Awal Kemarau Belum Sepenuhnya Kering, BMKG Ungkap Prospek Cuaca Indonesia 27 Mei–2 Juni 2025
Abdul Rahman Ahdori






Dalam sepekan terakhir, curah hujan tinggi tercatat di beberapa daerah. Kota Ambon mengalami hujan ekstrem sebesar 199,9 mm/hari pada 19 Mei, diikuti oleh Gresik (103,3 mm/hari), Kepulauan Tanimbar (107,0 mm/hari), dan Kota Tangerang (118,4 mm/hari). Kondisi ini menyebabkan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan banjir bandang.
BMKG menjelaskan bahwa aktivitas atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Low Frequency turut memperkuat pembentukan awan hujan, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia. Selain itu, sirkulasi siklonik serta labilitas atmosfer yang tinggi juga mendukung terbentuknya awan hujan secara lokal.
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Tinggi
Bibit siklon tropis 91W di Laut Cina Selatan turut membentuk area konvergensi dari Kalimantan hingga Laut Sulu, berpotensi meningkatkan curah hujan dan angin kencang. Di sisi lain, massa udara kering dari Australia mendorong penurunan curah hujan di wilayah selatan Indonesia, meski disertai dengan peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang laut.
Prakiraan Cuaca Sepekan ke Depan:
27–29 Mei 2025
Cuaca didominasi berawan hingga hujan ringan, dengan potensi hujan sedang di banyak wilayah, termasuk Sumatera Utara, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Siaga (Hujan lebat–sangat lebat): Aceh dan NTB
Angin Kencang: Aceh, Jawa Barat
30 Mei–2 Juni 2025
Cuaca cenderung cerah berawan, namun hujan intensitas sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Papua.
Siaga (Hujan lebat–sangat lebat): Kep. Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Papua Selatan
Angin Kencang: Kep. Riau
