KNKT mengungkap kejadian berbahaya saat pilot dan kopilot maskapai Batik Air tidur bareng selama hampir setengah jam dalam penerbangan dari Kendari ke Bandara Soetta. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap kejadian berbahaya saat pilot dan kopilot maskapai Batik Air tidur bareng selama hampir setengah jam dalam penerbangan dari Kendari Sulawesi Tenggara ke Bandara Soekarno-Hatta (Seotta) .
KNKT dalam laporannya menyebutkan, pesawat Batik Air jenis Airbus A320 dengan kode registrasi PK-LUV terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang menuju Bandara Halu Oleo di Kendari, kemudian kembali lagi ke Soetta.
Melansir FlightGlobal, Sabtu (8/3/2024), KNKT mengklasifikasikan insiden ini sebagai pelanggaran serius. Pesawat itu diawaki seorang pilot berusia 32 tahun dan kopilot berusia 28 tahun. Penerbangan pesawat ini memiliki waktu 2 jam 35 menit, sesuai dengan jadwal Batik Air Indonesia. Pesawat ada membawa total 153 penumpang.
Saat pesawat mencapai ketinggian jelajah sekitar pukul 08.37 WIB, kedua awak melepas headset mereka. Kopilot awalnya bertanya kepada pilot apakah dia boleh tertidur. Pilot pun setuju. Pilot mengambil alih penerbangan selama 40 menit berikutnya sebelum rekannya bangun, dan kembali menanyakan apakah dia ingin beristirahat. Sang pilot pun menolak dan melanjutkan tugasnya. Tidak diketahi kapan pilot muda itu memasang kembali headsetnya.
Sekitar pukul 08.43 WIB, pilot yang masih menerbangkan pesawat melakukan kontak awal dengan pengatur lalu lintas udara di bandara. Sesampainya di Kendari, ATC memberitahu bahwa cuacanya di bawah standar dan bandara juga belum buka. Pesawat kemudian bertahan selama 30 menit di udara. Pukul 07.48 waktu lokal, pesawat itu mendarat di Kendari.
Pukul 00.05 UTC atau 07.05 waktu lokal, pesawat itu kembali terbang dari Kendari menuju Jakarta alias penerbangan balik lagi, dengan nomor penerbangan BTK6723. Namun dalam penerbangan kali ini, pilot bertindak sebagai pilot monitoring (PM) dan kopilot yang tadi sudah tidur bertindak sebagai pilot flying (PF).
Pada pukul 00.37 UTC atau 07.37 waktu lokal, kedua pilot itu melepas headset mereka dan pelantang (loudspeaker) kokpit dikencangkan volumenya. Pilot yang tidur itu bangun pukul 01.22 UTC atau 08.22 waktu lokal. Dia menawarkan kopiot barangkali mau tidur juga. Kopilot kemudian menjawab bahwa dia tidak ingin istirahat. Mereka berbincang sekitar 30 detik.
Kopilot sadar bahwa PIC tertidur dan kemudian mengambil alih tugas si pilot itu. Kopilot pada saat itu menjalankan tugas sebagai PF (pilot flying atau yang menerbangkan pesawat) dan PM (pilot monitoring) sekaligus.
Mereka kemudian sempat meminta Pusat Kontrol Area atau Area Control Center (ACC) Makassar untuk terbang menuju 250 derajat. ACC Makassar menginstruksikan pesawat untuk menghubungi ATC Jakarta atau ACC Jakarta.
Pukul 01.43.42 UTC, kopilot readback (prosedur penerbangan membaca kembali) instruksi Area Control Center (ACC) Jakarta. Namun beberapa saat kemudian, kopilot ini tertidur secara tidak sengaja.
Pukul 01.56 UTC atau 12 menit setelah transmisi rekaman terakhir dengan kopilot, ACC Jakarta bertanya kepada pesawat BTK6723 ini mengenai berapa lapa pesawat ini akan terbang pada 250 derajat seperti sekarang. Namun, pilot atau kopilot pesawat BTK6723 ini tidak menjawab.
"Pukul 02.11 UTC atau 28 menit setelah transimisi terakhir terekam dari SIC (kopilot), PIC (pilot) terbangun dari tidur dan sadar bahwa pesawat sudah tidak lagi berada di jalur penerbangan yang benar," tulis KNKT.
Pilot kemudian melihat kopilotnya sudah tidur dan membangunkannya. Pilot lalu memberitahu ACC Jakarta bahwa pesawatnya mengalami masalah radio komunikasi dan saat ini masalah itu sudah beres. Pesawat kemudian terbang dan mendarat di Jakarta dengan lancar.
"Tidak ada yang terluka pada peristiwa ini dan tidak ada kerusakan di pesawat," sebut KNKT.