Sentil Pertemuan 5 Pemuda Nahdliyin dengan Presiden Israel, Gus Nadir: Jauh dari Prinsip NU
Abdul Rahman Ahdori







“Tawazun artinya seimbang. Itu sebabnya mereka saat mendapat undangan harus menimbang banyak hal terlebih dahulu, termasuk geo politik dan konflik yang terjadi saat ini. I’tidal artinya tegak lurus pada aturan main, keadilan dan kebenaran. Kita tahu bagaimana Mahkamah Internasional sudah bersikap. Begitu juga kebijakan pemerintah RI soal ini. Jadi yang dilakukan kelima orang itu jauh dari prinsip NU: tawazun dan i’tidal,” kata Gus Nadir dalam keterangan yang ia tulis di akun facebook pribadinya, Senin (15/7/2024).
Awalnya, Gus Nadir menyampaikan bahwa dia sudah mengenal nama kader NU yang berangkat ke Israel untuk menemui Isaac Herzog. Dia juga mengaku sudah tabayun terkait pertemuan yang akhirnya menjadi polemik di kalangan NU.
“Pengakuannya, undangan diatur lewat jaringan alumni Ha*^ard, dan berkenaan dengan akademik dan startup. Dan ini diklaim sebagai kunjungan pribadi, bukan atas nama NU,” ujar Gus Nadir yang juga dosen di salah satu kampus di Australia tersebut.
Lebih lanjut, Gus Nadir tidak yakin apabila pemuda yang disebut aktivis dan cendekiawan itu tidak bawa embel-embel NU. Justru karena ada embel-embel NU itu lah, pihak Israel mengundang para pemuda tersebut. Gus Nadir mengatakan, kelima kader NU itu tidak bisa ngeles lagi, dengan mengatakan bahawa kunjungannya itu atas nama pribadi.
“Mohon maaf atas keterusterangan saya ini: tanpa NU mereka bukan siapa-siapa dan gak bakal masuk radar Israel,” tuturnya.
Selanjutnya, Gus Nadir mengatakan, Presiden Israel hanya simbol seremonial belaka. Dia tidak menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Dengan demikian, alasan para pemuda NU mau berdiskusi soal konflik dengan Isaac Herzog itu menunjukkan ketidakpahaman soal struktur pemerintahan Israel.
Lagipula, kata Gus Nadir, seruan damai Sekjen PBB dan Paus Fransiskus saja diabaikan. Apalagi lima pemuda NU.
“Mereka ini siapa kok merasa bisa mempengaruhi kebijakan Netanyahu. Banyakin ngaca mas - mbak,” ungkapnya.
“Program kunjungan seperti ini sudah lama berjalan bertahun-tahun dan selalu memicu kontroversi. Saran saya mereka yang merasa tokoh/aktivis/ulama sebaiknya menolak undangan semacam ini selama konflik belum usai. Yang untung cuma Is^*el dengan kunjungan dari NU. Mudharatnya lebih banyak,” pungkas Gus Nadir.
