Ketua PBNU Savic Ali (memegang mik) dalam diskusi publik IslamiTalk yang digelar oleh Islami.co di Outlier Cafe, Ciputat, Jakarta, Jumat (7/10/2025). (Foto: PBNU)
TANGERANGSELATAN, (ERAKINI) - Sejumlah tokoh dari berbagai kalangan menyatakan penolakan tegas terhadap wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Penolakan itu mengemuka dalam diskusi publik IslamiTalk yang digelar oleh Islami.co di Outlier Cafe, Ciputat, Jakarta, Jumat (7/10/2025).
Acara tersebut menghadirkan Sejarawan sekaligus Anggota DPR Bonnie Triyana, Budayawan NU Hairus Salim, Aktivis Gen Z NU Lily Faidatin, serta Ketua PBNUSavic Ali. Mereka menilai, warisan kekerasan politik, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan praktik korupsi yang melekat pada rezim Orde Baru menjadikan Soeharto tidak layak untuk mendapat gelar kepahlawanan.
Bonnie Triyana menyebut, wacana menjadikan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan bentuk upaya menciptakan narasi tunggal tentang sejarah dan kekuasaan.
“Soeharto menjadi presiden karena krisis politik, maka dari itu ia butuh sejarah untuk melegitimasi kekuasaannya,” ujar Bonnie.
Ia menjelaskan, pembantaian dan penangkapan massal terhadap pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berlangsung hingga tahun 1969 menjadi bagian dari kekerasan sistematis yang diwariskan rezim Orde Baru.
“Pengangkatan Soeharto bukan soal jasa, tetapi pertarungan memori publik, antara melegitimasi atau mendelegitimasi kelompok tertentu,” kata Bonnie.
Sementara itu, Budayawan Hairus Salim menyoroti strategi politik Orde Baru yang mengebiri peran partai-partai berbasis ideologi, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan PNI.
Menurut Hairus, di masa pemerintahan Soeharto, proses politik di Indonesia berjalan secara formalitas.
“ABRI digunakan untuk memaksa memilih Soeharto. NU yang punya suara dominan tidak pernah bisa menduduki posisi ketua umum PPP karena harus mendapat restu Soeharto,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, hanya kiai yang berpindah ke Golkar yang mendapat ruang politik.
Ketua PBNUSavic Ali juga menegaskan sikap penolakannya. Menurutnya, Orde Baru secara sistematis mengebiri peran NU dalam bidang politik, pendidikan, hingga sosial.
“NU dipaksa melebur ke PPP, dan politik diarahkan hanya satu arah: pro-Golkar,” kata Savic.
Ia mencontohkan pemilu 1971, ketika KH Idham Chalid menggambarkan kondisi politik saat itu dengan perumpamaan.
“Kita disuruh tanding tinju, tapi kedua tangan diikat. Namun suara NU tetap bertahan di 18 persen,” ujarnya.
Savic menilai Soeharto tidak memenuhi kriteria moral maupun etis sebagai pahlawan bangsa.
“Kalau Soeharto dipahlawankan, itu tidak masuk nalar. Legacy-nya banyak yang bermasalah, dan korbannya banyak sekali,” tegasnya.
Menurut Savic, seorang pahlawan sejati adalah mereka yang berkorban untuk orang lain, bukan yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kroninya.
“Pahlawan itu berani mempertaruhkan keselamatan diri untuk orang lain. Soeharto justru sebaliknya,” katanya.