tujuh orang yang pertama meraih pangkat Kolonel.
Lodewijk mengawali karier militer bergabung dengan kesatuan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) atau sekarang Kopassus. Ia ditempatkan sebagai komandan salah satu peleton. Kariernya di Kopassus menanjak mulai dari komandan sub tim, tim, batalyon, dan grup, hingga diangkat sebagai Komandan Detasemen Khusus 81 pada tahun 2001.
Dua tahun menjabat sebagai orang nomor satu di Detasemen Khusus 81, Lodewijk dipindahkan ke luar lingkungan Kopassus ke Kodam I/Bukit Barisan di Sumatera Utara dan mengemban jabatan sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Daerah Militer (Asops Kasdam) dari tahun 2003 hingga 2005 dan Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Danrindam) dari tahun 2005 hingga 2006.
Dari Sumatera Utara, Lodewijk dimutasi kembali ke Jakarta untuk menjabat sebagai Komandan Resor Militer 052/Wijayakrama. Di tengah masa jabatannya, Lodewijk terpilih menjadi komandan upacara penurunan bendera dalam upacara HUT RI pada 17 Agustus 2006.
Setelah satu tahun bertugas sebagai Danrem, pada 5 Oktober 2007 Lodewijk dimutasi ke Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat sebagai Direktur Latihan. Lodewijk menyerahkan jabatan Danrem kepada Kolonel Inf Sonny Widjaja pada 29 Januari 2008. Sesuai dengan jabatan barunya, Paulus memperoleh kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) atau bintang 1.
Tidak sampai di situ, karier militer Lodewijk semakin cemerlang di TNI AD. Sekitar dua tahun kemudian ia dipercaya menjabat Danjen Kopassus ke-24 pada 4 Desember 2009 menggantikan Pramono Edhie Wibowo.
Setelah itu, ia dipromosikan menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan dari September 2011 hingga Juni 2013. Pada saat menjabat Pangdam Lodewijk menunaikan ibadah haji, tepatnya pada bulan Oktober 2012.
Jabatan terakhir Lodewijk sebelum pensiun adalah Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat, dari Juni 2013 hingga Juli 2015. Seiring dengan itu, bintang di pundaknya pun menjadi tiga atau Letnan Jenderal (Letjen).
Setelah pensiun dari militer, Lodewijk Freidrich Paulus memilih terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Golkar pada tahun 2016. Sama dengan di militer, kariernya di politik juga moncer.
Ia mengawali karier politiknya di Golkar sebagai Ketua Koordinator Bidang Kajian Strategis. Ia selanjutnya ditunjuk sebagai pelaksana tugas Ketua DPD Golkar Lampung pada bulan September 2016, menggantikan M Alzier Dianis Thabranie yang diberhentikan.
Tak butuh lama, dua tahun setelah bergabung dengan Partai Golkar, Lodewijk ditunjuk oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) pada 22 Januari 2018. Lodewijk saat itu menggantikan Idrus Marham yang diangkat menjadi Menteri Sosial.
Lodewijk kembali ditunjuk sebagai Sekjen Partai Golkar setahun kemudian dalam Musyawarah Nasional Partai Golkar yang diadakan pada awal bulan Desember 2019.
Pada Pemilu 2019 Lodewijk dicalonkan sebagai anggota DPR RU dari Dapil Lampung I dan akhirnya terpilih. Di DPR RI Lodewijk duduk di Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen.
Nama Lodewijk mulai mencuat sebagai calon Wakil Ketua DPR setelah Azis Syamsuddin ditahan oleh KPK pada 25 September 2021. Awalnya, Adies Kadir yang dicalonkan sebagai pengganti Azis.
Namun Adies menyarankan pimpinan Golkar untuk memilih Kahar Muzakir atau Lodewijk. Lodewijk akhirnya yang dipilih menjadi pengganti Azis pada 29 September 2021. Ia menduduki jabatan itu sampai sekarang.