Ilustrasi - BMKG menyebut bahwa hanya sekitar 11% Zona Musim di wilayah Indonesia yang sudah masuk musim kemarau, 73% lainnya masih di musim hujan. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, hanya sekitar 11 % Zona Musim di wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau, sementara 73% Zona Musim masih berada pada musim , berdasarkan analisis klimatologi terkini pada dasarian II Mei 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Demikian dilansir dari laman resmi BMKG dalam siaran prospek cuaca mingguan periode 23-29 Mei 2025.
Menurut BMKG, dinamika cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia masih menunjukkan pola peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, yang dikenal dengan masa pancaroba. Pada periode ini, umumnya pola cuaca cenderung cerah pada pagi hingga menjelang siang hari, lalu berubah menjadi hujan disertai petir pada sore hingga malam hari.
“Dalam sepekan terakhir, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat telah memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Indonesia. Kejadian tersebut tidak hanya diakibatkan oleh mekanisme konvektivitas lokal yang sering terjadi pada masa peralihan, melainkan juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer berskala lebih luas, diantaranya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin, serta adanya gangguan tropis di barat daya Bengkulu,” demikian pernyataan BMKG.
Saat ini, MJO terpantau aktif secara spasial di wilayah selatan Indonesia dan diprediksi konsisten berada di wilayah tersebut hingga beberapa hari mendatang. Selain itu, gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial juga cenderung persisten berada di sebagian wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan.
“Fenomena-fenomena tersebut berpotensi memberikan pengaruh signifikan dalam memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan, khususnya di bagian selatan dan tengah Indonesia,” kata pihak BMKG.
Mengingat kondisi atmosfer yang masih relatif dinamis dan dapat berubah secara tiba-tiba pada periode ini, masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat sewaktu-waktu terjadi, seperti hujan lebat dengan durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.
BMKG menyampaikan, selama sepekan ke depan, wilayah Indonesia masih dipengaruhi oleh pola peralihan musim yang ditandai dengan perbedaan suhu udara yang signifikan pada pagi hingga siang hari. Proses konvektif yang tinggi pada pagi hingga siang hari akibat intensitas radiasi matahari, menyebabkan pertumbuhan potensi hujan lokal pada sore hingga malam hari.
Selain itu, fenomena MJO diperkirakan konsisten berada di wilayah selatan Indonesia hingga beberapa hari mendatang. Aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin juga diprakirakan masih berpropagasi di wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan.
Disampaikan pihak BMKG bahwa Kombinasi antara MJO, gelombang Kelvin, gelombang Rossby Ekuator, dan gelombang Low Frequency pada wilayah dan periode yang sama diperkirakan aktif di sebagian besar Jawa dan Bali, Laut Jawa, Laut Natuna Utara, Laut China Selatan, Kalimantan Utara bagian utara, Sulawesi bagian tengah dan selatan, Teluk Bone, Maluku, Laut Seram, dan Laut Banda bagian barat, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah tersebut.