Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dikabarkan telah menikah dengan sosok yang dikenal sebagai Kiai Mamak atau Lora Mamak. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) —Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tengah ramai diperbincangkan publik. Aktivis sekaligus pemeran panggung tersebut dikabarkan telah menikah dengan sosok yang dikenal sebagai Kiai Mamak atau .
Akun tersebut diketahui merupakan akun resmi milik Ikatan Alumni Annuqayah Putri (IAA Putri). Dalam unggahannya, terlihat sebuah video yang menampilkan seorang perempuan yang disebut sebagai Inayah Wahid tengah duduk di kursi yang menyerupai kursi pengantin.
Di sampingnya tampak seorang pria yang disebut sebagai Lora Mamak. Unggahan itu juga disertai keterangan berisi doa agar keduanya menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, baik di dunia maupun akhirat.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari Ning Inayah Wahid, yang lahir pada 31 Desember 1982, terkait kabar pernikahan tersebut. Lantas, siapa sosok Lora Mamak yang disebut-sebut kini sebagai suami Inayah Wahid?
Dirangkum Erakini, Minggu (5/4/2026), Lora Mamak memiliki nama lengkap KH Muhammad Shalahuddin A Warits. Ia merupakan salah satu tokoh yang cukup dikenal di Jawa Timur, khususnya di wilayah Sumenep, Madura.
Sapaan “Lora” sendiri merupakan gelar kehormatan di kalangan masyarakat Madura untuk menyebut sosok yang dihormati.
Lora Mamak adalah putra keenam dari delapan bersaudara, dari pasangan KH A Warits Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, salah satu pesantren legendaris di Madura.
Dalam dunia politik, Lora Mamak pernah menjabat sebagai Ketua DPC PPP Sumenep. Pada Pilkada Sumenep 2020, namanya sempat muncul sebagai bakal calon bupati, meski akhirnya tidak memperoleh rekomendasi partai.
Dari sisi pendidikan, Lora Mamak merupakan lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia, mengambil jurusan Bahasa Arab.
Sejak masa kuliah di Mesir, ia telah aktif menulis. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia pernah terlibat dalam media mahasiswa bernama Terobosan, di mana ia menempati berbagai posisi, mulai dari reporter, redaktur, hingga pimpinan dan dewan redaksi.
Berbekal pengalaman tersebut serta pengamatannya terhadap dinamika keberagaman, ia kemudian mendirikan media bernama Arus Kampus.