Ketua Umum Para Pemuda Persaudaraan Muslimin (PARMUSI) Usamah Hisyam (tengah) meninggal dunia pada Jumat (19/7/2024) pagi. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua Umum Para Pemuda Persaudaraan Muslimin (PARMUSI) Usamah Hisyam meninggal dunia pada Jumat (19/7/2024) pagi. Usamah Hisyam meninggal setelah berjuang melawan penyakit stroke yang dideritanya selama 3 tahun.
Semasa hidup, Usamah Hisyam dikenal meniti karier sebagai wartawan hingga menjadi salah satu penggerak utama di berbagai organisasi politik dan keagamaan di Tanah Air. Ia belakangan aktif berdakwah setelah menjadi Ketua Umum PARMUSI.
Usamah Hisyam dikenal sebagai wartawan senior Indonesia yang pernah menulis buku biografi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pria kelahiran Surabaya, 14 Mei 1963, ini merupakan lulusan Ilmu Jurnalistik di Sekolah Tinggi Publisistik (STP), saat ini bernama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta).
Diolah dari berbagai sumber, karier kewartawanannya mulai bersinar berawal dari perkenalannya dengan Surya Paloh pada pertengahan tahun 1991. Pertamuan itu membuka jalan bagi Usamah untuk bergabung sebagai Redaktur Edisi Minggu di Media Indonesia, saat itu sedang mengembangkan Kelompok Usaha Surya Persindo.
Dalam kurun waktu empat tahun, Usamah dipercaya menjadi Redaktur Politik dan Keamanan (Polkam), posisi yang strategis dalam menentukan arah berita Harian Media Indonesia saat itu.
Di tengah perjalanannya sebagai wartawan, Usamah tidak hanya meliput dinamika politik, tetapi juga terlibat langsung dalam pembentukan opini publik terhadap Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sebagai speech writer untuk Ketua Umum PPP pada periode 1992-1998, Usamah terlibat dalam merancang pidato-pidato strategis yang memengaruhi pandangan politik masyarakat.
Puncak karier politiknya terjadi saat terpilih sebagai anggota MPR/DPR RI dari Jawa Timur pada Pemilu 1997. Dengan latar belakang yang kuat dalam bidang Politik dan Keamanan, Usamah dipercaya menjadi anggota Komisi I DPR RI, serta menjadi bagian dari Badan Pekerja MPR RI antara tahun 1998 dan 1999.
Setelah meninggalkan dunia legislatif, Usamah terlibat aktif dalam Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) dari 1998 hingga 2003, sebuah platform yang menggalang pemuda untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Keaktifannya di GPK membawanya mendekat dengan tokoh-tokoh politik ternama, termasuk Wakil Presiden RI saat itu, Hamzah Haz.
Pada tahun 2001, ketika Ketua Umum PPP Hamzah Haz menjadi Wakil Presiden, Usamah diangkat sebagai asisten pribadi Hamzah Haz. Tahun 2005 menjadi titik balik bagi karier politiknya ketika ia ditawari untuk memimpin Partai Demokrat Provinsi Banten. Di bawah kepemimpinannya, Partai Demokrat Banten mengalami kemajuan signifikan hingga tahun 2008.
Usamah juga terlibat dalam berbagai konsultasi politik, termasuk menjadi konsultan untuk Jenderal TNI Wiranto dalam mengamankan Partai Hanura melewati Parliamentary Threshold pada Pemilu 2009. Meskipun usahanya berhasil melobi Wiranto menjadi calon wakil presiden, namun hasilnya tidak memenuhi harapan di putaran pertama.
Selama kariernya, Usamah tetap dekat dengan berbagai ormas Islam Indonesia seperti Muhammadiyah dan NU, serta memiliki hubungan yang dinamis dengan tokoh-tokoh politik dari berbagai spektrum.
Meskipun beberapa kali berseberangan pendapat, seperti dalam kasus gugatan terhadap Presiden melalui PTUN terkait penonaktifan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta, Usamah tetap mendukung prinsip demokrasi yang kritis.
Mundurnya dari jabatan Anggota Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 tidak mengurangi keterlibatannya dalam gerakan ini, meskipun ada perbedaan pandangan terkait pemilihan calon presiden.
Usamah tetap aktif dan terus berkontribusi dalam berbagai kapasitasnya, menegaskan komitmennya terhadap nilai-nilai politik dan sosial yang ia yakini.
Sempat menjadi salah satu Ketua PP Parmusi periode 2008-2014, Usamah Hisyam kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Parmusi Periode 2020-2025. Usamah terpilih secara aklamasi dalam Muktamar IV Parmusi yang digelar secara virtual, 26-28 September 2020.