Konferensi pers Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025, di kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Senin (27/10/2025). (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
DEPOK, (ERAKINI) - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) menggelar Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025, sebuah forum global yang mempertemukan para pemikir, ilmuwan, dan dari berbagai negara untuk membahas , etika kecerdasan buatan (AI), serta peran Islam dalam membentuk masa depan yang berkelanjutan.
Konferensi prestisius ini diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, dan telah mencatat partisipasi yang luar biasa: 2.434 abstrak dari 31 negara masuk ke meja panitia. Mengusung tema besar 'Islam, Ekoteologi, dan Transformasi Teknologi: Inovasi Multidisipliner untuk Masa Depan yang Adil dan Berkelanjutan', AICIS+ 2025 menjadi panggung penting bagi kebangkitan pemikiran Islam global yang ilmiah dan solutif.
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Amien Suyitno, AICIS+ bukan sekadar konferensi akademik rutin, melainkan gerakan intelektual global yang meneguhkan kembali peran Islam sebagai sumber nilai, etika, dan solusi bagi krisis kemanusiaan modern.
“Kita tengah menghadapi dua krisis besar dunia sekaligus: krisis spiritual dan krisis ekologis. Melalui AICIS+, Kemenag ingin menunjukkan bahwa Islam dapat hadir dengan solusi yang rasional, berkeadaban, dan selaras dengan nilai kemanusiaan universal,” kata Amien Suyitno.
Ia menyebut bahwa Islam memiliki landasan epistemologis yang kokoh untuk menjawab perubahan zaman, baik melalui nilai ekoteologi yang meneguhkan tanggung jawab manusia terhadap alam, maupun melalui etika teknologi yang memastikan kemajuan digital berpihak pada kemaslahatan. “Islam bukan hanya ajaran spiritual, tetapi juga panduan peradaban. Ia menuntun arah kemajuan ilmu dan teknologi agar tidak kehilangan dimensi moral dan ekologis,” tambahnya.
Adapun AICIS+ 2025 ini menjadi momentum penting bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia untuk menampilkan wajah Islam Indonesia yang progresif dan inklusif di panggung global. “Melalui AICIS+, PTKI menunjukkan kapasitas akademik sekaligus spiritual dalam merespons isu-isu dunia. Dunia harus melihat Islam Indonesia sebagai kekuatan moral dan intelektual yang terbuka terhadap dialog peradaban,” jelas Amien.
Dialog dunia ini menghadirkan 12 pemikir dunia lintas disiplin untuk berdiskusi dengan akademisi Indonesia. Sejumlah topik strategis yang akan dibahas meliputi ekoteologi, feminisme ekologis, ekonomi berkeadilan, dan etika kecerdasan buatan (AI ethics).
AICIS+ merupakan bentuk penyempurnaan dari konferensi Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang telah digelar sejak tahun 2000. Tahun ini, konferensi tersebut hadir dengan wajah baru: huruf “S” pada Studies kini berubah menjadi Science, dan satu “S” tambahan dimaknai sebagai Society.
Amien mengatakan bahwa perubahan ini bukan hanya simbolik, tetapi mencerminkan arah baru Kemenag dalam mendorong integrasi ilmu agama, sains, dan kemasyarakatan. “Kita ingin menggeser paradigma keislaman dari sekadar wacana normatif menjadi praksis yang menjawab kebutuhan zaman. Agama dan sains harus bersinergi untuk kemaslahatan bumi dan umat manusia,” katanya.
Dengan partisipasi peneliti dari puluhan negara, Indonesia siap menjadi episentrum dialog intelektual Islam dunia. AICIS+ diharapkan melahirkan rekomendasi konkret untuk memperkuat riset, kebijakan pendidikan keagamaan, serta kolaborasi internasional di bidang ekoteologi dan teknologi etis.
“Indonesia memiliki kekayaan sosial dan keagamaan yang khas. Melalui AICIS+, kita ingin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban Islam dunia yang moderat, ramah, dan berkomitmen terhadap keberlanjutan,” kata Amien Suyitno.